Nama Puan Maharani Kian Melejit

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 30 Maret 2017
Nama Puan Maharani Kian Melejit

Puan Maharani, nama yang kian dekat dengan masyarakat kecil. Perempuan yang kian kuat dan gigih dalam mengabdi. Putri seorang politisi yang namanya kian melejit.

Baru-baru ini sebuah media online, politiktoday.com, merilis sebuah laporan survey dari Indo Barometer tentang tingkat kepuasan publik atas pemerintah. Ada beberapa menteri yang memperoleh sorotan, terutama dari partai pengusung utama pemerintahan. Mereka adalah Puan Maharani, Tjahjo Kumolo, Pramono Anung, Yasona Laoly dan  Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

“Dari sekian banyak menteri asal Parpol yang berada di kabinet kerja”, tulis politiktoday.com, “PDI Perjuangan menjadi partai terbanyak mendapatkan jatah kursi menteri”.

Laporan itu mengatakan bahwa dari kelima anggota menteri yang berasal dari PDIP itu, publik memberi penilaian bahwa  tidak satu orangpun yang dinilai masuk kategori terbaik. “Hasil tersebut didapat dari rilis Indo Barometer yang melakukan survei pada tanggal 4-14 Maret 2017. Sampel yang diambil dari 34 provinsi dengan jumlah responden mencapai 1200 orang, dan margin of error nya 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen”.

Tetapi jika dilihat dari kelima menteri itu, Puan Maharani mendapatkan penilaian paling tinggi mengenai tingkat kepuasan publik. 4,3 persen, demikianlah angka yang melukiskan raihannya.

Apa yang bisa dibaca dari rendahnya menteri-menteri PDIP dan mengapa Puan Maharani tertinggi?

Pertama, PDIP adalah partai politik pengusung utama pemerintahan. Sebagai pengusung pemerintahan, tentu memang sangat besar tantangannya. Saat pemerintahan memperoleh banyak kritik, partai pengusung tidak lepas dari kritik itu. PDIP seringkali disorot sebagai partai yang secara utama bertanggung jawab. Ini bukan semata-mata persoalan prestasi yang sungguh-sungguh menurun secara obyektif melainkan posisi mereka memang diserang secara politik demi menggerus terus citranya hingga ke titik rendah. Partai koalisi pemerintah dan secara khusus pengusung utama pasti memiliki resiko itu.

Kedua, resiko di atas bukan semata melanda partai politik. Menteri-menteri yang berasal dari partai utama pengusung pemerintah juga mendapat sorotan dari publik. Pandangan mereka yang secara negatif dialamatkan kepada partainya juga pada akhirnya membawa kerugian pada kader-kadernya yang duduk di kementerian. Ingat, ini bukan sekedar apakah prestasi mereka benar-benar turun drastis, tetapi efek samping dari politik penggerusan atas parpol koalisi dan utamanya pengusung pemerintah yang terjadi secara terus-menerus. Sekali lagi kepentingannya adalah menyingkirkan partai politik ini dari kebanggaan dan harapan publik.

Tetapi Puan Maharani memiliki angka yang cukup tinggi: 4,3 persen. Yang perlu ditekankan di sini Puan Maharani memperoleh angka ini dengan penuh kegigihan. Pada saat Tjahjo Kumolo dan Yasona memperoleh masing-masing 1,6 dan 0,9 persen dan Pramono dan Anak Agung  tidak cukup dikenal publik, gap angka 4,3 persen menunjukkan satu raihan yang luar biasa. Puan harus berjuang menunjukkan kemampuannya di tengah sorotan politis yang mendegradasi atas partai berlambang ‘banteng’ itu.

Jika ada yang – sekali lagi nyinyir mempertanyakan angka ini: mengapa Puan Maharani mendapat penilaian publik yang tinggi? Dia bekerja sebagai menteri dan berprestasi.

  • view 723