Puan Maharani; Sinergi Pemerintah dan PBNU Jaga Bangsa

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 04 Mei 2017
Puan Maharani; Sinergi Pemerintah dan PBNU Jaga Bangsa

Prinsip kedaulatan rakyat berlaku di sini ketika kita sadar negeri ini tidak direbut sekedar oleh darah juang kelompok elit melainkan oleh seluruh lapisan rakyat yang ingin melepaskan diri dari belenggu perbudakan akibat kebijakan pemerintah kolonial Belanda.

Memang sebaik apapun pemerintah kolonial Belanda memberi harapan untuk kebaikan negeri ini, namanya penjajah dan yang terjajah selamanya tidak akan bertemu. Kepentingan si penjajah dan yang terjajah tak kan pernah bertemu. Tan Malaka pernah bilang dengan analogi penjajah sebagai maling dan yang terjajah sebagai tuan rumah. Bagaimana mungkin si Maling dan tuan rumah bisa duduk satu meja untuk bernegosiasi? Maling selamanya maling yang inginkan harta tuan rumah.

Dan saat kita menyadari itu, kita tak mungkin mengabaikan posisi dan peranan lapisan sosial di luar pemerintahan. Maka ketika pemerintah memilih menggandeng PBNU, representasi organisasi islam yang jumlahnya begitu besar di tanah nusantara ini, adalah bagian dari merangkul rakyat. Meskipun memang juga perlu dilakukan oleh pemerintah untuk merangkul organisasi-organisasi yang lainnya yang jelas memiliki loyalitas yang tinggi untuk berkomitmen menjaga dan memajukan bangsa ini.

Mengapa menjaga dan memajukan bangsa ini membutuhkan mereka? Sebab sebagaimana diungkapkan oleh Puan Maharani, bangsa ini tidak berdiri sendiri. Tidak dibangun oleh elit sendirian. Rakyat, dengan segala kemampuannya, telah berkontribusi untuk besarnya bangsa ini. "Karakter bangsa ini kita bangun bersama melibatkan semua elemen bangsa, tidak hanya oleh pemerintah tetapi semua pihak termasuk PBNU", ungkap Puan Maharani (3/5/2017).

Menjaga bangsa ini tidak mungkin bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah. Menggandeng PBNU, atau mungkin nanti organisasi-organisasi lainnya, bukanlah langkah yang buru-buru dan pertimbangan yang tidak matang. Pembicaraan mengenai kerjasama ini telah dipikirkan dan dipertimbangkan jauh-jauh hari. Puan menegaskan bahwa: “sejak awal kita sudah pikirkan untuk melakukan langkah kerjasama, saling mendukung dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang berkarakter baik dan berahlak baik”.

Pemerintah meyakini, setidaknya itu yang disampaikan oleh Puan, bahwa dukungan dari semua pihak akan memudahkan langkah pemerintah dalam menjaga bangsa ini. Keterlibatan mereka adalah cara yang tepat untuk menguatkan kebangsaan ini.

Membangun karakter (character building) adalah bagian besar yang digemakan oleh Soekarno. Ia menyadari setelah ratusan tahun negeri ini dijajah oleh pemerintah kolonial, ada banyak hal berharga yang direbut dari bangsa ini. Bukan sekedar kekayaan alamnya. Tapi  mentalitas kebudayaan yang seharusnya diwariskan oleh para pendahulu kita telah mengalami peminggiran. Sejarah kejayaan para pendahulu telah ditaklukkan oleh kehadiran kolonial Belanda. Mentalitas bangsa ini ditundukkan. Dalam banyak hal, bangsa ini tidak bisa berkutik. Hingga suatu saat sebuah perlawanan melalui tulisan, melalui kata-kata, bertebaran menaburkan benih-benih kesadaran untuk merdeka. Kata yang lantang itu pada akhirnya diteriakkan lebih kuat lagi pada 17 Agustus 1945.

Tapi kita meyakini karakter bangsa ini yang terenggut, mentalitas sebagai kaum terjajah yang ditundukkan, tidaklah gampang terobati. Butuh waktu. Butuh banyak tenaga. Butuh kesadaran dari tokoh-tokoh masyarakat dan organisasi-organisasi yang besar pengaruhnya untuk memulihkan itu semua.

Maka, sinergi dengan tokoh-tokoh atau organisasi besar di luar pemerintah, seperti PBNU, adalah sinergisitas yang baik. Puan Maharani telah menyampaikan dengan sungguh-sungguh. Mari kita dengar dan lakukan.

  • view 31