DImana Hati Mampu Bertahan?

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Februari 2016
DImana Hati Mampu Bertahan?

Segala sesuatu terasa indah saat belum dimiliki.

Bukankah itu benar? Seperti halnya riwayat seorang murid yang diperintah gurunya untuk memasuki sebuah gua. Dan hanya harus membawa satu bunga sekeluarnya dari sana. Awalnya ia mematuhi petuah sang guru. Namun, makin banyak bunga yang lebih indah dan elok ia temui, selama itu pula dibuangnya bunga lama, untuk kemudian memetik yang baru. Seperti itu seterusnya. Hingga ia menyadari kekeliruannya.

Memang benar, selalu, yang baru akan terlihat jauh lebih baik dari yang lama. Mungkin ini yang membuat banyak orang cepat mengganti hati, begitu ada yang baru. Lalu begitu saja meninggalkan kenyamanan yang telah lama menemani.

Memang benar, mungkin. Namun, problemnya bukanlah harus mencari orang yang lebih baru, tetapi untuk memperjuangkan yang nyaman[1]. Yakni berantitesis: Mungkin memang benar. Selalu. Yang baru akan terlihat lebih baik dari yang lama. TAPI, semakin dalam yang baru itu diselami, kian membuktikan bahwa yang lama justru yang tak terganti.?

Lebih tepatnya, paham ini adalah isi hati para kaum yang susah move on. Kasihan ya? ._. Padahal harusnya kan jadi manusia setengah salmon, iya nggak? Hehehe

Oke. Ini bukan bicara hati yang sulit untuk pindah. Ini tentang hati yang tak mau beranjak menanggalkan kenyamanan lamanya. Bukan tak bisa menjadi manusia setengah salmon, tetapi kenyamanan lama itu yang seakan memaksa. Agar tetap tinggal dan menjadi koala kumal.

Bertahan dalam kenyamanan yang telah meninggalkan. Berkubang dalam kenyamanan yang sudah jauh terbang. Apa yang bisa dilakukan? Tak ada. Sungguh pun tak ada. Tak ada yang dapat mengembalikan kenyamanan lama. Yang dulu ialah teman yang sangat akrab. Tapi bermetamorfosis ia kini. Bertransformasi menjadi sosok yang tak lagi dikenali. Terdengar bodoh bukan?

Bertahan menjadi koala kumal. Atau berubah menjadi manusia setengah salmon? Yang pasti, tak ada yang salah bagi mereka yang bisa dengan mudahnya berganti hati. Namun, tak ada pula yang berhak menghakimi mereka yang memilih bertahan. Memeluk kenyamanan lamanya. Mengeratkan dalam dekapan.

Tanya.

Di mana hati mampu bertahan?

?

[1] Koala Kumal hal 68

Dilihat 131