Sehidup Sesurga, Inikah?

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Juli 2017
Sehidup Sesurga, Inikah?

"Tahiyat awal, Pak.”

Kontan pria senja itu mengurungkan gerakannya yang hendak berdiri. Ia kembali terduduk dengan telunjuk kanan yang terjulur di pangkuan. Perempuan senja yang duduk di tepi ranjang tak henti merapal bacaan. Menuntun langkah salat sang suami hingga usai.

Yep! That’s my grandparents!

Episode itu selalu membuatku menunduk. Sekadar untuk menyembunyikan lekuk haru di kedua sudut bibir. Ah, betapa-betapanya kebersamaan mereka. Too awesome to be explained by word!

Keindahan itu kian menyata setelah aku mengetahui ribuan cerita di baliknya. Yup, flashback pengantar tidur aku menyebutnya. Momen di mana Nenek membagi cerita semasa hidupnya. Tentu saja padaku, cucu sulungnya.

Kisaran jam sembilan malam, Nenek akan masuk kamar untuk bergegas tidur. Seperti biasa, dengan posisi Nenek yang berebah di sisi ranjang dekat dinding, dan aku yang duduk mengutati laptop di tepi yang lain. Nenek tidak langsung tidur. Ia malah lebih sering berbaring menyamping memandangku. Seraya memeluk guling ia sering kali membuka percakapan dengan bilang dirinya yang belum ngantuk, misalnya, atau mengeluhkan nyeri lutut yang kerap kali ia rasakan, contohnya.

Apa pun.

Cakapan akan terus mengalir.

Terlebih jika kebetulan aku sedang memutar play list djaman doeloe. File musik era sekitar tahun 70 sampai 90-an peninggalan almarhum Bapak. Alunan itu seakan memaksa si flashback agar menyeruak ke permukaan.

Saat aku menge-play lagu-lagunya Rock Well, Van Hallen, atau bahkan Father-nya Peter Sue, Nenek lantas selalu bilang, “Ieu lagu karesep si Bapak, nya, Teh?  (Ini lagi kesukaan Bapak ya, Teh?)”

Aku mengangguk mengiyakan.

Yang dimaksud ‘Bapak’ oleh Nenek adalah Bapakku. Anak pertama Nenek, yang pun, menjadi anak yang pertama kali harus berpulang.

Lagu kesukaan Bapak itu kemudian menjadi backsound yang menggelar adegan demi adegan. Pertemuan Nenek dengan Aki yang menguntai sampai jenjang pernikahan. Mereka yang kemudian bersama-sama merancang keseharian setelah momen sekali seumur hidup itu. Rumah sederhana yang mulai diramaikan oleh kehadiran anak pertama dan kedua. Kegiatan Aki yang super padat. Pencapaian yang mulai menanjak menjelang kelahiran anak ketiga. Mereka terus berproses bersama,sampai akhirnya mewujud menjadi seperti saat ini.

Dan hei, rangkaian cerita Nenek seakan mengiyakan sepenggal tutur Fahd Pahdepie di buku Sehidup Sesurga-nya. Satu kalimat terakhir di halaman dua puluh delapan itu mengatakan bahwa, “Di dalam pernikahan, ujian selalu datang di awal justru agar kita bisa menemukan pelajaran-pelajaran baru, kedewasaan-kedewasaan baru, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang lebih dalam”.

Pertemuan antara bacaan demi bacaan yang kulahap, kilas balik cerita yang disuguhkan tiap malam oleh Nenek, plus banyak hal yang kujumpai di realita, mendamparkanku di sebuah konklusi bahwa, ‘Hei, Ti, pernikahan tak sesederhana yang selalu dibincangkan dan menjadi bahan kebaperan kalian, lho.’Ada banyak sekali tetek bengek dan poin serta perihal lain yang tak boleh alfa dari pertimbangan yang super matang.

Iyap! Tiap sendi dalam diri kita yang sebut saja, beberapa di antaranya adalah moral, sosial, hingga spiritual harus diatensi secara total agarbisa lebih siap bertualang dalam fase kehidupan super wah itu. Berkaitan dengan hal ini, aku jadi ingat ujaran Deasylawati dalam bukunya yang berjudul ‘Sebelum Aku Menjadi Istrimu’ bahwa persiapan pernikahan seringkali diidentikkan dengan kesibukan saat hendak menggelar resepsi. Padahal persiapan yang sebenarnya bukanlah itu. Masih kata Mbak Deasylawati, persiapan semacam itu seperti saat kita meyalakan api dengan sangat besar agar tempe yang dimasak cepat matang. Memang iya, matang. Namun coba gigit, bagian dalamnya pasti masih mentah. Seperti itulah persiapan yang instan, hanya mematangkan bagian luarnya saja.

