Puan Maharani: Pulanglah!

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Politik
dipublikasikan 27 April 2017
Puan Maharani: Pulanglah!

Puan Maharani punya kepedulian yang tinggi. Bukan semata-mata karena dia pejabat publik, melainkan perasaan atau kepekaan kemanusiaannya untuk membantu orang lain. Kepekaan kemanusiaan memang sesuatu yang manusiawi. Tapi seseorang bisa saja kehilangan kepekaan atau perasaan kemanusiaannya bila tidak ada kesungguhan dalam hati untuk mencintai manusia lain.

Puan Maharani dalam kunjungan kerjanya ke Arab Saudi telah membuktikan itu. Kita tahu dari beberapa surat kabar yang beredar, baru-baru ini pemerintah Arab Saudi memberikan amnesti ketenagakerjaan untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI). Menanggapi persoalan itu, Puan segera menghimbau dan mengajak para TKI yang bermasalah di Arab Saudi untuk segera pulang ke Indonesia.

Puan memikirkan nasib mereka. Betapa sedihnya mereka hidup di negeri orang dalam kehidupan yang tak menentu. Mereka terpisah dari keluarga. Beberapa diantara mereka telah bertahun-tahun meninggalkan anak-anaknya kepada orang tuanya. Mereka lupa dengan kampung halamannya.

Tapi ajakan Puan bukan kepada mereka yang urusan dokumen ketenagakerjaannya sudah beres dan tak ada masalah. Apa yang disampaikan oleh Puan adalah mereka yang terutama hidupnya terlunta-lunta, berada dalam bayang-bayang ketakutan oleh pengejaran pihak-pihak kepolisian Arab Saudi, dan sederet persoalan lainnya.

Itulah yang dipikirkan oleh Puan. Hidup yang seperti itu dirasakan oleh Puan sebagai penuh kerumitan. Sehingga dengan itu, Puan mengatakan: "daripada hidup di negeri orang tidak menentu, lebih baik pulang ke Indonesia berkumpul bersama keluarga tercinta".

Rejeki Tuhan ditebarkan dimana-mana. Tidak perlu takut untuk tak dapat rejeki di negeri sendiri. Apa yang lebih penting terutama adalah kesehatan, keamanan dan kenyamanan diri. Di situlah pentingnya ungkapan Puan Maharani yang ditujukan kepada para TKI. Tentu pemerintah harus bekerja lebih maksimal dalam mengentaskan persoalan ketenagakerjaan dari Indonesia di Arab Saudi demi kebaikan mereka, para TKI.

Dalam kunjungan kerjanya ke Arab Saudi – yang sebetulnya – sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan haji, Puan menyempatkan mengunjungi pos-pos penampungan Warga Negara Indonesia Bermasalah (WNIB) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah. Puan menyaksikan dari jarak yang begitu dekat, memperhatikan wajah-wajah mereka dan segala penderitaannya yang berpijar dari mata mereka. Puan merasakan itu. Sejauh bertatapan dengan mereka, merasakan hangat jabatan tangannya dan harapannya kepada pemerintah, Puan tak bisa menyembunyikan kesedihan. Mereka harus pulang. Mereka harus bersama dengan para keluarga tercinta di tanah sendiri.

Puan mengungkapkan kesedihannya: "sungguh saya merasa sedih melihat warga Indonesia di tempat ini sebagian besar terdiri dari kaum perempuan. Ada yang kerja hingga 26 tahun namun tidak dibayarkan haknya selama 20 tahun. Ada pula yang puluhan tahun bekerja di sini, tetapi tidak pernah berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia".

Kesedihan memang tak dapat menolong lebih banyak. Tak perlu berlarut-larut. Puan menangkap kesempatan untuk bisa memulangkan mereka melalui kesempatan adanya program amnesti pelanggaran ketenagakerjaan dan keimigrasian dari pemerintah Arab yang berlangsung sejak 29 Maret hingga 29 Juni 2017.

Melalui program tersebut warga negara asing yang melanggar hukum ketenagakerjaan dan keimigrasian tidak akan dikenakan denda saat pulang ke negaranya, serta tidak dimasukkan daftar cekal. Namun warga negara asing yang terbukti melanggar hukum ketenagakerjaan dan keimigrasian setelah program amnesti tersebut berakhir akan ditindak secara hukum.

Pemerintah Indonesia juga telah membentuk tim khusus pembantuan teknis yang terdiri dari Kementerian Luar Negeri dan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM untuk mendukung perwakilan RI di Arab Saudi dalam memberi pelayanan peserta program amnesti. Berdasarkan data dari BNP2TKI, sekitar 60.000 WNIB akan memanfaatkan program amnesti tersebut di tahun 2017.

