Sepak Terjang Sang Tempe

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Februari 2016
Sepak Terjang Sang Tempe

?

Tempe?

Apa yang pertama kali terbersit di kepala saat mendengar salah satu jenis penganan itu?

Kacang kedelai?

Atau jangan-jangan jadi inget temannya? Tahu?

??????????? Sejauh ini, di tengah-tengah masyarakat Indonesia khususnya, tempe dikenal sebagai salah satu makanan sederhana, yang tentunya berharga murah, akan tetapi sangat kaya akan kandungan gizi yang baik bagi kesehatan tubuh.

??????????? Namun di balik semua itu, ternyata telah banyak sepak-terjang yang dilalui sang tempe hingga kini ia bisa menjadi salah satu makanan yang diakui dalam kancah kuliner tingkat dunia.

??????????? Coba ulangi sekali lagi?

??????????? Iya, dunia. Tempe adalah salah satu penganan asli Indonesia yang sudah melesat di dunia internasional. Buktinya? Buktinya, hingga saat ini sudah ada tidak kurang dari 2.500 buku ditulis secara internasional yang membangun riset tentang produk kultural dari Indonesia itu.

??????????? Asli Indonesia?

??????????? Iya. Hebat, kan? Aku baru tahu kalau tempe itu orisinal dari sini ._. Masya Allah, kemana aja sih, Astiii X_X

??????????? Malah Onghokham mengatakan kalau tempe juga menjadi pahlawan bagi kesehatan puluhan juta jiwa orang Jawa yang miskin pada masa kolonialisme Jepang, lho ._. Selain itu, para tawanan perang yang diberi makan tempe bahkan terhindar dari disentri dan busung lapar ._.

??????????? Orang miskin? Para tawanan perang? Memang, duluuu tempe sangat identik dengan rakyat kalangan menengah ke bawah. Seperti yang sudah disebut di atas, ini karena tempe dibandrol dengan harga yang terbilang murah, dan yang paling membuat tempe dipandang sebelah mata adalah karena ia merupakan makanan busuk yang dibuat dari hasil peragian.

??????????? Makanan busuk, wah? Seperti dikatakan oleh Andreas Maryoto, seorang wartawan spesialis sejarah pangan, bahwa tempe muncul dari kedelai buangan pabrik tahu yang kemudian dihinggapi kapang[1]. Kemudian jadi tempe kedelai. Penyebutan tempe kedelai dikarenakan ternyata ada juga tempe dengan bahan yang berbeda, yaitu limbah ._. seperti tempe gembus dari limbah kacang, dan tempe bongkrek dari limbah kelapa.

??????????? Tempe semakin berkembang seiring dengan semakin meningkatnya kepadatan penduduk di tanah Jawa. Peningkatan jumlah penduduk tersebut mengakibatkan terjadinya persaingan ruang antara manusia dan hewan yang memerlukan ladang-ladang rumput yang luas untuk memenuhi hidupnya. Di pekarangan, orang-orang Jawa biasa mendapatkan bahan baku makanan seperti ayam, kambing, sayur-sayuran, pohon kelapa, dan lain-lain. Hingga kemudian pada abad ke-19, menu hewani akhirnya berubah menjadi tempe.

??????????? Faktor lain yang menjadi salah satu pendukung berkembangnya tempe adalah semakin meluasnya perkebunan kolonial yang membuat wilayah hutan turut menciut. Hal ini jelas mengurangi kegiatan para petani untuk berburu, beternak, maupun memancing, karena mereka harus bekerja menjadi kuli di perkebunan para kolonial itu. Dampaknya, daging tidak lagi menjadi menu makanan orang Jawa. Pemberlakuan tanam paksa yang sangat marak saat itu menjadikan tempe satu-satunya alternatif vital untuk menyelamatkan kesehatan penduduk di Jawa.

??????????? Karena asal-muasalnya itulah, di daerah perkotaan Jawa, terutama Jawa Tengah sempat meluas istilah ?manusia tempe?. Stigma negatif yang dapat dikatakan terasa mengejek mereka yang mengkonsumsi tempe. Makanan produk lokal yang dianggap rendah, murahan, bahkan menjijikan. Nada peyoratif terhadap tempe itu bahkan kerap kali diucapkan oleh presiden Soekarno saat memperingatkan rakyat Indonesia dengan mengatakan, ?Jangan menjadi bangsa tempe.?

Don?t judge book by it?s cover.

??????????? Tapi, ternyata eh ternyata, di balik tak sedikitnya pandangan negatif yang tertuju pada si tempe, ia bahkan membalasnya dengan kehebatan yang melekat pada dirinya. Menyelamatkan puluhan juta jiwa dengan kandungan gizi yang dimilikinya. Mereka, atau kalangan atas yang memandang rendah tempe jelas tidak tahu serta tidak mengerti khasiat luar biasa yang dibawa sang tempe, karena, jangankan mencoba mengkonsumsinya, baru tahu cara pembuatannya pun mereka pasti sudah bergidik ngeri. Karena tempe adalah makanan rakyat, bukan untuk kalangan istana.

