Utang Cinta Ibu

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Oktober 2017
Utang Cinta Ibu

Gumpalan kesedihan masih bercokol di hatiku, tapi itu seminggu yang lalu. Hari ini, kotak berwarna cokelat yang kutemukan di bawah ranjang Almarhum Ibu menjungkirbalikkan perasaanku. Tiga ratus enam puluh derajat dalam sekali hentak.

            “Aku benci Ibu!”

            Pernyataan tanpa aba-aba dariku mengejutkan ayah dan adikku yang tengah menyantap makan malam mereka dalam diam. Ayah meletakkan sendok dan garpunya. Raut bingung Ayah menatapku yang sudah menduduki kursi yang tak jauh darinya.

            “Ada apa, Kak?”

            Suara tenang Ayah semakin meluapkan kebencianku pada Ibu di dada. Aku bangkit lagi untuk memeluk Ayah yang kian termangu heran di tempatnya. Sembari dalam hati aku berjanji akan menelusuri kronologi usang yang kudapati di dalam kotak sialan tadi.

            Isak dari arah adikku bukan hanya mengusik adegan saat aku memeluk Ayah dengan sayang. Namun sekaligus menginterupsi kerja hatiku yang sedang berpikir dan menyusun rencana untuk menguak bukti pengkhianatan itu.

“Kenapa sih, Kak? Kenapa bicara sembarangan begitu! Kakak memang jauh lebih dekat dengan Ibu dibanding aku, tapi bukan cuma Kakak yang sangat terpukul karena kepergian Ibu.”

Ucapan dugaan yang dilontarkan Maya seperti percik api yang mendidihkan darahku. Kutatap adikku itu dengan nyalang seraya menyerang, “Ibu mengkhianati kita! Bahkan seumur hidup kita!”

“Ada apa sih, Kak? Coba Kakak duduk dan makan saja dulu.”

Tensi emosiku melunak seketika saat merasakan hangat genggaman Ayah di tangan kiriku. Tak mampu menolak, aku kembali menduduki kursi. Menyendok nasi dan memakannya dengan gerak mau-tak-mau. Ingatanku berjalan mundur meniti hari demi hari yang kulalui bersama Ibu. Menyusuri catatan warna-warni yang pada tiap barisnya kujumpai nama Ibu. Hingga kemudian, aku mengaduh begitu kaki bagian belakangku membentur sebentuk benda tumpul berwarna cokelat. Begitu kubuka, kotak itu menyedotku ke dalam kubangan jeri yang tak perlu waktu lama untuk bertransformasi menjadi wujud benci.

Aku mengerjapkan mata untuk keluar dari kelebatan menyesakkan itu. Menatap Ayah lalu beralih pada adikku bergantian. Kebencianku pada Ibu kian menjadi-jadi. Aku tak menyangka tabrakan antara tumpukan rasa dengan kotak sialan tadi akan menjelma menjadi segumpal benci.

***

Tidak hanya usang, semua uang berjumlah tiga juta rupiah yang kudapati di kotak itu pun lapuk. Juga surat-surat basi dengan rentetan huruf jelek berbentuk balok yang membuatku ingin termuntah-muntah. Dan dompet kulit yang teronggok putus asa karena dimakan usia. Beberapa potret di dalam dompet adalah bagian yang paling melengkapi bongkah kebencianku.

            Aku meraih carik-carik kertas yang diapit rapi oleh klip berwarna hijau. Klipnya yang masih terlihat baru membuatku berkesimpulan bahwa semua yang ada di kotak ini belum lama ditata oleh Ibu. Aku semakin yakin saat menyadari surat itu telah tersusun rapi secara kronologis waktu. Aku membentangkan lembar terbawah dan teratas. Ada rentang tiga tahun yang menjaraki kedua surat tersebut.

