Dua Strategi Puan Maharani Hindari Radikalisme

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 12 Mei 2017
Dua Strategi Puan Maharani Hindari Radikalisme

Apa saja dua hal itu?

Pertama, sekolah-sekolah berbasis agama harus ditambahkan kurikulum atau materi kebangsaan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita tahu sekolah-sekolah swasta berbasis agama tidak sedikit jumlahnya. Sekolah-sekolah semacam ini biasanya diselenggarakan di lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan pesantren.

Pengajaran di bawah naungan pesantren sangat besar pengaruhnya di masyarakat utamanya di daerah pedesaan. Selain karena pendidikan di pesantren menyediakan layanan pendidikan yang tidak terlalu mahal, ketokohan kiai juga memiliki peranan penting sebagai ikon yang membuat masyarakat tertarik untuk menitipkan anak-anaknya di lembaga atau pesantren.

Apabila pendidikan keagamaan yang sangat besar jumlahnya ini tidak diimbangi dengan penguatan materi kebangsaan dan Pancasila, maka kesadaran sebagai bangsa Indonesia tidak akan terbangun. Mereka tidak akan memiliki kepedulian yang tinggi perhatiannya atas kebangsaan. Rasa persaudaraan atas saudara sebangsa akan kurang. Mereka akan cenderung melupakan sejarah. Mereka akan melupakan bagaimana perjuangan kemerdekaan ini direbut oleh kerjasama dan solidaritas kebangsaan yang tinggi. Itu yang dipertimbangkan oleh Puan Maharani.

Lebih dari itu, manakala kesadaran sebagai bangsa terpinggirkan, maka identitas agama atau persaudaran seagama Islam yang justru menguat. Bila situasi ini yang menguat, maka siapa-siapa yang di luar Islam adalah yang lain, the others. Yang lain adalah kata yang memiliki implikasi psikologis: suasana kesadaran yang sempit untuk menerima seseorang di luar (imajinasi identitas) kita.

***

Kedua, sekolah-sekolah berbasis pendidikan umum juga harus memperkuat dirinya dengan pengetahuan agama. Pengetahuan agama bagi sekolah berbasis pendidikan umum penting untuk menanamkan nilai-nilai moral yang berbasis agama. Pengajaran agama berpotensi besar dalam menjaga, membimbing dan mengarahkan pada pembentukan sikap dan perilaku para pelajar.

Di kota-kota besar, kita bisa menyaksikan banyak pelajar yang seringkali sikap dan perilaku kurang terkontrol. Fenomena-fenomena kekerasan antar pelajar, tawuran, minum-minuman atau hubungan di luar nikah adalah contoh-contoh suatu keberadaan pendidikan yang kian jauh dari moralitas. Padahal arti pendidikan bukan semata-mata untuk mengenyangkan otak atau pikiran dengan berbagai pengetahuan. Lebih dari itu, adalah menjaga kualitas budi pekerti. Itulah yang penting. Ungkapan budi pekerti jauh lebih penting daripada kecerdasan berlaku dalam konteks ini.

Tetapi lebih dari itu, mengapa pendidikan umum penting untuk diperhatikan pendidikan agamanya adalah demi memastikan bahwa pendidikan agama yang mereka peroleh adalah pendidikan agama yang ramah atas kemanusiaan. Pengajaran agama yang benar di sekolah-sekolah umum ini penting untuk menghindarkan para pelajar dari berbagai aliran keagamaan yang cenderung fanatik dan eksklusif. Pendidikan keagamaan yang seperti ini cenderung mengarahkan mereka pada sikap yang tertutup atas kenyataan-kenyataan di luar. Akibatnya, mereka menganggap apa-apa yang di luar tidak sesuai dengan keyakinannya. Lebih jauh, sikap-sikap itu akan melahirkan perasaan antipati.

Kita banyak menyaksikan bahwa banyak gerakan-gerakan radikal bermunculan dan menjamur di perguruan-perguruan tinggi umum. Sebab rata-rata mahasiswa yang masuk di perguruan tinggi itu adalah berasal dari kalangan pelajar berbasis pendidikan umum yang sedikit sekali pengajaran agamanya. Sekalinya bertemu dengan gerakan atau paham keagamaan di kampus, mereka bertemu dengan paham keagamaan yang radikal. Tanpa bekal keilmuan keagamaan yang ramah atas kemanusiaan, mereka akan mudah terjebak pada sikap-sikap yang intoleran.

Itulah alasan Puan Maharani terkait dua alasan di atas.

  • view 43