FATAYAT NU DAN HARAPAN PUAN ATAS GERAKAN PEREMPUAN

FATAYAT NU DAN HARAPAN PUAN ATAS GERAKAN PEREMPUAN

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 05 Mei 2017
FATAYAT NU DAN HARAPAN PUAN ATAS GERAKAN PEREMPUAN

Telah pernah disinggung Fatayat NU adalah gerakan atau kumpulan kaum perempuan yang usianya 25-40 tahun. Juga telah pernah disinggung bahwa peran penting dan strategis dari gerakan ini adalah membangun peradaban luhur suatu bangsa ke depan. Apa yang disebut luhur tak lain sesuai dengan apa yang menjadi kebaikan bersama, cita-cita bersama yang telah dimulai sejak founding fathers dan terutama mengisi kemerdekaan ini untuk menciptakan kesejahteraan bagi kemajuan bangsa ini.

Telah juga disinggung bahwa gerakan Fatayat NU – sebagai bagian dari NU – mengembangkan visi dan misi yang diemban oleh NU. Berarti keislaman yang berwajah nusantara dan yang ramah terhadap seluruh penghuni negara sepanjang Sabang sampai Merauke. Berarti pula mengembangkan dan mengampanyekan keagamaan yang tidak gampang menjustifikasi kafir kepada agama-agama lain dan menggalakkan sikap-sikap yang lebih terbuka atas kemajuan.

Telah juga disinggung bahwa perhatian Fatayat NU terutama sebagai gerakan perempuan. Itu berarti gerakan ini mengambil spesifik yang berorientasi pada kemajuan-kemajuan perempuan – tentu tidak berarti menutup mata pada bidang-bidang di luar perempuan. Berarti pula gerakan ini bisa menjadi partner pemerintah dalam turut serta memandang, menyoroti dan memberi perhatian sebesar-besarnya atas persoalan perempuan khususnya di Indonesia.

Sejalan dengan pikiran atau cita-cita ini, Puan Maharani mengungkapkan bahwa peranan kaum perempuan memang sangat penting. Di dalam kehidupan rumah tangga, perempuan adalah aktor penting di balik keberhasilan seorang suami, juga keberhasilan membangun rumah tangga yang harmonis. Kita tahu pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan pertama yang penting bagi kemajuan anak-anak generasi bangsa. Suami dan istri adalah dua aktor penting yang harus bertindak sinergis dalam membangun rumah tangga. Keterdidikan atau keterpelajaran keduanya sangat penting dalam hal ini. Prasyarat penting bagi keduanya adalah mereka terdidik. Sehingga keduanya mampu mewariskan pola-pola sikap dan perilaku yang mencerahkan bagi anak-anaknya.

Kondisi ini secara tidak langsung bahwa perempuan – yang seringkali diposisikan tidak penting dalam pendidikan – perlu dan penting sekali untuk memperoleh pendidikan yang layak sebagaimana kaum lelaki. Jika dulu ada ungkapan – yang barangkali hingga kini masih menguat di kampung-kampung – bahwa perempuan tidak perlu tinggi-tinggi sekolahnya karena tidak perlu jadi guru, ungkapan itu sudah usang. Mereka – kaum perempuan – tetaplah guru bagi anak-anaknya. Pendidikan yang dimiliki oleh seorang perempuan memang tidak harus selalu mengandaikan bahwa perempuan harus jadi guru. Tetapi tanpa menjadi guru sekalipun, mereka perlu berpendidikan. Mereka adalah ibu dari anak-anaknya. Mereka adalah guru bagi generasi berikutnya.

“Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya”, ungkap Puan Maharani dalam rakernas Fatayat NU 2017. Ungkapan itu diperkuat lagi: “jika ibu mempersiapkan mereka (anak-anak) dengan baik maka ibu telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat”. Generasi-generasi muda yang tumbuh tanpa diperkuat dan dididik oleh seorang ibu dengan baik besar kemungkinan menjadi generasi muda yang kurang bisa diharapkan. Ibu atau perempuan mampu menghadirkan pendidikan yang penuh kasih sayang. Ibu, perlambang dari kelembutan, mampu menyuguhi anak-anaknya pendidikan yang dipenuhi dengan kelembutan. Ini tidak berarti sedang membuat sebuah citra gender bahwa laki-laki keras dan perempuan lembut. Tidak. Tetapi kita bisa menyaksikan bagaimana perlakuan yang umum antara laki-laki dan perempuan dalam mendidikan mencerminkan karakter itu. Perempuan memiliki ketelatenan dan kesabaran yang lebih tinggi.

Dengan demikian, jika ibu atau perempuan, yang memiliki sikap-sikap seperti di atas diperkuat pula wawasan pengetahuannya, maka besar harapan bangsa ini akan lahirnya generasi-generasi muda yang berpendidikan, berpengetahuan luas dan juga memiliki perasaan yang lembut, yang cinta dan penuh kasih sayang. Dalam kesempatan yang lain bahkan Puan mengatakan: “perempuan adalah tiang negara, jika perempuannya baik maka baiklah negaranya dan jika perempuannya rusak maka hancurlah negaranya”.

Puan Maharani benar. Itu sebabnya Fatayat NU haruslah terus menjadi pendidik bagi kaum perempuan.

  • view 66