Puan dan Tiga Fokus Utama Pendidikan

Asti Novi
Karya Asti Novi Kategori Budaya
dipublikasikan 10 Maret 2017
Puan dan Tiga Fokus Utama Pendidikan

Puan Maharani yang menemani Presiden Joko Widodo dalam salah satu acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan  (25-27 Januari 2017 mengutarakan beberapa poin pentingnya pendidikan. Dia menyasar persoalan pendidikan yang masih timpang terutama relasi pusat-daerah. Dia ingin meneguhkan kembali pendidikan yang berpijak pada kearifan-kearifan lokal.

Acara yang mengambil nama ‘Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan’ mengisyaratkan satu pembicaraan penting yang mencakup nasional. Kata ‘rembuk’ memiliki pengertian musyawarah, runding atau bincang-bincang. Dengan mengacu pada pengertian ini, rembuk nasional pendidikan dan kebudayaan berarti musyawarah atau runding atau bincang-bincang perihal pendidikan dan kebudayaan dengan skala nasional. Itu poin secara umum yang sementara bisa kita reka dari agenda ini.

Tiga Fokus Utama

Apa saja yang diuraikan oleh Puan Maharani dalam sambutannya pada rembuk nasional ini.

Pertama, rembuk nasional membicarakan peningkatan pemerataan layanan pendidikan. Sejauh ini, ketimpangan dalam layanan pendidikan masih merupakan problem pendidikan nasional kita. Relasi pusat-daerah selalu ditandai gap yang cukup lebar dimana yang pertama, pusat, selalu lebih unggul, lebih berkualitas, dan lebih banyak ketersediaan sarana pendidikan. Puan Maharani, selaku kementerian koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (kemenko PMK), tentu menyadari itu.  

Kedua, sambutan ibu Puan lebih jauh menyasar langkah-langkah spesifik dalam mengatasi persoalan ini antara lain: melalui optimalisasi Program Indonesia Pintar (PIP), pendidikan dan kebudayaan dari pinggiran, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan. Program Indonesia Pintar merupakan bagian penting dari gerakan revolusi mental yang menjadi slogan besar pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Yang terakhir, ibu Puan mengatakan bahwa dalam rembuk nasional ini juga mencakup rembuk soal penguatan tata kelola pendidikan dan kebudayaan. Terutama menyangkut sinergi pusat dan daerah dalam pelaksanaan UU No. 23 Tahun 2014.

Berpijak pada Kebijaksanaan-Kebijaksanaan Lokal

Saya tertarik dengan bagian kedua terutama pada poin ‘pendidikan dan kebudayaan dari pinggiran’ dari sambutan ibu Puan. ‘Pinggiran’ selama ini selalu identik sesuatu yang terbelakang, yang tertinggal dan yang absen dari cara pandang yang mengapresiasi.

Apakah ibu Puan bersungguh-sungguh dalam pernyataan itu?

Entahlah. Yang pasti diam-diam pernyataan itu mengandung penegasan menguatnya keinginan pemerintah untuk membenahi relasi pendidikan pusat dan pinggiran. Pernyataan itu mengandung isyarat titik balik pada arus pendidikan yang terjadi selama ini: desain dan selera pusat selama ini melulu menjadi pertimbangan dan penentu yang hegemonik pada ‘selera’ dan ‘warna’ kebijakan pendidikan lokal atau pinggiran. Yang pinggiran selalu dipaksa mengikuti atau berpijak pada selera pusat dan seringkali mematikan kebijaksanaan-kebijaksanaan pinggiran.

Kedua, pernyataan yang disampaikan dalam sambutan ibu Puan ini membuka ruang bagi tumbuh dan bersemainya – meminjam Azumardi Azra – local genius atau kearifan lokal. Kearifan lokal – ada yang menyebut ‘local wisdom’, ‘local genuine’ atau ‘local genius’ – merupakan kekayaan yang dimiliki masyarakat lokal. Ia mencakup ideal-ideal nilai, budaya dan pengetahuan yang berharga, yang berpijak dan tumbuh subur dalam kebijaksanaan lokal. Ia merupakan ciri keasilan atau kekhasan lokal.

Arus balik ini – pendidikan dan kebudayaan dari pinggiran – lebih jauh memberi kesempatan bagi pinggiran untuk berbenah, membangun mentalitas dan menyediakan kepercayaan diri demi menegakkan bahwa konotasi ‘pinggiran’ tak selalu identik dengan ketertinggalan, bukan minus prestasi dan tidak berkonotasi buruk lainnya. Pinggiran memiliki kekayaan kebijaksanaan dan prestasi.

Dalam kebijakan pendidikan nasional, barangkali ‘kearifan lokal’ mendapatkan perhatian dan diperbincangkan. Tapi adakah tidak lanjut yang signifikan?

  • view 57