“Sebenarnja sudah tjukup lama saja ingin mengadjakmu berkenalan, Galuh. Pertama kali melihatmu, tempo hari kamu sedang berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Saat itu saja mau membesuk bibi jang djuga dirawat di sana. Sedikit pun saja tak pernah menjangka akan pertemuan-pertemuan tak sengadja di hari berikutnja hingga bisa seperti sekarang ....”

      Aku memanggut. Membayangkan potret muda Ibu yang pasti sangat serupa denganku. Tak seperti biasanya, pikiran itu kali ini malah membuatku muak menjadi duplikat seorang pengkhianat. Tak ingin berlama-lama menyimpan penasaran, aku melompat menuju surat dengan tanggal paling akhir. Huruf di kertas itu tak terlalu berbaris memanjang seperti yang lain. Pesan singkat itu cukup membuat mataku membola dalam sekejap.

“Bagaimana dengan rentjana pernikahan kita? Apa kita masih bisa memperdjuangkannja, atau kamu akan memilih perdjodohan itu,Galuh?”

      Refleks aku memindai satu per satu surat berdimensi waktu tiga tahun itu. Mencari benang merah yang menghubungkan semuanya. Setumpuk surat dan uang recehan berjumlah tiga juta dan dompet lusuh dan beberapa bingkai mini yang terselip di dalamnya.

            Pun di antara semua itu, hal pasti yang harus kulakukan segera adalah mendatangi pria itu. Satu nama yang terus muncul di setiap helai surat. Menusuk ulu hatiku. Mendidihkan kebencianku.

***

Benci itu tak membuatku melalaikan kewajibanku. Sebelum dijemput Izrail, Ibu memang sudah menyandarkan urusan rumah kepadaku. Maka dari itu, usai memastikan sarapan dan tetek bengek untuk ayah dan adik, aku bergegas meluncur. Lagi pula, aku melakukan semuanya karena rasa sayang pada mereka berdua, bukan sebagai pemenuhan janjiku pada Ibu.

            Lamunanku dibuyarkan oleh angkutan umum yang bertingkah seperti pemilik jalan. Pekikan orang-orang di luar sana semakin membumbui keterkejutanku yang masih menganalisis keadaan sebelum kemudian melenggang keluar. Mulutku sukses menganga. Sepersekian detik lagi saja, sisi kiri mobilku pasti babak belur karena disapa tanpa aba-aba oleh angkot berwarna merah itu.

            Entah bagaimana ceritanya, orang-orang mulai merubungi ujung pertigaan itu. Beberapa bapak bermotor dengan anak-anak berseragam yang mengekor di jok belakang, hingga wajah polos rombongan bocah SD yang tak mau kalah untuk mencari tahu. Di antara kerumunan itu, aku tak suka melihat keberadaan abang penjual sayur keliling yang langsung membuatku teringat pada Ibu.

            Aku tak menyadari kalau di hadapanku tahu-tahu menjulang seorang bapak dengan banyak ekspresi yang teraduk di wajahnya. "Saya minta maaf, Mbak. Saya buru-buru sekali karena takut terlambat. Di mobil ada anak saya yang harus cepat-cepat ke lokasi perlombaan."

Ini supirnya? Penampilannya tampak terlalu rapi untuk ukuran orang yang mau berangkat narik angkot. Tapi ucapannya barusan membuatku mafhum. Dan kalau aku tak salah membaca, ada rasa bersalah yang menggelayut kental pada nada bicaranya.

Tanpa menunggu responsku, bapak itu berjalan mendekati mobilku. Saat turut beringsut dan mengikuti gerakannya memeriksa kondisi mobil, ekor mataku yang menyeberang ke balik kaca tak sengaja tersangkut pada kotak sialan yang kuletakkan di jok depan. Sesuatu yang masih matang tetiba menyeruak ke permukaan. Ingatan yang berkelebat itu dengan cepat mengubah sorot mataku menjadi tatapan benci pada si supir yang kini terdengar mendesah lega. Rasa simpati yang beberapa detik lalu masih bertengger di puncak kepalaku pun melipir bersama halusnya udara yang diembuskan sang pagi.

