Arti Menjadi Puan Maharani?

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 12 Mei 2017
Arti Menjadi Puan Maharani?

Menjadi Puan Maharani adalah menjadi orang penting di negeri ini. Setidaknya jabatan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) terbilang ‘istimewa’. Kementerian koordinator ini membawahi sejumlah kementerian yang terkesan ‘wah’.

CNN Indonesia (12/08/2015) di bawah tajuk “Hanya Puan Menteri Koordinator yang Selamat dari Reshuffle” menulis mengenai posisi ini:

“Jabatan sebagai menko yang membawahi sejumlah kementerian memang terkesan wah. Hanya mereka yang memiliki kemampuan dan kapasitas yang layak menempati posisi itu. Bagi Jokowi, Puan adalah panglima politik yang pantas menduduki posisi strategis sebagai Menko”.

Kekaguman yang diwakili dengan kata ‘wah’ menandai bahwa memang segelintir orang yang mungkin untuk menduduki posisi itu. Menduduki posisi itu bukan semata-mata karena Puan memiliki garis yang secara politik menguntungkannya. Sebab dia dari garis politisi tenar, Megawati, atau dari seorang kakek yang pendiri republik ini, Soekarno. Fakta itu memang tak bisa disepelekan pengaruhnya. Sebagai Puan, dia tak pernah memilih dari garis keturunan siapa dia harus lahir. Dan kita pun tak perlu memperdebatkan itu. Sebaiknya fakta yang lebih bisa berbicara dikemukakan di sini. Apa fakta itu tentu saja soal prestasi Puan Maharani.

Menduduki posisi ini dilihat bukan saja dari garis politik atau keberuntungan lainnya. Ini soal bagaimana kita menempatkan diri kita dalam semangat dan usaha yang sungguh-sungguh, bekerja dengan baik. Muaranya pada prestasi kita.

Faktanya, Puan bisa menduduki posisi jabatan kemenko PMK ini. Faktanya, Puan bisa bekerja dengan baik (meskipun masih dinilai kurang maksimal 33 persen publik). Faktanya, Puan satu-satunya yang bertahan di posisi kemenko saat ketiga menko yang lain direshuffle oleh presiden. Dan fakta-fakta ini, mau tidak mau, tidak bisa dilepaskan dari alasan yang urgen: Puan memang punya kemampuan. Puan memang punya kapasitas. Kecuali kita berpikiran melulu buruk, maka alasan yang mungkin: karena Puan anaknya Megawati, alasan lawas yang hanya relevan di negara tak demokratis.

Dalam suatu kesempatan Jokowi mengakui kapasitas Puan Maharani. Dia mengatakan bahwa Puan Maharani memiliki kekayaan pengalaman dan kapasitas yang pantas untuk ditunjuk dan dipertahankan dalam kementerian yang dia jabat. “Puan Maharani. Kita tahu ibu Puan politisi, kaya pengalaman, panglima politik tahun 2014. Selain itu, pengalaman dalam kegiatan sosial dan rakyat kecil”, sebut Jokowi. (CNN Indonesia, 12/08/2015).

Kalangan surveyor, semisal SMRC, juga telah menegaskan beberapa hal tentang Puan Maharani. Dia menyebutkan tiga kementerian sebagai teratas berkinerja baik. Diantaranya: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag). (pojoksatu.id, 25 Oktober 2016). Faktanya, dua kementerian terakhir (Kemendikbud dan Kemenag) berada di bawah koordinasi Menko PMK yang ditangani Puan Maharani. Gerak dan kinerjanya berada dalam koordinasi dengan Menko PMK. Sayangnya, bagian fakta-fakta ini tidak banyak digali.

Yang patut kita ketahui, kemenko PMK ini membawahi beberapa kementerian, diantaranya: (1) Kementerian Agama; (2) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; (3) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi; (4) Kementerian Kesehatan; (5) Kementerian Sosial; (6) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; (7) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; (8) Kementerian Pemuda dan Olahraga; dan (9) instansi lain yang dianggap perlu. (https://www.kemenkopmk.go.id/kedudukan-tugas-dan-fungsi). 

Sekali lagi, hanya karena Puan Maharani anak dari seorang Megawati yang ketokohannya dikenal luas, lalu kita mereduksi kapasitas, peran dan capaian Puan Maharani. Dan pemberitaan seputar reshuffle, dimana Puan tak tergantikan, telah menggiring publik pada pikiran-pikiran yang mencurigai: bahwa Puan tidak diganti karena ada Megawati. Pemberitaan semacam ini terlampau menyederhanakan dan rasanya perlu perimbangan pemberitaan dengan berusaha menggali lebih jauh sosok Puan Maharani yang lebih banyak tak tersoroti kecuali bagian-bagian yang tak ‘asik’.

  • view 36