Hujan dan Masa Silam

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Januari 2017
Hujan dan Masa Silam

Hujan menyapa bumi yang belum lama bersua dengan sang fajar.

Aku duduk di kursi selasar. Menyaksikan atraksi hujan yang berbenturan dengan badan jalan. Melarikkan momen ini ke dalam kata bersama tuts-tuts hitam di pangkuan. 

Tak seperti biasanya, jalanan di sekitar rumahku terasa lengang. Hanya ada satu-dua anak sekolahan yang berlalu lalang. Mungkin mereka terlalu enggan berjumpa dengan rintik-rintik yang selalu antusias menyaru bersama denyut kehidupan.

Sampai kemudian, sebuah payung merah melintas. Mataku tertumbuk pada dua sosok yang berlindung di baliknya. Seorang ayah dengan anak lelaki berbalut seragam putih biru. Sebelah tangan pria paruh baya itu melingkar dan tertanam erat di pundak sang anak. Kulihat mereka bercakap. Sesekali bahkan tertawa.

Pemandangan yang hanya beberapa detik menerpa itu refleks memintaku untuk membuka arsip yang bertumpukan. Setelah berhenti di catatan beberapa tahun silam, aku terdiam. Tanpa sadar aku menghela napas dan bergumam, “Wah, Yaa Allah, i miss that moment.”

Menyadari bahwa that moment feel so impossible to come again, aku sempat tersenyum jeri. Tapi cepat-cepat aku mengerjap untuk merubah sebersit rasa yang tetiba singgah itu. Bahwa aku tak boleh bersedih karena telah kehilangan momen itu, seharusnya adalah, aku bahagia karena sempat diberi kesempatan mengecap detik-detik berharga seperti anak tadi. Alhamdulillah.

Dan hei, aku jadi ingat perkataan Wiranagara, bahwa air yang terkandung dalam hujan itu hanya ada satu persen. Adalah kenangan yang menempati porsi sisanya. Pun, aku sepakat.

All precious untuk Sang Pemilik Hujan. Aku selalu suka titik-titik air yang mendarat di pengawal hari. Hujan di pagi hari, love it so much.

 

 

Garut, hari ke tujuh belas di bulan Januari.

 

 

Sumber gambar di sini.

Dilihat 109