“Alhamdulillah. Si Mbak-nya baik-baik juga, kan? Sekali lagi, Mbak, saya benar-benar minta maaf. Saya---“

Sebelum seratus persen mood-ku hancur, tanpa berucap aku melengos ke dalam mobil. Meninggalkan bapak itu melongo di tempatnya, membelah orang-orang yang merubungi keributan tak penting di pengawal hari.

Di gerbang komplek, aku berjumpa lagi dengan kaum seperti mereka. Kali ini adalah mobil angkutan berwarna ungu. Didorong rasa kesal yang menjadi-jadi, kutekan klakson sekuat mungkin. Bak mesin, sebentuk kepala botak otomatis menyembul dari sana. Aku melihat delik kesal yang menyerapah dari wajah pengemudi di depan yang langsung menancap gas dengan pijakan asal-asalan.

Untuk pertama kalinya, aku sebal pada tukang angkot bukan karena ketidakpatuhan mereka pada aturan jalan, melainkan cokolan benci yang tumbuh karena pengkhianatan ibu.

***

Setelah tiga puluh menit menyetir dengan perasaan dongkol, aku berbelok ke gapura sebuah perkampungan. Begitu menuruni mobil, pandangan beberapa pasang mata asing langsung tertuju ke arahku. Ada tukang bubur ayam yang dikerumuni antrian pembeli, seorang pemuda berwajah ngantuk tengah melayani pelanggan yang membeli bahan bakar di pom mininya, hingga pedagang sayur keliling yang disetop oleh seorang bapak. Aku melangkah menghampiri orang yang jaraknya paling dekat denganku. Mendengar suaraku, nenek itu lantas menghentikan sejenak gerak tangan yang tengah memangkas pagar rumputnya.

            “Selamat pagi. Nenek tahu alamat rumah ini, kira-kira di sebelah mana, ya?”

            Nenek itu melongokkan matanya ke arah kardus yang sebenarnya kupangku dengan perasaan jengah. Sentuhan antara kardus ini dengan kulit ariku seakan kian meningkatkan tensi kebencianku. Sepersekian detik kemudian, setelah meneliti alamat yang sengaja kutulis di permukaan kardus gila ini, wajah tersenyum nenek itu sempat memudar sebelum kemudian berkata, “Berselang tiga rumah dari sini, masuk saja ke gang. Nah, posisi alamat ini di rumah pertama kedua kiri. Begitu belok langsung ketemu, kok.”

            Pandanganku mengikuti mengikuti gerak tangan si nenek. Jarak gang yang dimaksud tak terlalu jauh dari posisiku berdiri saat ini. Dan tanpa sadar aku menghela napas lega. Mencari alamat ini ternyata tak serumit yang sempat kubayangkan. “Terima kasih banyak ya, Nek. Kalau mobil saya diparkirkan di sini boleh kan?”

            Setelah mendapat anggukan dari nenek itu aku lantas bergegas. Aku berjalan dengan ritme yang makin lama kian memelan, hingga tanpa sadar aku telah berada di depan rumah yang dimaksud. Aku mematung di depan rumah sederhana yang dibalut warna biru itu. Merapikan benci yang kian nakal memenuhi ubun-ubun. Sampai kemudian, saat aku hendak melenggang melalui gerbang yang terbuka, di saat bersamaan keluar pula sesosok gadis dari pintu utama rumah itu.

Bagian mengejutkannya adalah saat gadis itu menyapaku seolah sudah pernah bertemu denganku sebelumnya.

“Kamu? Perempuan itu?”

Aku jelas termangu. Jawabanku untuk sapaan sekaligus pertanyaan itu hanyalah kernyitan di kening.

“Ada keperluan apa Mbak ke mari?” Detik berikutnya gadis itu menunjukkan ekspresi tersadar karena dirinya telah membuatku bingung. “Kebetulan, karena saya juga ada keperluan sama Ibu Mbak, mending kita masuk saja dulu.”