Menikah kan ibadah yang dikatakan merupakan bagian dari separuh agama, tak mungkin kan kita mengemas persiapan yang sembrono untuk mengarunginya? Apalagi perjalanan ibadah dalam kapal pernikahan ini bukan hanya serius, tapi juga super misterius.

Di awal, mungkin hanya ada kecipak-kecipak air yang bahkan masih bisa ditangani bersama si tawa. Namun kian lama, ciprat itu malah membesar dan bahkan mengombak dengan gerak tak terduga. Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah akan mengaram putus asa begitu saja, atau saling menguatkan genggaman tersebab sadar bahwa itu adalah episode yang memerlukan penyikapan yang bijak serta yakin bahwa air akan menghentikan amukannya? Akankah pernikahan akan terpungkas menjadi hanya sesaat, ataukah dijaga agar menjadi ibadah yang langgeng hingga akhir hayat?Kisah akan bergulir sesuai kualitas serta kuantitas bekal dalam kantong masing-masing. Sehingga benarlah, bahwa sebelum benar-benar siap melangkah ke sana, adalah kudu bagi kita untuk menyempurnakan separuh jalan ibadah lain yang masih bisa dilakoni saat berstatus seorang diri (baca: jomblo :D).

Perihal itu, aku benar-benar menemukan cerminannya dalam cerita Nenek. Sebenarnya, banyak serakan cerita yang aku dengar dari pasangan lain, tapi mungkin, untuk sejauh ini, perjalanan hidup Nenek dan Aki-lah yang memukauku. Lebih mengharukan lagi, Nenek sering berkata bahwa ia tak pernah menyangka akan menjejak di atmosfer hidup seperti sekarang ini. Tentu saja laksa demi laksa suka mau pun duka telah ia kecap, dan Allah menjawabnya dalam esok demi esok yang selalu Nenek eratkan pada sang sabar.

Adalah tentu saja, hari ini Nenek dan Aki sudah tiba di episode yang mengharuskan salah satu dari mereka membimbing pasangannya dalam setiap adegan.

Aki tampak menolehkan kepalanya ke samping kiri. Nenek mengimbuhi dengan melafalkan, “Assalamualaikum warahmatullah.”

Dzikir, Pak. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar.”

Hatiku menghangat. Tanpa nada, aku merafal syukur demi syukur dalam benak.Senang karena Allah memberiku kesempatan untuk mengisi hari senja mereka. Ah, ataukah sebaliknya, kebersamaan mereka yang menghiasi hariku sehingga aku bisa banyak memetik ajar di sana. Sepertinya keduanya.

Meski di bilah lain yang juga cukup dalam, kerap terasa cucukan jeri. Tersebab ternyata tak kudapati gambar serupa antara Bapak dan Mamah karena Allah bahkan sudah memanggil salah satu dari mereka sebelum dijelang senja.

Kan? Ada varian rupa kisah dalam sebentuk pernikahan. Namun, bagaimana pun rekam adegan yang harus dilakoni, semoga bisa mencipta surga yang bisa dihidupkan bukan sekadar di dunia, pun terboyong hingga ke akhirat.

End untuk tulisan ini.

Flashback pengantar tidur yang dituturkan Nenek sering kali berakhir karena Nenek yang jatuh terlelap. Pun tak jarang karena Nenek yang tetiba melirik jam dinding kemudianberseru kaget, “Eh, gening jam sabelas. Sugan teh jam salapan keneh. (Eh, ternyata udah jam sebelas. Kirain masih jam sembilan).” Setelah itu ia akan berbalik menghadap tembok seraya menggumamkan bacaan sebelum tidur.

Sementara aku lebih sering meneruskan mengakrabkan diri dengan malam. Mengutati kursor yang seakan menantang balapan berkedip pada sepasang mataku yang tak jua disinggahi kantuk.

 

 Image from here.

  • view 41