Autumn Comes, Eve!

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Project
dipublikasikan 06 Januari 2017
Breath

Breath


On Going

Kategori Fiksi Umum

136 Hak Cipta Terlindungi
Autumn Comes, Eve!

Radar!

Hanya dengan ekor matanya, Audrey sudah bisa menangkap dua angka itu. Embel-embel radar, selalu berhasil membuat rautnya berubah memasam. Seperti sekarang ini.

            “Kamu dengar aku kan, Audrey? Jam berapa sekarang?”

            Audrey sangat berterima kasih, karena setidaknya, Tuhan menakdirkan satu hari hanya berwaktu dua puluh empat jam. Audrey benar-benar sudah muak dengan angka ketiga setelah dua puluh empat itu. Dengan malas gadis itu menunjukkan layar ponsel yang menyala pada Evelyn di hadapannya.

            1:27 PM.

“Radar.” Jelas Audrey singkat. Tanpa irama.

            Seperti mesin, satu kata itu memantik Evelyn untuk melirik kalender di dinding. Bukan hanya ekpresinya yang berubah, Evelyn seketika berkemas. Gerakannya rusuh melesakkan beberapa barang ke dalam tas. Setelah yakin selesai, ia lantas bangkit seraya berkata, “Thank’s, Audrey. Aku nyaris saja lupa hari ini.”

            Audrey yang sebelumnya bersikap tak peduli, kontan beralih dari laptop. Keningnya berkerut hebat. “Apa maksudmu? Kamu mau kemana?” Ia bertanya dengan sedikit berteriak karena sahabatnya itu telah sampai di ambang pintu.

            Mau tak mau, Evelyn berhenti. Sejenak menatap Audrey yang menunggu jawab. Ia mengulas senyum ragu seraya berkata, “Seperti katamu, radar.” Sesudahnya, Evelyn meneruskan langkah. Sama sekali tak berbalik meski ocehan Audrey masih terdengar. Tak lama, dalam radius beberapa meter Evelyn meringis. Nada sebal Audrey seketika memuncak. Merambati partikel dinding di koridor tempatnya berjalan.

            “Eve! Kembali, atau aku tidak akan menganggapmu sebagai sahabat lagi! Lupakan radar dua puluh tujuhmu itu!”

            Evelyn meneguk ludah. Kaca-kaca seketika menganak di kelopak mata birunya.

***

Siang yang tak begitu terik. Pun tak ada mendung yang mengarak langit. Evelyn berjalan mengikuti alur Diana Memorial Fountain yang cukup ramai siang itu. Beberapa anak kecil berjalan di tepian kolam yang menyerupai parit itu. Tak sedikit juga yang sekadar duduk di sana, membiarkan kakinya direndam jernihnya aliran air. Masih jam sibuk memang, namun Hyde Park takkan pernah mengenal yang namanya sepi pengunjung.  

           Evelyn memasuki sebuah cafe. Tak lama, gadis itu keluar dengan satu cup kopi yang ditangkup kedua tangan. Sepatu cokelatnya kemudian meneruskan langkah. Dedaunan mulai jatuh terkulai di ruas jalanan yang dilalui Evelyn.

Langkah Evelyn berhenti di salah satu sudut taman. Sebuah kursi kayu panjang berselonjor dan bergeming di bawah pohon rindang. Evelyn mengeratkan rangkuman tangan pada cup kopi. Hangat yang menjalar sedikit melunturkan enggan yang menghalau, sebab detik berikutnya ia telah menempati kursi kayu itu.

Beberapa menit gadis itu tak bersuara. Hanya menyapukan bola mata ke sekeliling. Menyaksikan keramaian taman terbesar di kota London itu dalam hening. Kemudian Evelyn berbalik. Menatap batang pohon yang berdiameter cukup besar di belakangnya. Tanpa sadar ia bergumam parau, “Hai, pohon kesayangan Joe.”

Hatinya jatuh menghantam tanah saat matanya tertancap pada beberapa kata yang terpahat di sana. Meski memudar, tetap bisa dengan sangat jelas ia ikuti liuk demi liuknya.

Reserved. By Joe

 And so, Evelyn.

            Evelyn mencercap. Mengusir titik-titik air yang memaksa keluar dari tempatnya. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tote bag-nya. Kamera polaroid. Evelyn menenangkan napas sambil mencari posisi agar mendapat angel yang bagus untuk potretannya.

            Tak lama, benda itu memuntahkan secarik kertas berukuran mini. Jantungnya benar-benar bergemuruh. Sebelum seruak perih itu semakin menjalar, cepat-cepat ia menduduki bangku yang baru saja menjadi objek fotonya. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan tebal dan lem stik. Menempelkan hasil jepretannya di sana. Beberapa kalimat ia bubuhkan di bawahnya dengan tangan gemetar.

“Hai, Joe. Itu tempat dudukmu. Tak berubah. Kau harus cepat kembali dan duduk bersamaku lagi di sana.”

***

Tangan Evelyn terus menggurat sketsanya. Sesakali geraknya terhenti saat ia memperhatikan detail gambar dengan kernyitan kerning. Variasi keramaian yang terdengar di sana, sama sekali tak membuyarkan konsentrasi Evelyn. Lagipula, posisinya memang berada di sisi yang cukup jauh dari pusat taman . Fokusnya baru terberai saat tiba-tiba ponsel menjerit nyaring. Nama Audrey muncul di sana. Meski sempat ragu, ia akhirnya menerima panggilan itu. “Halo---“

“Eve, kamu pasti sedang di tempat rahasiamu itu, kan? Oke, untuk sekarang aku tidak akan membahas radar dua puluh tujuhmu itu. Kamu ingat kan sebentar lagi ada kelas Mr. Tom?”

