Puan Maharani dan Hari Buku Nasional

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 17 Mei 2017
Puan Maharani dan Hari Buku Nasional

Salah satu bentuk pembangunan manusia adalah dengan diteguhkannya tradisi literasi. Tradisi literasi itu sendiri adalah satu wujud tradisi yang mengapresiasi dan meyakini bahwa membaca adalah jalan untuk mengembangkan kemajuan diri. Tradisi literasi berkembang saat ditemukannya sebuah huruf-huruf yang memungkinkan kita berkomunikasi tidak sekedar melalui lisan melaikan juga tulisan.

Tradisi literasi adalah tonggak penting dari hadirnya peradaban besar di dunia. Dimana-mana, kita menyaksikan peradaban besar tidak lepas dari penghargaan masyarakatnya atas karya-karya besar yang ditulis oleh para pendahulunya. Yunani Kuno, yang hingga kini tokoh-tokohnya masih kita kenal, adalah salah satu gambaran bagaimana sebuah tulisan, sebuah karya, mampu menunjukkan peradaban besar. Kita mengkajinya hingga kini. Beberapa pengetahuan yang diwariskan hingga kini, betapapun telah banyak digugat oleh perkembangan keilmuan yang tumbuh kini, tetap tak menghilangkan satu ‘respect’ dari umat manusia kini.

Puan Maharani sebagai seorang Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) yang bertugas untuk memberdayakan manusia-manusia Indonesia memiliki peranan penting untu menegaskan tradisi literasi di dalam masyarakat Indonesia. Momen hari buku nasional yang jatuh pada 17 Mei setidaknya adalah satu tanda yang memberi harapan bahwa bangsa ini memiliki penghormatan atas buku.

Tanggal 17 Mei adalah sebuah jejak bahwa bangsa ini telah menetapkan 17 Mei yang sebenarnya adalah hari perpustakan nasional untuk dijadikan pengingat terhadap pentingnya buku bacaan, terhadap pentingnya membaca. Penghargaaan atas pentingnya membaca setidaknya inilah yang harus dipelihara oleh bangsa ini. Dan pemerintah, melalui kemenko PMK, Puan Maharani, memiliki tugas yang penting dalam menggalakkan momentum ini.

Kita berharap momentum ini bukan saja menandai deretan hari-hari besar Indonesia. Melainkan juga menandai pentingnya membaca. Pemerintah dan juga rakyat Indonesia menjadikannya sebagai pengingat bahwa untuk maju, manusia-manusia Indonesia tidak boleh meninggalkan tradisi membaca. Buku-buku adalah jendela pengetahuan. Kita bisa menjadi bangsa besar apabila kita mampu meningkatan SDM kita. Kecintaan membaca adalah pangkal penting dari sebuah peradaban untuk menjadi besar.

Puan Maharani, sebagai bertugas membangun manusia dan kebudayaan, tentu menyadari itu. Tinggal kita menunggu langkah-langkah konkrit bagaimana dia berbuat atau bekerja menciptakan momentum ini sebagai langkah penting untuk menggugah kesadaran membaca dari bangsa ini.

  • view 28