Dua Kemungkinan Dalam Hidup

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Project
dipublikasikan 14 Januari 2018
Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu

Estafet Naskah FLP Garut: Titik Itu Kamu


Ini adalah projek estafet naskah dari FLP Garut yang nantinya ditargetkan menjadi satu novel yang utuh. Disebut estafet karena penulisannya bergilir dari satu anggota ke yang lain dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Kini, projek ini sedang dalam tengah-tengah perjalanan.

Kategori Fiksi Umum

739 Hak Cipta Terlindungi
Dua Kemungkinan Dalam Hidup

#SATU

[ASTI]

“Selalu ada dua kemungkinan dalam hidup, Deska. Dan aku selalu memposisikan diri berada di antara keduanya.”

            Dua kalimat itu terus mengiang. Membuat telinganya pekak, bahkan sakit, atau kalau perlu berdarah. Hentakan jemarinya di atas keyboard berhenti. Tentu saja karena dengungan suara itu, untuk ke sekian kali. Ia mencoba menendang pernyataan itu dengan melepas napas berat. Namun kalimat sialan itu seakan mematri diri di dalam sana. Di tempat terapat di belakang kepala. Di tempat terdalam di sudut benak.

            “Ayah, aku lagi jalan-jalan sama Mama lho. Ayah kapan pulang? Jangan lupa oleh-oleh pesanan aku ya?”

            Suara cempreng itu membuat Deska lantas menoleh. Seorang ibu muda dengan anak laki-lakinya yang mungil. Mereka menempati kursi yang tak jauh dari sisi kanan Deska. Tampak si ibu mengusap-usap puncak kepala sang anak yang tengah asyik bersama ponsel yang menempel di telinga kirinya.

            “Iya, Ayah. Jangan lama-lama, ya. Aku kangen Ayah.”

            Tanpa sadar Deska tersenyum. Lekuk yang meninggalkan setitik air yang tiba-tiba menganak di dua matanya. Cepat-cepat ia berpaling. Mengerjap memecahkan kaca-kaca yang membuat pandangannya buram. Begitu menoleh ke arah kiri, pandangannya tertumbuk pada sepasang suami istri berusia senja. Sang suami tampak dengan sabarnya menyuapi istri yang bersandar pada kursi roda. Sesekali pria berkumis dan berambut putih itu mengusap tepi bibir istrinya yang terkena ceceran air sop.

            Deska kontan meneguk ludah. Pemuda itu bahkan tak bisa menyembunyikan raut takjub di wajahnya. Ia lalu menunduk. Meneliti sepuluh jemari panjangnya yang berjejer di permukaan keyboard. Kedua ekor matanya menangkap dua pemandangan di sisi yang berbeda itu bersamaan. Ia tersenyum jeri. Menikmati hangat sekaligus perih yang seketika menjalari inci demi inci kulitnya.

            Wajah cerah anak laki-laki itu menerbangkan ingatannya. Berhenti tepat di lembar usang dua puluh tahun lalu. Mengenang raut serupa yang pernah singgah di sebentuk wajah oval miliknya.

            Ah, betapa bahagianya ia dulu. Sebahagia anak kecil itu.

            Ekor mata kiri Deska masih merekam pasangan tua di sampingnya. Cinta memancar dari sorot  teduh kakek itu. Rasa serupa juga menyemburat di balik mata sang nenek yang tampak lelah.  Sehidup sesurga. Dua kata itu mungkin pantas menggambarkan romansa hidup mereka di usia senja.

            Ah, akankah ia seperti itu?

            “Selalu ada dua kemungkinan dalam hidup, Deska.”

            Deska tersentil. Suara sialan itu mengembalikannya ke alam nyata. Ia lalu mengangkat kepala. Menatap sisi kanan dan kirinya. Tak lama dan bergantian. Sebelum akhirnya ia kembali larut dalam lamunan.

            Selalu ada dua kemungkinan dalam hidup?

            Ia menganalisis dalam diam. Menerka-nerka kemungkinan lain yang tersembunyi di balik semua hal yang bisa dilihatnya dengan jelas. Anak laki-laki dan ibu muda itu tampil bahagia. Kakek dan nenek di samping kirinya juga terlihat larut dalam cinta luar biasa. Jika dalam hidup selalu ada dua kemungkinan, berarti selalu ada titik lawan yang bersemayam di sana.

            Di balik sesimpul senyum ibu muda itu, apa ada luka? Di tengah romansa pasangan senja itu, apa ada kecewa?

            Di dalam kebersamaan selama dua tahun ini, apa ada pura-pura?

            Serta-merta Deska terenyak di tempatnya.

            Tersadar. Bahwa Deska terlampau antusias mengemas rasa. Menjelmakan cinta menjadi bahagia.

            Namun, dua kemungkinan sialan dalam hidup melemparkannya ke sudut yang tak pernah ia duga. Sisi kecewa.

            Sementara sosok yang terus mengawang di bayangan tetap tak beranjak. Bahkan enggan untuk meninggalkan tempat itu. Posisi yang terletak di antara dua kemungkinan dalam hidup.

            “Kita duduk di sini aja deh, Mas.”

            Deska menoleh. Pasangan muda yang baru datang menempati kursi tepat di hadapannya.

            “Mau makan apa, Mas?”

            “Nasi goreng sea food.”

            “Oke. Aku mau makanan kecil aja ah.”

            “Jangan. Kamu harus makan. Kalau nanti malam kamu sakit, bisa-bisa acara lamarannya terganggu.”

            “Jangan lebay kamu.”

            Mereka berdua tergelak .

            Deska meneguk ludah. Sesak.

            Selalu ada dua kemungkinan dalam hidup. Dan Deska terdampar di sisi yang tak pernah ia duga saat ia menawarkan perjalanan menuju sisi yang ia cita.

***

 

 

Picture from google.

 

  • view 148