Puan Maharani Berbicara Pemerataan Bantuan KIP di Pesantren

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 04 Mei 2017
Puan Maharani Berbicara Pemerataan Bantuan KIP di Pesantren

Apa yang dilakukan pemerintah dalam menggandeng Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) tidak berhenti pada sekedar bagaimana meneguhkan pemantapan wawasan kebangsaan dan semangat toleransi yang dilakukan melalui penguatan pendidikan pancasila. Melainkan juga dengan cara pemerintah memberi bantuan kepada para santri berupa kartu Indonesia pintar (KIP).

Agenda pemberian kartu tersebut merupakan bagian dari agenda besar pemerintah untuk menguatkan pendidikan berbasis penguatan karakter. Seperti telah disinggung dalam tulisan-tulisan yang lain bahwa tujuan dari menggandeng PBNU tak lain karena melihat organisasi ini memiliki keanggotaan dan pengaruh yang cukup besar bagi umat Islam Indonesia. Organisasi ini berhasil merawat dan melestarikan kemajemukan ini tanpa ternodai dengan persoalan identitas keagamaan, rasial dan sentimen kelompok lainnya. Organisasi berhasil mengelola kemajemukan ini sebagai sesuatu – meminjam istilah Nurcholish Madjid – sunnatullah.

Pemberian kartu Indonesia pintar (KIP) kepada santri adalah upaya pemerataan dalam distribusi kesejahteraan pendidikan. Dalam istilah Puan Maharani, contoh pemberian KIP adalah sinergisitas dalam kesejahteraan. Seperti kata dia di Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017): "Sinergi yang harus kita lakukan bersama berkaitan dengan Kesejahteraan apakah nanti contohnya KIP dapat masuk untuk anak-anak pesantren”.

Santri adalah aset masa depan bangsa. Mereka adalah orang-orang terpelajar yang sangat diharapkan untuk hari depan bangsa Indonesia. Bila menilik sejarah, kaum santri adalah bagian dari orang-orang yang turut angkat senjata dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka, di bawah komando para kiai, rela hidup matinya demi sebuah jihad kemerdekaan.

Di era sekarang, kaum-kaum cendekiawan muslim yang pemikirannya turut mewarnai khazanah pemikiran yang menyejukkan bagi bangsa Indonesia, pemikiran yang mengusung kemajemukan, semangat persatuan dan keagamaan yang ramah terhadap perbedaan-perbedaan, banyak dikawal oleh cendekiawan yang berasal dari latar belakang santri. Ini tidak berarti meminggirkan mereka, yang non-santri. Tapi faktanya begitu. Jumlah mereka yang begitu besar turut berkontribusi besar. Bahkan presiden hingga meresmikan hari santri nasional. Ini penanda bahwa santri, dalam lintasan sejarah Indonesia, memiliki kontribusi yang tak kecil.

Apa yang dilakukan oleh Puan Maharani dengan memberikan bantuan kepada para santri adalah langkah yang mencerminkan kesadaran dan pengetahuan sejarah tentang semangat kaum santri. Mereka adalah terpelajar. Dan demi mendukung efektifitas dari peningkatan proses belajarnya, KIP adalah langkah yang sangat membantu. Kita menyadari bahwa kalangan santri tak sedikit yang berasal dari masyarakat kebanyakan yang pendapatannya tidaklah begitu besar. Bahkan mereka para santri yang tinggal di pesantren-pesantren kebanyakan adalah anak para petani yang tingkat kesejahteraan hidupnya perlu mendapat perhatian dari pemerintah.

Bukan sekedar pendidikannya. Persoalan lain, semisal pelayanan kesehatan santri di pesantren, juga sangat butuh diperhatikan. Segi-segi kesehatan di pesantren memang seringkali kurang mendapat perhatian. Kesadaran santri terhadap kesehatan tidak terlalu besar. Setidaknya itu yang saya alami. Sebab itu, bila pemerintah juga berkenan memberikan pelayanan kesehatan di pesantren itu adalah langkah yang tepat. Dengan begitu, kultur dan kesadaran akan kesehatan akan perlahan-lahan terbangun.

Seperti ungkapan Puan, “...pendidikan itu harus sehat rohani dan jasmani". Itu sebabnya penting menjaga kesehatan demi efektifitas para santri dalam menempuh pendidikan.

Kita berharap Puan Maharani sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) terus menggalakkan usaha-usaha pembangunan dan pemberdayaan manusia. Kekayaan Indonesia bukan sekedar dilihat dari aspek-aspek pembangunan atau kekayaan alamnya, tapi juga kemampuan dan kekayaan SDM-nya. Kekayaan manusianya adalah kekayaan yang luar biasa.

Galakkan itu, bu Puan Maharani.

  • view 25