Saat Puan Meyakini Perempuan Fondasi Keutuhan NKRI

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 09 Mei 2017
Saat Puan Meyakini Perempuan Fondasi Keutuhan NKRI

Adakah yang perlu ditanyakan soal keyakinan Puan Maharani itu?

Barangkali tidak. Tetapi kita mesti menempatkan ungkapan itu dalam terang penjelasan apa yang dimaksudkan dalam pidatonya di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Fatayat NU itu.

Pertama-tama, Puan Maharani meyakini bahwa perempuan adalah fondasii keutuhan NKRI. Ungkapan tersebut dengan tegas dilontarkan dan lengkapnya seperti ini: “Perempuan harus menjadi benteng serta tiang yang kokoh untuk negara. Perempuan harus mampu menjadi fondasi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. Ungkapan ini jelas dan tak ada yang tersembunyi. Puan meyakini bahwa posisi dan kiprah perempuan sangatlah penting. Dengan menegaskan bahwa perempuan diyakini sebagai ‘benteng’ dan ‘tiang’ yang kokoh bagi negara, itu setidaknya kita perlu meyakini bila hal sebaliknya yang terjadi, bahwa perempuan tidak menjadi benteng dan tiang yang kokoh bagi negara, maka negara berpotensi hancur.

Puan Maharani sendiri memang membawahi kementerian yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan yakni Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa). Sebagai kemenko PMK, dia bersinergi dan berkoordinasi dengan kemenpppa untuk memastikan program-program guna meningkatkan perempuan berjalan dengan baik. Dia memiliki data-data yang penting tentang perempuan-perempuan di Indonesia.

Dia meyakini bahwa posisi dan keberimbangan antara laki-laki dan perempuan adalah faktor penting bagi sebuah kemajuan suatu bangsa. Rumah tangga atau keluarga yang secara inti ditandai dengan keberadaan ayah dan ibu dan anak adalah unit sosial terkecil di dalam masyarakat yang berguna untuk memastikan tersosialisasinya nilai-nilai dan norma masyarakat. Ayah dan ibu adalah guru bagi anak-anaknya.

Penulis ingat, ada pandangan tentang pembagian peran dalam keluarga. Gambaran yang – kelak dianggap – konservatif dan banyak mendapat kritik adalah ‘fungsionalisme struktural’. Pandangan ini meyakini bahwa idealnya kaum lelaki (suami) adalah mencari nafkah buat istri (kaum perempuan) dan rumah tangganya. Sementara tugas istri (perempuan) adalah mengurusi segala hal yang berkaitan dengan internal urusan rumah tangga saat sang suami mencari nafkah. Termasuk dalam hal ini adalah mendidik anak. Tentu Puan tidak membenarkan posisi ini. Dia menginginkan kerjasama antara suami dan istri, “bagaikan dua sayap burung. Harus bekerja sama antara laki-laki dan perempuan”.  

Terlepas kontroversialnya teori ini, namun satu hal bahwa perempuan dalam teori ini begitu penting. Karena pendidikan – terutama berlangsung di dalam internal keluarga. Manakala suami disibukkan dengan mencari nafkah, sesungguhnya di sinilah kiprah penting seorang perempuan yakni memastikan pendidikan bagi anak-anaknya, generasi muda, berjalan dengan baik. Dalam konteks ini, semakin relevan kelanjutan dari penegasan Puan Maharani bahwa, yang kedua, “..kaum perempuan dituntut memiliki keilmuan dan akhlak serta perilaku yang baik sehingga semakin mampu memberikan manfaat yang besar untuk bangsa”. Dengan mendapatkan pendidikan yang baik maka besar pula kemungkinan untuk lahirnya generasi-generasi sadar pendidikan.

  • view 29