            Sempat ada hening yang menguap begitu aku dan gadis itu menduduki kursi ruang tamu.

            “Mbak ini, kenapa bisa sampai ke mari, ya?”

            Rupanya ia ingin aku yang memulai pembicaraan. Kontan saja tanpa basa-basi aku berkata, “Ini benar rumah Pak Yusuf?”

            Jika tak salah membaca, ada perubahan pada raut wajah gadis itu begitu mendengar pertanyaanku.

“Ada apa dengan Bapak saya, Mbak?”

Luapan benci berbisik agar aku membanting benda yang sedari tadi membuat tanganku panas. Namun ekspresi gadis itu yang tampak menyendu sedikit meluluhkanku. Akhirnya aku menggeletakkan kotak itu dengan sedikit gerak menghentak.

Ia yang sempat terkesiap memandangku sejenak. Meminta izin untuk membuka kotak cokelat itu tanpa berucap. Aku pun menjawabnya tanpa bicara.

“Jadi ini yang Bapak ceritakan tentang surat-surat cintanya dan uang yang ia kumpulkan di Bu Galuh?”

Aku lihat mata gadis itu membola. Sepasang manik milikku pun ikut membulat. “Kamu tahu Ibu saya?”

Gadis itu mengangguk. Ia lalu memberi isyarat padaku untuk menunggu sambil langsung melesat ke bagian dalam rumah.

            Tak berselang terlalu lama, ia kembali dengan sebuah kotak yang ukurannya tak berbeda jauh. Kali ini aku menuruti perintah benci ketika mendapati isi dari kotak yang sama-sama sialan itu. “Pengkhianatan macam apa lagi ini?”

Bukan hanya surat-surat, di sana bahkan kudapati beberapa potret muda Ibu yang nampak tak ada bedanya denganku kini. Pantas saja gadis ini langsung mengenalku bahkan di pertemuan pertama tadi.

            “Pengkhianatan?” Gadis itu menatapku tak mengerti. Ia, meski telah kukagetkan dua kali, tetap saja bisa bersikap setenang itu. Ia bahkan segera mengambil alih kotak milik bapaknya itu sebelum benar-benar kuporakporandakan.

            “Iya ini semua, apalagi kalau bukan pengkhianatan?”

            “Apanya yang pengkhianatan, Mbak? Ini hanya serpihan masa lalu orangtua kita yang bisa kita raba.”

            “Di mata saya ini adalah pengkhianatan, karena saya tak pernah ingin ada orang lain di mata Ibu saya.”

            “Tapi setiap orang pasti punya masa lalu, Mbak.”

            Aku tersedu seketika. Air mata yang kutahan sejak kemarin tumpah ruah sudah. Adalah benar setiap orang memiliki masa lalu, tapi kenapa aku menyambut kotak yang kutemukan tak sengaja ini dengan penuh kebencian. Adalah aku yang salah jika merasa hanya aku dan ayah dan adik yang ada dalam lingkaran besar cinta ibu tanpa harus ada bayang-bayang sosok lain yang ternyata pernah sangat dicintai ibu di masa lalu. Adalah kenapa ibu tidak bertemu langsung dengan ayah saja sehingga tak ada kisah lain yang tersimpan di hati ibu saat hidup bersama kami.

Gadis itu melompat berpindah posisi duduk ke dekatku. Ia mengusap-usap bahuku. Menunggu bahuku berhenti berguncang. Dan begitu aku mulai menenang, aku dengar ia berkata, “Dulu, saat saya masih kecil, kotak ini sering sekali menjadi pemicu pertengkaran Bapak dan Ibu. Satu fakta yang aku tahu di balik pertengkaran mereka bahkan sempat membuatku membenci bahkan muak pada diriku sendiri.”

