Disekap Sepi

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Project
dipublikasikan 15 Januari 2018
Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu

Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu


Ini adalah projek estafet naskah dari FLP Garut yang nantinya ditargetkan menjadi satu novel yang utuh. Disebut estafet karena penulisannya bergilir dari satu anggota ke yang lain dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Kini, projek ini sedang dalam tengah-tengah perjalanan.

Kategori Fiksi Umum

545 Hak Cipta Terlindungi
Disekap Sepi

[SAYYID]

“Eh, Jong Suk ki pacarnya Shin Hye, tah?” bukan karena topik pembicaraannya yang menggelikan, Rinda tertawa karena suara Warda yang terdengar seperti orang berkumur. Logat jawanya yang kental kontras dengan wajah putih mulusnya yang khas sunda. Gadis itu kini meraih jus alpukat yang baru saja datang dan menyedotnya dengan pipet sambil membelalakkan mata sebagai ekspresi lanjutan dari pertanyaannya tadi.

“Lah? Masak, sih? Bukannya Shin Hye sama Hae Jin?” Ara yang duduk di sebelahnya ikut meraih jus mangga di meja sambil merespon pertanyaan Warda. Rinda langsung meraih smartphone di saku mendengar nama-nama itu di sebutkan.

Kali ini ia menahan tawa bukan karena suara teman-temannya, melainkan karena tingkahnya sendiri. Smartphone itu baru saja di-reset dan kata kunci pertama yang ia cari di mesin pencariannya adalah pacar Jong Suk. Baginya itu menggelikan, malah cenderung ngeri. Ia bahkan tak tahu siapa Jong Suk, Shin Hye, ataupun Hae Jin. Satu-satunya yang ia tahu dari korea hanyalah Kim Jong Un. Itupun tidak nyambung karena Jong Un benci korea selatan, dan ia jelas bukan aktor drama.

“Aku gak suka Shin Hye, ah. Elek[1]gitu, kok.” Percakapan tentang artis korea ini masih berlanjut. Rinda tak menyangka hal seperti ini menyenangkan juga; berkumpul bersama teman-teman tetangga indekos. Sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.

Keasyikannya memerhatikan logat berkumur Warda tiba-tiba dibuyarkan oleh entakan meja di belakangnya. Seorang lelaki  yang tampak seumuran dengannya baru saja membanting tas yang ia bawa. Beberapa orang di sekitar tampak terkejut, meski kemudian mendelik tak peduli.

Rinda kembali mengulas senyum melihatnya. Ia ingin bersyukur. Ada saja orang yang tak tahu bagaimana cara menghadapi kesulitan. Entah itu kesedihan atau sesuatu yang membuat kesal. Rinda merasa selalu punya cara untuk mengatasinya. Seperti yang ia lakukan saat ini.

Entah kenapa kekalutan yang menggantung di wajah lelaki itu menghadirkan kembali bayangan bekas kekasihnya. Bekas. Rinda suka diksi yang ia pilih untuk mendefinisikan orang itu. Benar, tak ada satu hal pun yang perlu aku sesali.

“Rin, kamu sehat?” lamunannya kembali terganggu oleh suara medok Warda. Hanya gumaman tak jelas yang secara refleks keluar dari mulutnya.

“Dari tadi kamu ketawa-ketawa sendiri kayak orang gila. Ada apaan, sih?” Cengiran yang Ara lemparkan membuatnya benar-benar tersadar bahwa hari ini ia memang sedikit berbeda.

“Aku pernah baca postingan di instagram. Katanya, orang yang suka ketawa gak jelas itu artinya lagi kesepian.” Kesepian. Kedua temannya tertawa, begitu juga dengan Rinda.

Sejenak kemudian perutnya tiba-tiba terasa mual ketika menatap kedua temannya, lelaki di meja belakang, dan jus tomat yang masih utuh di meja secara bergantian.

“Aku ke toilet dulu, ya!” putus Rinda.

Di dalam toilet yang tak jauh dari kantin tempat mereka mengobrol tadi, Rinda menghentikan langkah di depan kaca westafel dan melihat wajahnya sendiri. Ia teringat pada lelaki kalut tadi, lalu berganti pada bayangan ibu dan sosok imajiner ayahnya.

Kini ia merasa sangat ingin tertawa. Keras-keras. Entah kenapa dadanya terasa sangat geli dan gatal tiap kali mengingat setiap peristiwa dalam hidupnya. Ia ingin menggaruk hatinya sendiri, bila perlu sampai kebas.

Dari saku celananya ia meraih smartphone yang sejak tadi ia biarkan begitu saja. Hasil pencarian pacar Jong Suk adalah hal yang pertama kali ia lihat.

Di dalam toilet yang sepi itu kini menggema suara tawa. Kikik yang semula pelan berubah jadi histeris. Rinda memukul-mukul dadanya sendiri. Hatinya benar-benar terasa geli.

 

[1]Jelek. Bahasa Jawa

 

***

 

 

Pict from here.

  • view 74