Jika Megawati Pensiun, Siapa Lebih Layak: Prananda Prabowo atau Puan Maharani?

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Maret 2017
Jika Megawati Pensiun, Siapa Lebih Layak: Prananda Prabowo atau Puan Maharani?

Megawati – yang memang mulai menyadari bahwa dirinya membutuhkan pengganti dirinya – sempat berbicara soal pensiun. Ungkapan itu muncul pada saat sambutan acara HUT ke-17 Banteng Muda Indonesia di Menteng, Jakarta Pusat. Sebuah koran online, rmol (31/03/17) langsung menangkap kesan ini dalam sebuah berita. Lead berita itu tertulis:

“Entah serius atau bercanda, kemarin, Megawati Soekarnoputri mulai bicara soal pensiun sebagai ketum PDIP. Kalau benar Mega lengser keprabon, lantas siapa yang akan menggantikan? Nama yang pas cuma ada dua: Puan Maharani atau Prananda Prabowo. Pertanyaannya, apakan dua anak Mega ini siap diberi tanggung jawab memimpin Banteng. Lantas, siapa yang paling berpeluang?”

Ada dua hal yang saya tanggapi. Pertama, soal apakah anak Mega sudah siap diberi tanggung jawab memimpin PDIP? Kedua, siapakah diantara keduanya – Puan Maharani atau Prananda Prabowo – yang lebih berpeluang?

Puan Maharani atau Prananda Prabowo adalah dua anak Megawati yang memiliki jejak rekam yang bagus di dalam politik. Kedua-duanya juga terlibat di dalam PDIP. Hanya saja, Prananda Prabowo, sang kakak, lebih banyak bekerja di balik layar dan Puan Maharani, lebih banyak tampak di depan panggung.

Peranan atau kiprah di balik layar seorang Prananda begitu berguna bagi PDIP. Pernah sekali waktu, pidato Megawati dinilai begitu berapi-api dan membakar audiens. Siapa di balik tim kreatif pembuat pidato itu tak lain adalah timnya Prananda. Adapun sang adik yang sudah malang melintang dalam beberapa karir politiknya dan pernah dia sebagai bappilu yang mengantarkan Ganjar Pranowo sebagai gubernur Jawa Tengah.

Bila dilanjutkan dengan pertanyaan yang kedua, siapa diantara keduanya yang lebih tepat untuk menggantikan Megawati sebagai pemimpin sang banteng? Tulisan ini lebih cenderung mengarah kepada Puan Maharani sebagai jawabannya. Apakah ini berarti sang adik, Puan Maharani, lebih bagus karir politiknya dan lebih mumpuni untuk menjadi pemimpin? Bukan semata-mata itu. Ada alasan lain.

Seperti diuraikan di atas, pengalaman politik Prananda Prabowo lebih banyak dihabiskan sebagai otak di balik layar. Sebagai orang yang telah lama diam-diam mengotaki PDIP dari belakang layar, dia tentu sudah begitu berpengalaman dan sangat mumpuni di bidang itu. Orang seperti Prananda ini harus tetap dipertahankan untuk memperkuat PDIP. Aktor di balik layar tidak kalah penting daripada mereka yang berada di depan layar. Orang-orang di belakang layar lebih banyak berperan sebagai pembaca situasi dan pengarah kemana aktor harus bergerak.

Sementara Puan Maharani, sudah sejak dari awal sudah sering tampil di muka. Megawati seringkali mengajaknya dalam peristiwa-peristiwa politik penting. Dia banyak tampil di muka saat menjabat posisi tertentu di PDIP. Dia mencalonkan diri dua periode sebagai anggota DPRD. Kemudian hari ini, Puan mendapat jabatan sebagai Menko. Beberapa kali Puan Maharani teruji sebagai panglima dalam pemilu dan memenangkan beberapa calon kepala daerah.

Prestasi-prestasi ini penting untuk karir Puan Maharani kedepan. Saya kira Megawati sudah mempertimbangkan posisi ini. Dan nampaknya, dua orang ini, Prananda dan Puan, memang disiapkan untuk posisi dan kiprah yang berbeda tetapi saling melengkapi. Jika ini benar, maka kita tak lagi berdebat tentang siapa yang lebih berpeluang untuk menggantikan posisi Megawati Soekarno Putri. Sejalan dengan pikirannya, nampaknya Mega akan lebih memilih Puan sebagai penggantinya dan menempatkan Prananda sebagai otak di balik layar yang penting bagi gerak laju PDIP.

  • view 168