Aku menoleh pada gadis yang kini duduk di sampingku. Ia tersenyum dan menyodorkan segelas air mineral. Setelah memastikan minumku selesai, ia lalu mengangsurkan tisu. “Fakta apa?” Suara jernihku menunjukkan emosi yang sudah membaik.

“Sampai akhirnya Bapak berjanji untuk berubah. Bapak memang menepati janji, tapi saya masih belum bisa juga menghilangkan kebencian kepada diri sendiri.”

“Memangnya apa? Apa fakta itu berhubungan dengan Ibu saya?” Aku menukas penasaran karena ia meneruskan cerita tanpa menyinggung pertanyaanku.

“Hingga akhirnya, untuk menyembuhkan saya, Bapak membeberkan semua. Bahwa terlepas dari Bapak mencintai Bu Galuh sebagai kekasihnya dulu, Bu Galuh memang sosok –kalau kata Bapak, yang loveable.Bapak menceritakan semua hal menakjubkan pada Bu Galuh tidak sebagai orang yang mencintainya sebagai kekasih.”

Aku yang sempat kesal karena tak mendapat jawab, lantas duduk tertunduk. Bayang-bayang ibu berkelebatan di balik kelopak yang terpejam. Gadis di sampingku terus menjabarkan tentang ibu. Sudut hati terdalamku membenarkan sembari memintaku mempertimbangkan keputusan membenci ibu. Jika gadis di sampingku saja bahkan mengatakan bahwa Ibu adalah sosok yang loveable, lantas kenapa aku harus membenci Ibu?

“Ketika cerita-cerita Bapak mulai menyembuhkan saya dari belenggu rasa benci, saya mulai penasaran dengan kisah di balik surat-surat dari Bu Galuh ini.Dan sekarang kepingan puzzle ini sepertinya lengkap.”

Gadis itu sekarang beralih pada dua kotak di meja. Meraih bundel surat dari kotak milik ibuku dan bapaknya. Bergantian membaca surat demi surat yang miliknya juga ternyata sama-sama telah dikronologiskan. “Mereka ternyata lebih menakjubkan dari yang kubayangkan. Cara mereka berkenalan hingga berpacaran. Bu Galuh dan Bapak yang sama-sama berjuang mengumpulkan uang agar bisa melangkah ke pernikahan.” Satu tangannya kemudian memindai beberapa gepok uang di kotak milik Ibu.“Dan saya nggak menyangka kalau uang hasil narik angkot yang Bapak simpan di Bu Galuh ternyata sebanyak ini.”

Gadis itu lalu terdiam. Penjelasan darinya juga membuatku ikut tak bersuara. Aku hanya mengambil alih dua tumpuk surat dari pangkuan gadis yang belum aku ketahui namanya itu. Turut penasaran ingin mempertemukan lembar demi lembarnya.Saat aku tengah memindai setiap helai surat milik ibu, di bagian tengahnya ternyata terselip secarik kertas yang dilipat. Aku yang memang belum sempat memeriksa bundel surat ini dengan jelas lantas segera menariknya.

“Kotak ini Mas terima dari seorang gadis yang sangat mirip denganku, kan? Maaf, Mas, saya tak bermaksud mengusik luka lama. Saya hanya ingin pulang dengan tenang. Semua uang ini adalah hasil kerja keras Mas dan sudah barang tentu adalah hak mas pula.Maaf jika sangat terlambat mengembalikannya sehingga uang itu sudah tak mungkin lagi dipakai olehmu, Mas. Tapi bagiku, Mas, itu bukan sekadar uang. Ada rangkaian kisah, yang karenanya, kita bisa menjadi seperti sekarang ini. Dan hidup dengan pandangan masing-masing tentang cinta.
Saya tidak tahu harus mengucap maaf dan terima kasih dengan cara seperti apa. Salam hangat dari Galuh.

