Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 41705
            [type_id] => 1
            [user_id] => 646
            [status_id] => 1
            [category_id] => 123
            [project_id] => 0
            [title] => Kabar Tak Terduga
            [content] => 

 

[NURE F]

Assalamualaikum!”

Suara decit pintu terdengar hingga ke lantai atas, diikuti dengan suara langkah kaki yang terdengar buru-buru. Deska tak beranjak dari tempat duduknya, dia kembali fokus membaca sebuah jurnal yang besok akan dia presentasikan di kampus.

“Itu pasti Mama. Deska bergumam dalam hati.

Suara langkah kaki semakin terdengar jelas dan mendekat. Deska bisa mendengarnya dengan jelas. Suara apapun, sekecil apapun suara itu, pasti akan bisa terdengar di rumah yang sunyi ini.

“Mama sepertinya menuju kesini. Lagi-lagi Deska bicara dalam hatinya.

Deska membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai, kemudian merapikannya dalam sebuah map. Dia harus segera bergegas menuju kamarnya.

Lantai atas hanya terdiri dari tiga ruangan. Kamar tidur, kamar mandi, dan sebuah ruangan kecil di mana hanya ada sebuah televisi dan karpet yang terhampar. Dan sejak beberapa tahun yang lalu, lantai atas adalah milik Deska. Rumah itu seperti disekat untuk dua orang yang tinggal di dalamnya. Lantai atas adalah daerah kekuasaan Deska, dan lantai bawah adalah daerah kekuasaan seorang wanita yang Deska panggil ‘Mama’.

“Deska, belum tidur?” Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Deska. Wanita paruh baya itu masih mengenakan setelah khas kantoran.

“Belum, Ma.” Deska masih sibuk memunguti kertas dan alat tulis yang berceceran di sembarang tempat.

“Sudah makan?” Tanya wanita paruh baya itu lagi. Kini, dia telah duduk di hadapan Deska.

Deska menatap Mamanya sekilas, kemudian beranjak berdiri sambil menenteng sebuah map dan menggenggam beberapa alat tulis.

“Udah. Ma, aku tidur duluan.”

“Deska, sebentar! Mama mau bicara.”

Deska berbalik kearah Mamanya, tanpa ikut duduk kembali.

Wanita paruh baya yang Deska panggil ‘Mama’ itu beranjak berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Deska.

“Mama sudah berfikir, dan Mama memutuskan akan menikah lagi.”

Deska kaget, alisnya agak sedikit terangkat. Tapi sebisa mungkin, dia berusaha tenang setenang-tenangnya. Sebuah map yang tadinya hanya Deska tenteng, kini dia genggam dengan erat. Sangat erat.

“Oh.” Deska menggumam.

“Kamu tidak keberatan, kan?”

Deska tersenyum. Sedikit dipaksakan. “Kenapa aku harus keberatan, Ma?”

“Baiklah, Mama anggap kamu setuju.”

“Terserah Mama.” Ucap Deska sambil tersenyum lagi. Dia berjalan menuju kamarnya.

“Deska, kamu tidak penasaran dengan calon Papamu nanti?”

Deska baru saja meraih gagang pintu kamarnya. Dia hendak masuk. Mamanya sepertinya tengah menunggu respons darinya. Dia menghembuskan napas kesal, kemudian berbalik ke arah Mamanya.

“Aku tidak peduli. Asal Mama bahagia, aku tidak masalah.” Ucap Deska tegas. Dia bergegas masuk menuju kamarnya, dan menutup pintunya rapat-rapat. Dari balik pintu, dia masih bisa mendengar Mamanya berkata terima kasih. Dia mendengus. Rasanya sangat kesal. Ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi rasanya semua hal itu tersangkut di kerongkongan dan menghilang.