??????????? Hingga kemudian, setelah seorang ilmuwan Belanda Prinsen Geeling melakukan penelitian ilmiah tentang tempe, disusul oleh observasi dari pemerintah Jepang pada tahun 1926, dan pada 1946 ditulis dalam jurnal Amerika yang terkenal berwibawa, yaitu The Clinical Nutrition[2], tanpa keraguan pamor tempe melesat dalam sekejap ke hampir seluruh belahan dunia. Dari Belanda, tempe meluncur ke sebagian besar daratan Eropa, lalu ia terbang ke Jepang, dan akhirnya bisa sampai di Amerika Serikat.[3]

??????????? Setelah semua deretan panjang khasiat tempe terbukti secara medis, makanan dari kacang kedelai yang dihinggapi kapang itu tak lagi minor bahkan hina. Jika di rumahnya sendiri, Indonesia, tempe lebih diasosiasikan dengan makanan masyarakat tingkat bawah, lain halnya di negara maju, justru di sana tempe dibandrol dengan harga mahal dan sangat dicintai kaum vegetarian di seluruh dunia karena merupakan penganan pengganti daging.

??????????? Setelah selama ribuan tahun menjadi penganan yang mewarnai kultur kuliner di Indonesia, khususnya kalangan bawah, kini tempe sudah tercatat sebagai salah satu makanan asli Indonesia yang berhasil mendunia. Hebat, kan? Fakta tersebut menunjukkan bahwa betapa budaya kuliner di Indonesia bukanlah budaya adab kemarin sore.[4]

??????????? Lalu pertanyaannya sekarang, bangsa tempe itu yang seperti apa?

Masih haruskah malu disebut ?bangsa tempe?? Sementara si olahan kedelai itu bahkan telah meroket menjadi salah satu penyumbang pada seni masak dunia. Kalau kata Radhar Panca Dahana sih, kita harus yakin bahwa kita adalah bangsa dan manusia tempe. Adalah bangsa yang dalam proses pemberadabannya akan menghasilkan produk-produk budaya yang bernilai tinggi.

Justru, dengan kenyataan yang ada saat ini, malah kita seharusnya khawatir karena mulai banyak pihak yang ingin mengakui si tempe ini ._. Semakin meningkatnya keberadaan tempe yang seiring juga dengan perkembangan teknologi, semakin beragam pula teknik-teknik pembuatan tempe dengan cara yang lebih modern. Mungkin karena mereka merasa menemukan teknologi baru untuk pembuatan tempe, mereka jadi ingin mematenkan tempe pula. Ih kok gitu -_- padahal menurut seorang pakar makanan tradisional yang aku lupa namanya siapa, pokoknya aku nonton di Trans TV atau Trans7 X_X, dia bilang katanya hal tersebut sangatlah tidak beretika, karena si yang ingin mematenkan itu bukanlah orang yang menciptakan tempe pertama kali. Sementara, penemu tempe kan anonim. Iya lah, dulu kan belum masanya ada pendaftaran hak paten seperti itu -_- Lagian, dari sejarah tempe yang sudah dipaparkan di atas, dapat dikatakan kalau tempe muncul dari sebuah ketidasengajaan karena saat itu masyarakat terhimpit dan kesulitan mendapat bahan pengan. Siapa yang nyangka tempe akan menjadi sefenomenal ini ._.

Masih ada lagi serangan yang seakan mengancam eksistensi tempe di dunia nyata ini.

Adalah kenyataan bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar terbesar di dunia yang mengkonsumsi kedelai. Lebih dari 50% untuk tempe, 40% tahu, dan sisanya adalah kecap. Tapi ironisnya Indonesia yang juga negara agraris malah harus mengimpor kedelai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Jika kita abai dari kenyataan bahwa sebagian besar kebutuhan kedelai untuk bahan baku tempe didapat dari impor, itu sama dengan kita membiarkan tempe dikendalikan oleh bangsa asing. Hal tersebut menurut Radhar, bukan lagi sekadar dosa kebudayaan karena tempe merupakan salah satu produk kultural masyarakat Jawa, tetapi sekaligus sebagai ancaman bagi masa depan salah satu kekuatan terbaik yang dimiliki oleh bumi pertiwi ini.

Kutunjukkan siapa kamu dari apa yang kamu makan. Masakan menunjukkan bangsa. Dan tempe hanya salah satu saja dari ribuan produk kultural yang ditemukan, dikembangkan dan dipergunakan bangsa ini selama ribuan tahun. Jangan sampai tempe bernasib serupa seperti banyak produk budaya lain yang sempat diklaim oleh negara-negara tetangga. Kalaupun elite atau pemerintah tidak bisa sehat dan keras dalam mengendalikan eksistensi tempe karena belum mendukungnya regulasi yang berlaku saat ini, rakyat yang ?tempe? dapat terus berjuang, bergerak, membuktikan kekuatan tempe dalam produk lokal, dan kekuatan lokalnya sendiri-sendiri.[5]

?

[1] Sejenis jamur ._.

[2] Radhar Panca Dahana, Ekonomi Cukup, hlm. 53.

[3] Acara yang ada di TransTV nggak tahu Trans7 ._. Lupa lagi -_-

[4] Radhar Panca Dahana, Ekonomi Cukup, hlm. 54.

[5] Ibid.

  • view 197