Tentang Lelaki dan Benci

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Project
dipublikasikan 14 Januari 2018
Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu

Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu


Ini adalah projek estafet naskah dari FLP Garut yang nantinya ditargetkan menjadi satu novel yang utuh. Disebut estafet karena penulisannya bergilir dari satu anggota ke yang lain dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Kini, projek ini sedang dalam tengah-tengah perjalanan.

Kategori Fiksi Umum

598 Hak Cipta Terlindungi
Tentang Lelaki dan Benci

[HAIKAL]

“Bahagia itu kamu yang ciptakan, Rinda. Jangan terlalu larut dalam pilihan. Tak mungkin Tuhan menelantarkanmu!”

Setidaknya bebarapa ucap kata dari sang ibu dapat memberi oase diantara kemarau panjang di hatinya. Tak begitu menyegarkan. Bahkan, ia tak paham apa maksudnya. Namun, setidaknya itu cukup untuk membuatnya ingat bahwa ia punya pengharapan. Entah dalam bentuk apa.

Dua purnama lalu, kekasih, atau kini mendapat awalan bekas meninggalkannya begitu saja. Katanya “Orangtuaku tidak bisa menerimamu, Rin.”

Singkat, namun cukup untuk menguras habis sungai pengharapan di hati gadis yang selalu memuja kisah cinta ala princess Eropa itu. Kini tak ada dongeng yang lebih menyenangkan baginya selain kata-kata cinta dari sang ibu, hanya sang ibu. Ayahnya? Soal ayah, tak sedikitpun terbayang dalam benaknya seorang yang mendampingi ibu dulu. Lelaki yang katanya tak pernah berbuat kasar sekalipun pada ibunya. Lelaki yang dituliskan namanya di batu nisan sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-tujuh.

Lamunan demi lamunan mengantarkan ia ke jalan yang semakin tak dapat dimengerti. Bahkan oleh akal sehatnya sendiri. Ia hanya ingin sendiri. Tanpa lelaki.

***

            Sekali lagi ia melamun. Taman, tempat yang ia pilih kali ini. Rerumputan hijau kiranya cukup untuk mendamaikan pertikaian di relung hatinya, relung yang terdalam. Meski mungkin sebenarnya dangkal. Sedangkal pikirnya tentang lelaki dan benci, dua hal yang amat berhubungan baginya.

Rinda terdiam di sebuah kursi di sebelah danau dekat pepohonan rindang. Tidak benar-benar diam. Lebih tepatnya mengunyah keripik kentang yang ia beli sebelumnya di mini market. Susu cokelat di sebelah kanan tempatnya duduk sudah sirna setengah dari volume kotak kemasannya. Fokusnya berpindah ke makanan.

            Tak kurang dari tiga ribu enam ratus detik waktu yang ia habiskan di kursi taman itu. Entah angin iseng dari mana yang tiba-tiba saja membisikkan nama di telinganya. Kali ini ia ikut mengejanya.

I.N.D.R.A

Tersenyum, kala ia ingat di kursi ini dulu lelaki itu ia temui pertama kalinya. Indah, boleh dibilang romantis.

            Tak awet, hanya beberapa menit senyuman itu berganti tawa. Ia teringat wajah bekas kekasihnya yang tengah rikuh saat pertama bertemu ibunya. Setiap tetes keringat dingin yang keluar dari pori-pori lelaki itu sejumlah dengan alasan untuknya tertawa. Begitupun dengan kalimat yang terbata-bata. Rinda mengingat semuanya.

            Raut mukanya terus berganti tak keruan. Hingga di akhir ia menangis sembari tertawa. Mungkin kewarasannya tak nyaman berdiam lama-lama ditempatnya. Ia kembali dengan ratapannya. Ya, di kursi ini pula Indra meninggalkannya.

            “Orangtuaku tidak bisa menerimamu, Rin.”

Terngiang jelas di telinganya kalimat itu. Jangankan redaksi kalimat yang singkat itu. Raut muka Indra kala itu masih teringat jelas. Lelaki itu memelas minta dikasihani.

“Bodoh, aku yang harusnya dikasihani.” Ucapnya dalam hati sembari menelan ludah. Tak cukup keberaniannya untuk berteriak, bahkan sekali pun hanya berbisik. Fokusnya buyar, ia bosan mengingatnya. Bosan? Ia sendirilah yang terus mengejanya.

Seketika fokusnya mulai mencari haluan baru. Kali ini, ia tengok seorang anak yang tengah berlari-lari kecil di antara pepohonan. Riang, begitu yang tergambar lewat raut wajah si anak. Sesekali melompat, kemudian berlari lagi. Seolah tak ada kata masalah dalam kamus manapun di dunia ini. Anak itu tetap riang, berlari kesana kemari. Hingga kemudian terjatuh. Singkat waktunya dan sontak seorang wanita muda menghampiri dengan cekatan.

            “Leon kuat, Leon kuat. Nanti kita cerita ke papa ya kalo Leon habis jatuh dan bisa cepat sembuh.”

            Suaranya lembut, penuh kasih sayang. Namun, sarat akan semangat. Tangannya membelai halus rambut si anak.

            “Mama, mama, nanti papa juga ikut main ya. Papa juga kuat kaya Leon.”

            Anak itu berceloteh tanpa beban. Meskipun dari hidungnya tak berhenti keluar ingus, begitu juga air dari pelupuk mata. Baru beberapa detik dan pipinya sudah dibanjiri air yang sepertinya seasin air laut. Rinda mulai tersenyum dibuatnya, sesekali ia tertawa.

            Beberapa menit dan si ibu terus mengajak anaknya mengobrol. Ia tak mengomentari tangisan anaknya. Hanya menghibur, benar-benar hangat. Soal itu, Rinda tak mengerti. Ia hanya ingat ibu.

Anak laki-laki dan ibu itu pun pergi saat hari mulai terik. Meninggalkan tempatnya. Rinda berterimakasih dalam diamnya. Ia tersenyum dengan pelit.

***

 

 

Picture from here.

  • view 105