Hidup Selalu Saja Menggelikan!

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Project
dipublikasikan 24 Januari 2018
Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu

Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu


Ini adalah projek estafet naskah dari FLP Garut yang nantinya ditargetkan menjadi satu novel yang utuh. Disebut estafet karena penulisannya bergilir dari satu anggota ke yang lain dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Kini, projek ini sedang dalam tengah-tengah perjalanan.

Kategori Fiksi Umum

391 Hak Cipta Terlindungi
Hidup Selalu Saja Menggelikan!

[NURE F]

Perempuan yang sedang duduk termenung di bangku taman itu namanya Hana. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang berlalu lalang –menatapnya dan berbisik-bisik satu sama lain, samar-samar terdengar kata ‘aneh’ dari mulut mereka. Namun hal tersebut sama sekali tidak mengusik Hana. Rambut sebahunya –yang entah kapan terakhir kali dicuci itu, kadang-kadang tertiup angin. Hana diam saja, atau dia akan menutup matanya dan memikirkan hal-hal yang seru. Petualangan ke Negeri Awan, penaklukan dunia manusia, kisah cinta sepasang kupu-kupu, atau apa saja. Dia punya dunia sendiri, yang kadang-kadang membuatnya terisolasi dan tidak diterima di kumpulan manusia pada umumnya. Atau mungkin, Hana sendiri yang memilih untuk tidak masuk dalam kumpulan manusia manapun. Hana tidak suka orang-orang.

            “Oi! Gadis aneh!”

            Hana tersentak dan langsung membuka matanya kembali. Jantungnya berdebar saat dilihatnya tidak ada siapapun di sekitarnya saat ini. Dia kenal betul suara itu. Hatinya terasa aneh saat tidak mendapati pemilik suara itu di sekitarnya.

Apa mungkin sekarang ini Hana sedang berhalusinasi?

Hana langsung menggelengkan kepalanya. Tidak, dia harus secepatnya menyingkirkan bayangan orang itu. Dia menutup matanya, dan kembali memikirkan petualangannya di Negeri Awan, melawan prajurit petir dan merebut Istana Awan. Namun, Hana tidak bisa. Sesosok laki-laki jangkung tampak tersenyum dan berjalan pelan ke arahnya. Bayangan tentang petualangan memudar, berganti senyum laki-laki itu yang tiada henti. Jantungnya berdebar, dan setiap kali itu terjadi, dunia Hana selalu hancur lebur.

            “Lo alien darimana?”

            “Mars? Atau Venus? Oh, ya! Apa Neptunus?”

            “Gue punya desain tempat tinggal buat alien. Rumah berlantai 2, dengan interior seperti luar angkasa.”

            “Lo mau tinggal bareng gue di rumah ini? Menghabiskan sisa waktu lo sama gue? Ini gue lagi lamar alien, lho.”

            Mata Hana masih tertutup saat bayangannya dengan laki-laki itu muncul di kepalanya bagai slide. Dari sudut matanya, setitik air mata meluncur keluar.

***

“Deska, kamu sudah siap, nak?”

            Deska buru-buru memakai jas yang tergantung di samping lemari, ketika suara ketukan pintu dan seruan Mamanya terdengar menembus pintu kamar. Dengan cepat, dia mengambil ponsel dan dompet, kemudian berjalan keluar kamar tergesa, menyusul Mamanya yang berjalan terlebih dahulu menuruni tangga. Malam ini adalah malam yang istimewa, begitu kata mamanya.

            Om Bayu –calon papanya, menyiapkan makan malam istimewa dalam rangka pertemuan keluarga. Ingin pendekatan, kata mamanya. Deska hanya memutar kedua bola matanya.

            “Om Bayu sudah menunggu di Restorannya.” sahut Mama Deska sambil memasuki mobil.

            Deska hanya membututi mamanya tanpa mengucap satu katapun. Dia duduk dengan tenang di samping kemudi, mengeluarkan ponsel dan memasang earphone di telinganya.

            Sepanjang perjalanan menuju restoran Om Bayu, tidak ada yang terucap diantara Deska dan Mamanya. Mama Deska fokus menyetir, sedang Deska fokus mengamati jalan raya dengan diiringi alunan musik lewat earphone. Seperti biasanya.

            “Ini restoran milik calon papa kamu, Deska. Dia bahkan punya lebih dari lima yang seperti ini.” sahut Mama Deska tepat setelah menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah restoran mewah.

            Deska tidak peduli. Dia melepas earphone-nya dan bergegas turun dari mobil. Dia mendongak, menatap ke arah bangunan restoran mewah di hadapannya. Seulas senyum yang meremehkan tiba-tiba terukir di bibirnya.

            “Ayo, Deska!”

            Deska menoleh ke arah mamanya, kemudian mengangguk malas. Dia kembali membuntuti mamanya memasuki restoran.

