Reenda Wedding Organizer

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Project
dipublikasikan 24 Januari 2018
Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu

Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu


Ini adalah projek estafet naskah dari FLP Garut yang nantinya ditargetkan menjadi satu novel yang utuh. Disebut estafet karena penulisannya bergilir dari satu anggota ke yang lain dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Kini, projek ini sedang dalam tengah-tengah perjalanan.

Kategori Fiksi Umum

611 Hak Cipta Terlindungi
Reenda Wedding Organizer

#DUA

[ASTI]

“Al, lo coba buka tabung gambar yang gue taruh di jok belakang mobil lo. Gue udah rampungin beberapa rancangan crown di sana. Sori, kemungkinan sejam lagi gue baru bisa balik lagi ke kampus.”

            Bukan hanya mondar-mandir, Deska bahkan telah berulang kali memindahkan posisi telepon genggamnya dari telinga kiri ke telinga kanan. Begitu seterusnya. Napasnya tampak naik-turun dengan gerakan lambat di balik kaos polo hitam yang ia kenakan. Sebentuk upaya agar luapan emosi yang tengah berkecamuk di dalam dada tak mempengaruhi nada bicaranya.

            “Oke, jadi bahan apa aja yang perlu gue beli buat maket kali ini?” Merasa sudah terlalu lama berdiri, Deska lalu kembali menempati tempat duduk di sana. “Beres, Al. Udah gue catat di ingatan gue.” Deska berujar santai dengan nada bergurau. Satu menit setelahnya, ketika Deska mengakhiri panggilan, saat itu pula raut wajahnya berubah seketika.

            Gerakan Deska saat menoleh ke samping kanan sesendu mata bulatnya yang kian dibuat muram oleh pemandangan di sana. Pandangannya lantas memerih menangkap dua bahu yang saling berdampingan di balik pintu yang setengah terbuka. Ia memilih untuk menengadah. Terjaga di balik mata yang dipejamkan.

            Orang yang berlalu lalang tak cukup menginterupsi hening Deska. Namun ia refleks menegakkan posisi duduk dan menengok begitu merasakan tempat yang didudukinya sedikit bergoyang. Seorang gadis menempati tempat kosong di sampingnya.

Merasakan tatapan yang tertuju ke arahnya, gadis berambut sepunggung itu menoleh. Ia yang sedang membuka kemasan cokelat refleks mengangsurkannya pada Deska seraya bertanya, “Mau?”

Deska yang masih setengah sadar kontan menjawab, “Boleh-boleh.”

Gadis itu lalu berpaling pada stoples di pangkuannya. Gerak tangannya yang hendak mengambil cokelat di dalam sana dijeda oleh suara beberapa orang yang melangkah kian mendekat.

Perempuan itu mendongak ke asal suara. Pun Deska yang juga tengah memandang dua orang di antaranya dengan sorot mau tak mau.

“Baik, Pak, Bu, percayakan saja pada kami. Dua hari lagi kami akan menghubungi Bapak dan Ibu untuk menunjukkan beberapa rekomendasi yang tepat untuk konsep outdoor yang diinginkan.”

Mama Deska dan lelaki jangkung itu sama-sama mengangguk. “Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Bu Dewi.”

Deska serta merta melipir tanpa basa-basi. Ia tak ingin jika harus berjalan di belakang pasangan itu apalagi sampai harus menyaksikan kedekatan mereka bedua. Sehingga Deska melarikan diri satu detik lebih cepat sebelum Mamanya dan lelaki itu beranjak pula dari sana.

Setelah tersenyum anggun, perempuan yang disebut Bu Dewi itu lalu beralih pada gadis yang masih duduk di kursi tunggu dan berkata, “Ayo, Rin. Ibu sudah siapkan bahan-bahan pesanan kamu.”

Bukannya bangkit, gadis itu malah terbelalak dan melempar pandang ke arah kanan lorong. Bola matanya bergerak cepat. Memindai satu demi satu orang yang berseliweran di sana namun tak mendapati sosok yang ia cari. Niatnya untuk mengejar lelaki tadi diurungkan oleh panggilan Ibunya yang kini menariknya untuk memasuki ruangan.

***

Capcay kuah yang masih mengepul itu tak cukup berhasil untuk memikat Deska. Bahkan si Abang warteg pun memasang wajah heran karena pembelinya itu tak kunjung menyentuh capcay yang telah dihidangkan olehnya. “Silakan dimakan, Kak.” Ujar pemuda bertopi itu sambil mengelap beberapa meja di sana.

            Sedikitnya lamunan Deska buyar. Ia mengulas senyum tipis seraya meraih sendok sekadar untuk menghormati upaya si Abang warteg. Capcaynya enak. Meski rasanya tak semenakjubkan saat menikmati capcay masakan Mamanya. Kerinduan yang tetiba merayap itu membuat Deska seketika tersedak.

            “Pelan-pelan makannya.”

            Deska menerima segelas teh yang tersodor begitu saja ke arahnya. Setelah cukup tenang, ia menoleh dan mendapati seseorang di sampingnya. Gadis berambut sepunggung tengah menyantap sup ayam dengan begitu khidmatnya.

            Merasakan tatapan Deska, gadis itu turut menoleh. Ekspresinya lantas berubah begitu melihat wajah Deska sepenuhnya dan berujar, “Ternyata aku nggak salah lihat. Kamu yang kemarin-kemarin itu, kan?” Menyadari raut tak mengerti dari lelaki di hadapannya, gadis itu cepat-cepat menambahkan, “Tuh. Di kantor WO seberang.” Melewati barisan kendaraan yang sedang menunggu pergantian lampu merah, dagunya mengedik ke arah sebuah bangunan yang dibalut warna bertemakan pastel.