Hingga 20 April 2017 tercatat ada 3.408 WNIB mengikuti program ini.

Puan Maharani punya kepedulian yang tinggi. Bukan semata-mata karena dia pejabat publik, melainkan perasaan atau kepekaan kemanusiaannya untuk membantu orang lain. Kepekaan kemanusiaan memang sesuatu yang manusiawi. Tapi seseorang bisa saja kehilangan kepekaan atau perasaan kemanusiaannya bila tidak ada kesungguhan dalam hati untuk mencintai manusia lain.

Puan Maharani dalam kunjungan kerjanya ke Arab Saudi telah membuktikan itu. Kita tahu dari beberapa surat kabar yang beredar, baru-baru ini pemerintah Arab Saudi memberikan amnesti ketenagakerjaan untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI). Menanggapi persoalan itu, Puan segera menghimbau dan mengajak para TKI yang bermasalah di Arab Saudi untuk segera pulang ke Indonesia.

Puan memikirkan nasib mereka. Betapa sedihnya mereka hidup di negeri orang dalam kehidupan yang tak menentu. Mereka terpisah dari keluarga. Beberapa diantara mereka telah bertahun-tahun meninggalkan anak-anaknya kepada orang tuanya. Mereka lupa dengan kampung halamannya.

Tapi ajakan Puan bukan kepada mereka yang urusan dokumen ketenagakerjaannya sudah beres dan tak ada masalah. Apa yang disampaikan oleh Puan adalah mereka yang terutama hidupnya terlunta-lunta, berada dalam bayang-bayang ketakutan oleh pengejaran pihak-pihak kepolisian Arab Saudi, dan sederet persoalan lainnya.

Itulah yang dipikirkan oleh Puan. Hidup yang seperti itu dirasakan oleh Puan sebagai penuh kerumitan. Sehingga dengan itu, Puan mengatakan: "daripada hidup di negeri orang tidak menentu, lebih baik pulang ke Indonesia berkumpul bersama keluarga tercinta".

Rejeki Tuhan ditebarkan dimana-mana. Tidak perlu takut untuk tak dapat rejeki di negeri sendiri. Apa yang lebih penting terutama adalah kesehatan, keamanan dan kenyamanan diri. Di situlah pentingnya ungkapan Puan Maharani yang ditujukan kepada para TKI. Tentu pemerintah harus bekerja lebih maksimal dalam mengentaskan persoalan ketenagakerjaan dari Indonesia di Arab Saudi demi kebaikan mereka, para TKI.

Dalam kunjungan kerjanya ke Arab Saudi – yang sebetulnya – sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan haji, Puan menyempatkan mengunjungi pos-pos penampungan Warga Negara Indonesia Bermasalah (WNIB) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah. Puan menyaksikan dari jarak yang begitu dekat, memperhatikan wajah-wajah mereka dan segala penderitaannya yang berpijar dari mata mereka. Puan merasakan itu. Sejauh bertatapan dengan mereka, merasakan hangat jabatan tangannya dan harapannya kepada pemerintah, Puan tak bisa menyembunyikan kesedihan. Mereka harus pulang. Mereka harus bersama dengan para keluarga tercinta di tanah sendiri.

Puan mengungkapkan kesedihannya: "sungguh saya merasa sedih melihat warga Indonesia di tempat ini sebagian besar terdiri dari kaum perempuan. Ada yang kerja hingga 26 tahun namun tidak dibayarkan haknya selama 20 tahun. Ada pula yang puluhan tahun bekerja di sini, tetapi tidak pernah berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia".

Kesedihan memang tak dapat menolong lebih banyak. Tak perlu berlarut-larut. Puan menangkap kesempatan untuk bisa memulangkan mereka melalui kesempatan adanya program amnesti pelanggaran ketenagakerjaan dan keimigrasian dari pemerintah Arab yang berlangsung sejak 29 Maret hingga 29 Juni 2017.

Melalui program tersebut warga negara asing yang melanggar hukum ketenagakerjaan dan keimigrasian tidak akan dikenakan denda saat pulang ke negaranya, serta tidak dimasukkan daftar cekal. Namun warga negara asing yang terbukti melanggar hukum ketenagakerjaan dan keimigrasian setelah program amnesti tersebut berakhir akan ditindak secara hukum.

Pemerintah Indonesia juga telah membentuk tim khusus pembantuan teknis yang terdiri dari Kementerian Luar Negeri dan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM untuk mendukung perwakilan RI di Arab Saudi dalam memberi pelayanan peserta program amnesti. Berdasarkan data dari BNP2TKI, sekitar 60.000 WNIB akan memanfaatkan program amnesti tersebut di tahun 2017.

Hingga 20 April 2017 tercatat ada 3.408 WNIB mengikuti program ini.

  • view 28