            Jantungku bukan hanya tertohok, namun jatuh dan berserakan di lantai. Ibu ternyata sudah sangat menduga kalau aku akan menemukan kotak sialan miliknya ini. Atau bahkan mungkin Ibu memang sengaja menyimpannya di bawah ranjang agar bisa dengan mudah kutemukan.

            Gadis itu, yang ternyata turut membaca surat terbaru dari Ibu, menampilkan wajah pucat. “Bu Galuh, eng ..., ibumu kemana?” Aku merasakan usaha kerasnya untuk menyuaraka pertanyaan itu.

            Aku meneguk ludah. Menyiram kesedihan yang tetiba kembali meruap. “Ibu meninggal sekitar seminggu yang lalu.”

            Mata gadis itu kian membola. Ekspresinya bahkan kian bertambah pias. “Tunggu sebentar.” Tanpa berucap banyak, ia kembali melenggang ke dalam. Dan kali ini benar-benar tak lama. Kurang dari satu menit ia telah kembali dengan sebuah amplop surat dalam rangkuman tangannya.

            Aku melihat dengan jelas kedua tangannya yang bergetar hebat saat ia dengan limbung menjatuhkan diri di sampingku. Kali ini ia yang terduduk lesu. Aku mengambil surat itu sementara ia menenggelamkan kepalanya ke atas bantal di pangkuan.

            Begitu melepas lipatannya, aku bertemu lagi dengan tulisan balok serupa seperti yang ditulis berpuluh tahun lalu.

“Galuh, saya yakin kamu pasti sangat merasa terbebani dengan segala hal tentang saya yang masih tertinggal di tanganmu. Termasuk tentang uang itu.
Saya tak akan menyinggung banyak hal, apalagi sampai mempermasalahkan jumlah uang yang tak akan berarti apa-apa di kehidupanmu yang sekarang. Saya hanya ingin mengatakan kalau saya merelakan uang itu untuk menjadi milikmu.
Sekali lagi ini bukan soal nominal. Saya hanya tidak mau berpulang dengan membiarkan uang itu menjadi dosa yang akan kamu tanggung nantinya. Maka dari itu saya merelakan semuanya untuk menjadi hakmu.”

Sorot mata nyalangku berguncang memandangi dua surat dari dua manusia yang pernah menjadi sepasang kekasih itu. Lidahku kelu dililit jalinan kata yang saling mereka pertukarkan di sana.

“Bapak saya juga meninggal sekitar seminggu yang lalu.”

Suara gadis itu sukses menendang ulu hatiku. Merontokkannya hingga turut berdebam bersama jantung di ubin putih itu. “Kamu juga belum menjawab pertanyaan saya dari tadi, apa fakta yang kamu sebut-sebut pernah membuatmu membenci diri sendiri ada hubungannya dengan Ibu saya?Kenapa Bapakmu harus menceritakan segala hal baik tentang Ibu saya hanya untuk menyembuhkanmu dari perasaan itu?”

“Fakta bahwa nama perempuan yang selalu menjadi penyebab pertengkaran orangtuaku dulu, adalah Galuh. Nama yang sama dengan milikku.”

Aku memutuskan untuk menginjak jantung dan hati yang masih tergeletak di bawah sana. Harus menaruh perasaan macam apa aku pada Ibu, sedangkan detik ini saja aku mempertanyakan semua kehangatan yang bergulir selama puluhan tahun di rumah kami di sana.

Ibu, di mana sebenarnya kau taruh cintamu yang berharga itu? Adakah kami mendapatkannya, terlebih aku yang selalu kau sebut sebagai duplikatmu?



----------------------------------------


Saya sedang mencoba bermain dengan sudut pandang di cerpen ini. Akan berbeda jika ditulis menggunakan ide dasar yang sudut pandangnya justru berada di tokoh Galuh dan Yusuf, serta beberapa sudut pandang lain yang terlibat di dalam cerpen ini yang sudah saya rencanakan untuk ditulis.
Tunggu cerita serupa dengan sudut penceritaan yang berbeda, yaa :)




Sumber gambar dari sini.