            Kernyitan di kening Deska lantas memberai setelah beberapa detik berusaha mengingat. “Oke, gue inget.”

            “Oh iya,” Sejenak gadis itu meletakkan sendoknya dan beralih pada tas kuningnya. Dari stoples merah mudanya ia mengeluarkan beberapa butir cokelat berukuran kecil. “Ini.”

            Deska menatap heran tangan yang terulur itu. Lagi-lagi keningnya berkerut. Bertanya tanpa berucap.

            “Tempo hari aku kan sempat nawarin cokelat. Tapi keburu kamu pergi begitu aja.” Gadis itu mengangkat telapak tangannya lebih tinggi. Menunggu Deska menerima tawarannya.

            Deska tak berniat untuk mengingat. Kali ini tangannya bergerak ragu untuk mengambil tiga butir cokelat berukuran mungil itu.

            “Itu praline karamel. Ibuku bilang, sih, enak.” Gadis itu berujar santai sambil meneruskan makannya yang sempat terjeda. “Ini juga masih praline karamel. Bentuknya aja yang beda. Kamu boleh ambil kalau mau.” Sambungnya kemudian sambil menyodorkan stoples yang sama pada lawan bicaranya.

            Tak ada tanggapan serius dari Deska. Selama beberapa menit ke depan, mereka berdua menghabiskan makanan dalam diam. Sahut bunyi klakson, sayup nyanyian para pengamen, hingga susul-menyusul deru kendaraan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing yang dibiarkan menyaru bersama kesibukan yang diundang nyala lampu merah di seberang sana.

            “Kamu pasti sedang nunggu orangtua kamu lagi?”

            Gerakan Deska saat hendak mengambil gelas terhenti. Ia yang sempat terdiam pada akhirnya mengangguk meski tampak samar.

            “Kebanyakan pasangan muda memang selalu begitu. Nggak mau repot. Akhirnya orangtua mereka yang sibuk urus ini-itu.”

            Mata bulat Deska membola mendengar dugaan konyol itu. Ia menggeleng dan menukas tegas, “Mama yang mau nikah.”

            Gadis itu terkejut. Pun merasa bersalah begitu menyadari perubahan pada raut wajah lelaki yang duduk di sampingnya.

            “Nggak usah minta maaf.” Sela Deska begitu mendapati gadis yang memasang wajah bersalah di sampingnya hendak mengucap sesuatu. “Jadi, nama lo siapa, Gadis Pastel?”

            Jantung gadis itu mencelus seketika. Ia terenyak di tempatnya tanpa mampu mengendalikan sesak yang tetiba menyeruak. Lelaki tak dikenal itu tanpa sengaja telah melemparkannya ke dalam pusaran kenangan. Di lembaran yang tak jauh berbeda, tepatnya adalah tatkala dengan santainya pula Indra memanggilnya dengan sebutan serupa saat menanyakan namanya.

            Dua bulan yang muram berselang. Jangankan menyapa, sekadar mendarat di ruang obrolan WhatsApp pun pemberi julukan itu sudah tak lagi ada. Dan beberapa detik yang lalu, lelaki yang bahkan baru dua kali ia temui  tanpa sengaja dengan entengnya membentur pertahanannya yang rapuh.

            “Kenapa? Gue nggak salah, kan?” Sebelah telapak tangan Deska bergerak dari satu titik ke titik lain. Menjelaskan bahwa seluruh barang bawaan dan pakaian gadis di hadapannya memang didominasi warna pastel, dan seolah menegaskan bahwa tak ada yang salah dengan dirinya.

            “Namaku Rinda.”

            Teringat sesuatu, Deska kontan melempar pandang ke arah seberang. Beberapa jenak ia menganalisis, dan setelah menyerap pemahaman yang lebih ia berpaling lagi pada gadis di sampingnya dan bertanya memastikan, “Reenda Weeding Organizer?”

            “Kebetulan itu kantor milik Ibu aku.”

            “Ucapan gue barusan nggak salah, kan? Lo bener-bener gadis pastel.”

            “Omong-omong, namamu siapa?”

            “Deska. Gue Deska.”

            “Lemme guess, Deska. Kamu pasti mahasiswa arsitektur, ya?”

            “Tentengannya mudah ditebak, ya?” Deska tertawa renyah seraya sedikit mengangkat tabung gambar di atas meja. “By the way, Rin, ini cokelat manisnya berasa beda sama kebanyakan yang dijual di toko-toko.”

             “Serius? Rasanya aneh, nggak enak, atau bagaimana? Mungkin taste cokelat yang ini bakal lebih mending dari yang itu. Ini percobaan keduaku di kelas tadi.” Rinda mengangsurkan stoples tadi pada Deska.

            “Maksud gue---“

            “Mama dan Om Bayu sudah selesai Deska.”

            Rinda dan Deska menoleh berbarengan.

            Mama Deska telah berdiri di depan pintu masuk warteg. Tentu saja lengkap dengan lelaki yang tak lama lagi akan menjadi bagian yang mewarnai kemalangan hidup Deska. Tak ingin membiarkan pikiran itu kian membuatnya mual, Deska beranjak. “Deska tunggu di mobil ya, Ma.” Ia bertolak dari sana tanpa banyak kata. Pada mamanya, apalagi pada lelaki yang telah dua kali ini sengaja dipertemukan oleh Mama dengannya, bahkan pada Rinda yang hanya bisa termangu di tempatnya.

            Di balik semua itu, tiada yang tahu bahwa ada kekalutan lain yang terpancar dari sepasang manik mata yang menyaksikan di sana.

***

 

 

Gambar dari sini.

  • view 101