Deska melempar map yang sejak tadi dia genggam ke sembarang tempat, kertas-kertas yang ada di dalamnya berserakan kembali. Dia tidak peduli. Dia berjalan ke arah tempat tidur dan berbaring di atasnya. Rasanya dia ingin cepat-cepat tertidur. Tidak ada yang berjalan dengan baik di hidupnya. Semuanya selalu berantakan dan jauh dari apa yang dia ingin. Terlebih mengenai dua orang wanita yang sangat dia cintai di dunia ini. Mamanya dan juga wanita itu. Dia merasa kehilangan keduanya. 

***

Deska menuruni tangga dengan tergesa. Hari ini ada kelas pagi, dia harus segera berangkat ke kampus. Jam dinding di kamarnya tadi menunjukkan pukul 8 kurang 10. Kelasnya di mulai 40 menit lagi. Dia harus bergegas. Biasanya di jam segini Mamanya sudah berangkat kerja. Tapi sepertinya tidak dengan hari ini. Ada yang berbeda. Mamanya duduk di sofa ruang tamu dengan pakaian kasual, bukan pakaian kantoran seperti biasa. Deska menatap Mamanya sekilas, ekspresi tidak tenang terlihat dengan jelas dari wajah Mamanya. Deska melewati Mamanya begitu saja.

“Aku duluan, Ma.” Ucap Deska sambil berjalan ke arah pintu.

“Tunggu, Deska! Ada satu hal penting lagi yang harus Mama bicarakan denganmu.”

Deska berhenti, kemudian berbalik ke arah Mamanya. Mamanya berdiri dan nampak ragu untuk berbicara. Melihat Mamanya seperti itu, Deska berdeham dan ekspresinya seakan berbicara, ‘Ma, cepatlah. Aku sedang terburu-buru’.

“Deska.” Wanita paruh baya itu menggumam. Dia kemudian duduk kembali di sofa.

Deska semakin tidak sabar.

“Ayo duduk dulu.” Pinta wanita paruh baya itu.

Deska menghembuskan nafas, kemudian berjalan pelan ke arah sofa dan duduk di hadapan Mamanya.

“Kemarin malam Mama sudah bilang akan menikah lagi, bukan?”

“Hm.” Deska mencoba sabar.

Wanita paruh baya itu seperti akan mengucap sebuah kata, tapi dia urungkan kembali. Dia nampak ragu. Hening kemudian menyelimuti mereka berdua.

“Ma.” Deska menggumam.

“Deska, Mama hamil. Ini sudah bulan ke-4”.

“Mama!” Teriak Deska dalam hati.

Deska kaget luar biasa. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Rasanya dia seperti tertampar oleh kenyataan yang baru saja Mamanya ungkapkan. Pedih, marah, kecewa. Ah! dia tidak tahu lagi harus menyebut apa yang dia rasakan sekarang. Dia menarik napas, kemudian menghembuskannya perlahan. Dia mencoba untuk kembali tenang. Saat perasaannya sudah kembali tenang, dia menatap Mamanya.

“Mama harus segera menikah.” Ucap Deska sambil beranjak berdiri. Dia sadar matanya mulai berkaca-kaca. Dia harus segera pergi dari tempat ini.

Wanita paruh baya yang Deska panggil ‘Mama’ itu diam. Ekpresinya menunduk. Deska tidak tahu apa yang sedang Mamanya pikirkan saat ini. Yang jelas, dia ingin cepat-cepat pergi. Deska segera meraih gagang pintu, dan keluar dari rumah itu cepat-cepat. Langkahnya tergesa. Berbagai macam perasaan dan emosi berkecamuk di dalam hatinya. Saat berjalan melewati gerbang rumahnya, sebutir air mata keluar begitu saja. Dia segera mengusapnya. Laki-laki tidak boleh menangis. Tidak lagi.

***

 

 

Pict from here

[slug] => kabar-tak-terduga [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1516024116.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 107 [issued] => 0 [author] => Asti Nurhayati [username] => Asti_Nurhayati [avatar] => file_1508344944.png [status_name] => published [category_name] => Project [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-01-15T20:48:36+07:00 [updated_at] => 2018-10-03T13:28:17+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.944442ms [status] => 200 )