            Seorang pramuniaga mengantar Deska dan Mamanya menuju sebuah ruangan, tempat dimana Om Bayu menunggu. Saat Mama Deska membuka pintu, Om Bayu yang sedang duduk langsung berdiri menyambut. Laki-laki paruh baya itu mempersilakan Mama Deska duduk dengan manis. Deska yang melihat, kembali memutar kedua bola matanya, jengah.

            Deska mengambil tempat duduk tepat di hadapan Mamanya dan Om Bayu. Dia tidak peduli dengan kedua orangtua yang sedang berbunga-bunga dihadapannya saat ini, dia hanya fokus menatap makanan yang tertata di atas meja, memikirkan makanan mana yang akan dia santap terlebih dahulu.

            “Apa kabar, Deska?” sahut Om Bayu tiba-tiba.

            Deska langsung mengangkat wajahnya agar se arah dengan laki-laki paruh baya di hadapannya. Dia mengulas senyum tipis, yang kentara sekali dipaksakan.

            “Baik, Om.”

            Om Bayu menganggukkan kepalanya, kemudian kembali mengobrol dengan Mama Deska.

            “Oiya, sebelumnya saya minta maaf, lewat makan malam ini saya ingin memperkenalkan putri saya pada kalian.” ucap Om Bayu.

“Putri? Kamu tidak pernah cerita pada saya kalau kamu punya putri?” sahut Mama Deska, sedikit protes.

            Deska tidak peduli.

            “Setelah perceraian, putri saya ikut mamanya. Dan entah apa yang terjadi, dia ingin tinggal bersama saya lagi.” jelas Om Bayu. “Kamu tidak keberatan, kan?” tambahnya.

            Dengan wajah memberengut, Mama Deska akhirnya mengangguk. Benar-benar terlihat kekanakkan.

            Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Sesosok gadis muncul dari balik pintu. Gadis itu memakai pakaian yang tidak biasa, dengan warna antara rok dan baju yang saling bertabrakan. Rambut sebahunya terlihat kering dan tidak terurus. Dan, ya! Gadis itu juga sama sekali tidak berdandan. Wajahnya polos dan sedikit berminyak. Dengan senyuman yang mengembang, gadis itu berjalan pelan menghampiri orang-orang disana.

            “Papa!” sahut gadis itu sambil menghampiri Om Bayu.

            Mendengar seruan itu, Deska langsung mendongakkan kepalanya, menatap seorang gadis yang baru saja datang. Matanya tak bisa lepas dari gadis itu. Dia orang yang sangat Deska kenal. Deska masih mencerna situasi yang sedang terjadi, saat sosok gadis ‘aneh’ yang baru saja mencium tangan mamanya itu mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya.

            Deska masih menatap gadis itu. Perkiraannya tidak mungkin salah. Benar, ini Hana!

            “Kemana aja, alien?” tanya Deska pelan.

            Gadis itu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya pada Deska.

            “Hana Aulia.”

            Deska tersenyum, ternyata memang benar. Dia membalas uluran tangan Hana sambil berucap, “Deska Husain.”

            Déjà vu.

            “Kalian sudah saling kenal?” sahut Mama Deska.

            Deska mengangguk, sedangkan gadis disampingnya tampak menggeleng cepat.

            “Tidak!” sahut Hana dengan senyuman manis.

            Deska menoleh ke arah Hana. Dia tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Tunggu! Kalau Hana adalah putrinya Om Bayu, berarti dia akan menjadi saudara tirinya. Deska menganalisis. Tidak! Deska tidak ingin hal itu terjadi!

            “Aku baru bertemu dengannya hari ini. Oh, ya! Senang sekali bisa bertemu dengan tante. Aku harap kita bisa menjadi keluarga yang bahagia.” sahut Hana ceria.

            Mama Deska tampak senang, dia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Begitu pula dengan Om Bayu yang bahagia dengan perubahan putrinya.

            Deska masih menganalisis, ini bukan Hana! Hana yang dia kenal tidak seceria ini. Deska menatap Hana intens. ‘Apa yang terjadi dengan gadis ini?’

            “Selalu ada dua kemungkinan dalam hidup, Deska. Dan aku selalu memposisikan diri berada di antara keduanya.”

            Kalimat yang diucapkan Hana beberapa bulan kebelakang kembali terngiang di telinga Deska, membuat telinganya pekak. Gadis itu pergi meninggalkannya begitu saja, lalu kembali sebagai calon saudara tirinya, begitu saja. Di sela makan malam keluarga yang khidmat itu, Deska tiba-tiba tertawa. Kikik tawa yang semula pelan, perlahan menggema memenuhi penjuru ruangan.

            ‘Hidup selalu saja menggelikan!’

***

 

 

Gambar dari tumblr.

  • view 71