Puan Maharani dan Semangat Kartini

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 20 April 2017
Puan Maharani dan Semangat Kartini

Tiap tanggal 21 April, kita selalu merayakan nama Kartini. Setiap tahun. Dan setiap kali merayakannya, ada yang tiba-tiba menguat: kesadaran kaum perempuan untuk maju, untuk bisa berkontribusi bagi bangsa ini.

Kartini bukan seorang pemikir besar. Dia hanyalah seorang anak Bupati yang mengalami suatu episode kehidupan dimana perempuan tak mendapat banyak tempat untuk maju. Ruang-ruang dimana ia harus bisa meningkatkan kreatifitas seolah tertutup oleh satu adat budaya yang begitu kuat di dalam masyarakat Jawa: patriarki. Sebuah adat yang memiliki kecenderungan untuk menempatkan perempuan sebagai nomor dua dari kaum lelaki.

Pandangan ini tidak saja memenjarakan melainkan juga diamini oleh kaum perempuan saat itu. Menentangnya, meskipun sekedar dalam pikiran, adalah suatu sikap yang tidak baik. Sikap Kartini yang berani hingga menuliskannya, dan kadang-kadang mengungkapkannya lewat tuturan, adalah satu bentuk perlawanan yang kini menginspirasi.

Itu sebabnya nama Kartini, perempuan yang mengalami masa-masa sulit sebagai perempuan, dan kemudian menginspirasi lewat catatan-catatan hariannya, patut direnungkan. Kata yang tepat pada tanggal 21 April (besok) bukan sekedar merayakan. Melainkan mengingat dalam arti yang tak sekedar mampu menghadirkan sosoknya melainkan menghadirkan pula pemikirannya – diurai, dihayati, untuk kemudian diteladani.

Itu yang diungkapkan oleh Puan Maharani dalam mengenang RA. Kartini. Beliau sosok penting bagi kemajuan kaum perempuan tanah air. "Beliau yang mengungkapkan gagasan agar perempuan Indonesia untuk maju dan tidak terkungkung", itu kata Puan suatu kali di tahun 2015 yang lalu di Kantor KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (21/4/2015).

Puan – dalam gambaran Kartini – bukan membawa semangat feminisme yang ekstrim (entahlah apakah ini istilah yang benar). Dia tidak memberikan kekuatan bagi perempuan untuk melawan dan menyamai sepenuhnya kiprah kaum lelaki. Kartini – dalam pandangan Puan – adalah perempuan Jawa yang tetap menghormati kiprah kaum lelaki dan perempuan. Baginya yang patut diambil dari RA. Kartini adalah sisi semangat kaum perempuan untuk maju, untuk bisa berbuat bagi kepentingan bangsa, mendidik anak-anak dan menjadi rekan yang baik bagi kaum laki-laki.

Ini bisa dimengerti. Kartini bukan perempuan Eropa. Mungkin yang dialaminya tidak sekeras yang dialami kaum perempuan Eropa yang hingga pada beberapa gerakan feminisme – cita-citanya adalah melawan dominasi kaum lelaki, menandingi kaum lelaki. Kartini bukan itu. Dan Kartini tidak menginginkan suatu jenis emansipasi yang seperti itu. Dia hanya orang Jawa yang menginginkan kemajuan bagi kaum perempuan.

"Bukan soal dominasi satu sama lain, tapi bagaimana kemudian hal itu bisa bersinergi dalam membuat suatu revolusi mental atau karakter building yang dimulai dari keluarga," terang Puan.

Harapan yang lain pada momentum semangat Kartini adalah kesiapan perempuan untuk bisa mengembangkan kemampuannya di segala bidang. Kita tahu, pendidikan kini merata untuk kaum lelaki dan perempuan. Kedua-duanya memiliki akses yang sama untuk bisa meningkatkan kemampuannya. Itu sebabnya, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Kartini telah membuka jalan: habis gelap terbitlah terang.

  • view 32