Langkah (Tepat) Puan Maharani Gandeng NU Demi Pendidikan Toleransi

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 03 Mei 2017
Langkah (Tepat) Puan Maharani Gandeng NU Demi Pendidikan Toleransi

Ramai-ramai merayakan ‘hari pendidikan nasional’ (disingkat hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei kemarin. Apa yang dirayakan tak lain adalah hadirnya kemajuan dari segala bidang utamanya pendidikan yang berbasis memajukan karakter bangsa. Mengapa kita seolah memisahkan pendidikan karakter dari capaian di bidang-bidang lainnya? Tak berarti ini mengesampingkan capaian lainnya, tetapi mengingat karakter muaranya pada pembentukan sikap dan perilaku manusia. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang berorientasi pada keluhuran budi pekerti, kesadaran akan tanggung jawab sosialnya, dan penguatan norma-norma moral lainnya.

Mungkin pendidikan karakter juga bisa diserupakan dengan pemilahan kecerdasan dalam bukunya Ary Ginanjar: pemilahan antara IQ (Kecerdasan Intelektual), EQ (Kecerdasan Emosi), dan SQ (Kecerdasan Spiritual). Kecerdasan intelektual atau juga sering disepadankan dengan hard skill. Sedangkan kecerdasan emosional sering pula disepadankan dengan soft skill. Penguatan kecerdasan jauh lebih penting ketimbang kecerdasan intelektual. Sebab kecerdasan ini menyangkut kepercayaan diri, keberanian, pengambilan keputusan, dan serangkaian proses keteguhan mentalitas. Ini tidak berarti mengurangi posisi kecerdasan intelektual ke ranah yang tidak penting.

Dalam konteks kebangsaan hari ini, pendidikan berbasis karakter adalah sesuatu yang mendesak. Sebab pendidikan karakter menyediakan konsep-konsep pendidikan yang berfungsi meneguhkan kesadaran identitas kebangsaan di tengah arus globalisasi, meneguhkan kepercayaan diri sebagai bangsa di tengah kedigdayaan negara-negara tetangga, menguatkan praktik-praktik toleransi di bawah bayang-bayang ketegangan akibat kontestasi politik yang telah menyasar berbagai isu termasuk isu agama dan rasial, serta merenggangkan kohesi-kohesi sosial.

Langkah yang diambil oleh Puan Maharani adalah langkah yang tepat dalam konteks ini. Dia membaca situasi intoleransi ke dalam batas-batas yang kian gawat. Kian gampang dan mudah orang memandang dan menilai kelompok lain sebagai tidak baik dan semacamnya. Kian tak sungkan-sungkan lagi pidato-pidato di rumah-rumah ibadah yang kadang menyulut kebencian.

Itu sebabnya Puan Maharani (sekali lagi sebagai langkah yang tepat) menggandeng salah satu organisasi masyarakat berbasis islam yang terbesar di Indonesia untuk menggalakkan pendidikan toleransi. Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj.

Pada saat penandatanganan MoU antara kemenko PMK dengan PBNU (3 Mei 2017), Puan Maharani menegaskan bahwa intoleransi sudah merambah semua lapisan. Apa yang perlu dilakukan tak lain “...menanamkan kembali Pancasila pada dunia pendidikan formal dan pesantren".

Puan Maharani memilih NU diperkuat alasan-alasan yang kuat. Selama ini, NU adalah organisasi berbasis keagamaan Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini memiliki keanggotaan baik yang benar-benar besar jumlahnya yang tersebar di Indonesia. Keanggotaan ini memungkinkan ketersebarannya secara cepat pendidikan-pendidikan yang digalakkan oleh NU.

Kedua, organisasi ini juga dikenal sebagai organisasi yang konsistensi menyuarakan persoalan-persoalan pluralisme dan toleransi. Saat di DKI begitu menguat politik identitas, berbagai identitas etnis, agama atau kelompok-kelompok dieksploitasi demi meraup kemenangan, NU memilih untuk menyuarakan suara-suara yang mencerminkan sikap yang moderat, toleran dan tetap mengawal kebangsaan agar tak retak.

Dengan demikian, menarik ditunggu langkah yang diambil oleh Puan Maharani bersama organisasi NU dalam menggalakkan pendidikan toleransi.

  • view 26