Bercakap dengan Mimpi

Bercakap dengan Mimpi

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Juli 2017
Bercakap dengan Mimpi

Aku terenyak. Malam itu kau melemparku ke titik sadar dengan kekuatan luar biasa. Memojokkanku dengan hentakan membabi buta. Tegun sesaat tetiba dipecah oleh inci demi inci ari yang menjeri, disusul bulir bening yang meruah tak terperi.

Aku mengisak tanpa nada. Kupijiti pelipis di setiap ruas peluh yang kian mendingin. Tentu saja dengan gerak perlahan tersebab aku sedang melobimu, Mimpi. Namun makin lama, ingatan ini malah kian menyeretku ke dalam cuplikan-cuplikan mengejutkan darimu.

Jantungku mencelus. Gundukan rasa di sudut hati ini limbung. Tersebab jika kau saja sudah tak bersedia dijadikan tumpuan, apa lagi yang bisa kujadikan perantara untuk mengepakkan sayap-sayap rasa ini?

Mimpi, tolong dengan sangat.

Aku belum punya cukup keberanian untuk meminta izin pada realita. Masih banyak serakan variabel, pun bentangan jurang yang menjaraki. Aku masih harus berjuang untuk menyeberang. Meski sedikit pun tak tahu, apakah ada upaya serupa yang pun tergerak di selubuk hati di sana, aku tetap di kepengkuhan yang sama. Bahkan kalaupun navigasi akhir takdir tak sesuara dengan rasa ini, tak apa. Siapa yang tahu takdir akan mengkonversi diri di tengah perjalanan, bukan?

Sekarang kamu sudah mengetahui keadaannya, kan, Mimpi?

Jadi tolong, sampai batas waktu, yang sayangnya masih belum bisa kuestimasi, bersedialah kujadikan tumpahan rasa.

Hai, Mimpi, aku banyak mendengar bahwa dirimu ternyata bisa mewujud menjadi nyata. Maukah kali ini kau bekerja sama dengan realita untuk melakukan hal tersebut perihalku?

Oh, tapi tidak dengan cuplik getir yang kamu kilatkan di tidurku saat itu.

 

 

 

Image from here.

  • view 232