Gurauan 'Asyik' Puan Maharani

Gurauan 'Asyik' Puan Maharani

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 09 Mei 2017
Gurauan 'Asyik' Puan Maharani

Kata-kata suatu kali memilih jalannya sendiri untuk memberi hiburan. Dia keluar dari jalur resmi yang tunduk pada pengekangan standarisasi arti dan kegunaan. Bila kegunaan sebuah kata atau bahasa adalah medium komunikasi, kita seringkali mendapati kata-kata bisa berdiri di luar itu. Ia tak harus berada terus di jalur itu. Dan ia tak perlu dikutuk karena di luar jalur itu.

Suatu kali, kita menemukan kata-kata sebagai sebuah hiburan dalam gurauan Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dia mengungkapkannya dalam pidato sambutannya di acara rakernas Fatayat NU. Melalui gurauan kata itu, Puan berhasil mengundang gelak tawa. Setidaknya ia telah membebaskan hadirin dari penat keseriusan bahasa.

Apa kata yang ditangan Puan Maharani mengundang gelak tawa saat itu? Tak lain adalah kata ‘jomblo’. Suasana psikologis dari kata itu sesungguhnya bukanlah mengandung suasana yang menyenangkan. Kata itu cukup modern dan merupakan kosa kata keseharian yang mewakili makna tiadanya suatu hubungan khusus dari seorang pemuda dan pemudi, remaja dan remaj(i), atau anak laki-laki dan perempuan. Jomblo adalah kata yang menunjukkan bahwa seseorang – entah anak laki atau perempuan – sedang dalam keadaan sendiri. Ia seorang diri. Tidak memiliki ikatan sebuah cinta kasih (dalam konteks pacaran) dengan  orang lain.

Kata – itu seharusnya – jika mengacu pada makna yang sebenarnya dan diisyaratkan untuk itu, tentu tidak menyenangkan dan mengganggu. Tapi Puan Maharani dalam sambutan itu tidak mengisinya dengan suasana dan ketepatan kata itu seperti biasanya. Ia hanya digunakan untuk atau sebagai sebuah gurauan asik. “Makanya dari tadi semangat terus, sebab dikelilingi perempuan terus. Batasannya kan dari yang muda sampai yang setengah tua, saya yakin di sini masih ada yang belum bersuami. Ini kode”, ucap Puan dengan nada bercanda. Hadirin tertawa dan juga yang menjadi target dari gurauannya.

Kata atau gurauan itu ditujukan kepada Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran. Dan saat sang Gubernur menyadari ia mendapat gurauan itu, ia turut, sekali lagi, tertawa bersama hadirin. Dia tidak marah. Justru gurauan itu menjadi pencair suasana yang semula letih.

Apakah sang Gubernur benar-benar dalam keadaan persis sebagaimana gurauan Puan? Dibutuhkan pendalaman informasi untuk itu. Tapi yang demikianlah –  tepat atau tidak info mengenai kejombloan sang Gubernur, tak begitu penting. Sebagai sebuah gurauan, kata itu selamanya untuk menimbulkan kelucuan dan meningkatkan semangat para pendengar untuk menyimak. Dan sejauh definisi itu, Puan berhasil dalam membawa hadirin kedalam suasana yang terhibur.

  • view 74