Win-Win Solution Puan Soal Ojek Online versus Konvensional

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Politik
dipublikasikan 22 Maret 2017
Win-Win Solution Puan Soal Ojek Online versus Konvensional

Keberadaan ojek online menghadirkan solusi yang kian efektif dan efisien dalam soal angkutan. Para penumpang cukup menggunakan aplikasi yang bisa diunduh di berbagai penyedia layananan aplikasi, semisal di handphone android dan smartphone lainnya. Aplikasi itu dengan praktis menyediakan berbagai fitur untuk melakukan transaksi kemana penumpang mau diantarkan, lokasi penumpang, tujuan, panjang rute yang bakal ditempuh, info tarif, info sopir ojek online, dan berbagai fitur penting lainnya.

Praktis, kecanggihan dari teknologi online ini membuat penumpang tak perlu susah lagi menunggu angkutan di pinggir jalan atau datang ke pangkalan-pangkalan ojek.

Persoalannya kemudian, ada ketegangan antara ojek online dengan ojek konvensional. Beberapa kasus – yang terjadi belakangan ini – menunjukkan bahwa ojek online dan ojek konvensional hingga pada taraf ketegangan fisik. Di beberapa tempat, misalnya kemarin, di Tangerang, sejumlah ojek online menggelar demontrasi akibat temannya ditabrak oleh pihak ojek konvensional.

Kondisi ini tentu saja merupakan hal yang tak boleh dibiarkan. Pemerintah harus segera ambil tindakan demi mengatasi masalah ini. Solusi seperti apa yang ditawarkan?

Puan Maharani kemenko PMK, mengusulkan adanya solusi terbaik bagi ojek online, taksi online, sopir angkot serta taksi konvensional lainnya. Bagaimana itu dimungkinkan? Pertama-tama, Puan menegaskan bahwa mereka sama: yakni sama-sama mencari penghidupan bagi diri dan keluarganya. Kesamaan mereka – dalam mencari penghidupan – adalah melalui ojek. Di sinilah kemudian perlunya solusi yang memenangkan kedua-duanya, jalan yang memungkinkan kedua-duanya tetap bisa memperoleh haknya masing-masing untuk memperoleh rejeki.

Bagaimana cara menghadirkan solusi yang memenangkan kedua belah pihak – artinya menguntungkan kedua belah pihak? Pemerintah harus melihat fakta bahwa ojek online adalah lahir di era teknologi canggih. Ojek online adalah anugerah modernisasi. Sementara ojek konvensional adalah bagian dari sistem transportasi yang sudah lama bertahan. Keduanya – dengan memperhatikan fakta ini – tidak mungkin dihapuskan.

Di sinilah, menurut Puan, pemerintah harus memfasilitasi keduanya dengan baik. Pemerintah harus hadir menjadi penengah yang mampu meredakan ketegangan diantara mereka. Pemerintah membuat aturan-aturan yang memungkinkan adanya pembagian diantara mereka sehingga masing-masing punya kesempatan yang sama. Ojek konvensional yang kian terpinggirkan setidaknya mendapat tempat yang layak dan strategis untuk menarik penumpang. Sedangkan ojek online sudah terbantu oleh adanya sistem online perlu ditertibkan. Pemerintah harus menerbitkan aturan yang tegas atas peredaran ojek online. Peredaran mereka harus dalam kendali pemerintah.

Apa muara yang diinginkan dari ragam upaya ini, menurut Puan Maharani adalah “intinya bahwa mereka semua harus difasilitasi untuk bisa cari makan, cari hidup”. Dengan kata lain, agar kelangsungan mata pencaharian mereka dari menjadi sopir ojek online atau konvensional tetap terjaga dengan baik. Kedua, agar – kata Puan Maharani – “...tidak ada gesekan-gesekan lagi”. Ketegangan, kecemburuan, akibat persoalan mata pencahariaan ini bisa menyebabkan kondisi tidak nyaman. Bukan saja bagi tukang ojek sendiri melainkan bagi penumpang.

Untuk mengerti win-win solution yang ditawarkan, inilah petikan wawancara dengan Puan Maharani.

“... buat saya yang pasti dicari jalan keluar yang terbaik sehingga semuanya itu, ...kepentingan itu terakomodasi dan merasa tidak dirugikan. Kalau kemudian ada yang lebih diuntungkan dan sedikit dirugikan dalam artian bukan semuanya untung dan semuanya rugi tapi ada yang lebih diuntungkan dan sedikit dirugikan maka ini harus dicari jalan keluarnya”.

Semoga ketegangan diantara pencari rejeki para tukang ojek ini segera teratasi.

  • view 161