“Aku---“

“Kamu di mana? Biar aku jemput sekarang. Lagi pula, apa maksudmu pergi tanpa mengenakan baju hangat di tengah suhu rendah seperti ini?”

Kalimat terakhir membuat Evelyn kontan memeriksa tas lalu berpindah mengamati pakaiannya. “Aku lupa.” Evelyn yang memang hanya dibalut sweater tak terlalu tebal dan celana jins panjang menyahut ringan.

“Aw! Oh, God, help!”

Ringisan itu memang tak terlalu jelas. Namun terlampau keras untuk diabai. Evelyn mencari arah suara dan serta merta kaget begitu mendapati, beberapa meter dari arah kirinya, seorang anak lelaki tampak merintih kesakitan karena tertindih sepeda yang ditumpanginya.

“Eve---“

“Nanti kuhubungi kamu lagi, Audrey. Sorry.” Ia memutus panggilan tanpa aba-aba. Setengah berlari Evelyn menghampiri anak lelaki itu. “Are you okay?” tanyanya cemas seraya menyingkirkan sepeda berwarna hitam itu. Sepeda yang sempat membuatnya buru-buru menggelengkan kepala. Anak lelaki itu kini terduduk setelah dibantu olehnya.“ Ban sepedamu menggilas batu ini. Jadi oleng. Kamu oke, kan?” Jelas Evelyn sambil menyingkirkan beberapa batu kecil ke jalur rerumputan.

Thank’s, Ms.” Senyum yang bercampur dengan sisa ekspresi nyeri melengkung di wajah anak lelaki itu. Namun raut itu dengan cepat berubah. Seperti teringat sesuatu, anak lelaki itu lekas merogoh saku celananya dan mengumpat kesal karena wujud benda mungil yang kini digenggamnya. “Ah, damn!”

Miniatur gitar di tangan anak lelaki itu menceloskan jantung Evelyn dengan sempurna. Evelyn tak berkutik. Hanya memperhatikan anak lelaki yang tengah mencoba merangkai potongan miniatur itu dan mematutnya dengan cermat.

Anak lelaki itu kembali memasukkan benda mungilnya ke saku. Perlahan, masih dengan sisa denyut nyeri, ia bangkit dan bergegas sesudah pamit pada Evelyn. Tanpa berkata, gadis itu mengangguk mempersilakan. Ia turut beranjak. Kembali ke bangku untuk meneruskan gambarnya yang terjeda. Tapi lagi-lagi, jantungnya melesak tanpa basa-basi tatkala mendapati sehelai daun terbaring manis di atas kertas yang dihimpit ponselnya.

Evelyn menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan gemetar yang melimbungkan tubuhnya hingga tanpa sadar tersungkur di pinggir bangku.

Sepeda hitam, miniatur gitar, daun kering di atas sketsa bayangan seorang pemuda yang tengah duduk di sebuah bangku panjang, konspirasi macam apa ini?

***

Lima tahun lalu.

Sepeda hitam meluncur melawan arah arusan air di Diana Memorial Fountain. Decit rem dadakannya mengagetkan beberapa orang di area pedestrian. Pemuda yang mengenakan t-shirt putih dan celana jeans selutut itu hanya mengangkat tangan santai saat mendapat tatapan protes dari mereka. Ia memarkirkan sepeda di depan sebuah cafe. Tak lama, ia keluar dengan menenteng paper bag berukuran cukup besar.

Perjalanan ia teruskan dengan ritme lebih pelan. Mungkin ia sedang menikmati cuaca yang bersahabat sore itu, sebab terdengar siulan riang dari mulutnya. Mungkin juga lantaran tak ingin kopi yang dibawanya tumpah, sebab beberapa kali ia memeriksa dan memastikan kondisi isi kantong itu.

Hari libur selalu jadi momen pengganggu baginya. Sebab taman itu akan terasa sangat ramai. Bukan hanya dipenuhi warga domestik, taman seluas 142 hektar itu juga disesaki para wisatawan mancanegara.

Jalur sepeda yang juga ramai membuatnya terpaksa harus memelankan kayuhan. Sesekali ia mengelilingkan mata ke setiap jengkal ruang publik super luas itu. Anak-anak yang sedang bermain frisby. Ada juga yang tampak asyik memberi makan tupai. Aktivitas dua lelaki di dekat danau berhasil menahan pandangannya. Pemuda yang mungkin, sebaya dengannya, tengah memapah seorang pria berambut putih yang berjalan tertatih diiringi tongkat. Ada yang bergemuruh di dada tatkala mendengar derai tawa yang meledak di sana. Cepat-cepat pemuda itu berpaling. Mempercepat kayuhan untuk menjauh dari pemandangan yang mengaktifkan sebentuk rasa di benaknya.

Lagi-lagi, ia menekan rem tanpa aba-aba begitu mendapati seorang gadis telah menempati bangku miliknya. Gadis berambut sepunggung itu duduk menenggelamkan wajah di balik tas yang dipeluknya. Tak jauh dari posisinya, beberapa helai kertas berserakan. Entah diterbangkan angin, atau memang dilempar dengan sengaja.

Pemuda itu bersimpuh. Merapikan sambil mengamati dengan takjub. “Geser sedikit.” Ucapnya kemudian tanpa basa-basi.

Tanpa sedikit pun mengubah posisi duduknya, gadis itu menurut.

Pemuda itu mengernyit sambil meletakkan paper bag-nya di tengah-tengah mereka berdua. Ia lalu mengeluarkan gitar di dalam ransel yang sedari tadi dicangklongnya. Beberapa buku dan sebatang bolpoin juga turut menghambur dari sana. Ia mulai memetik senar gitar. Memainkan nada sambil sesekali menuliskan not demi not yang ia gubah.

Cukup lama hanya mendengar suara gitar yang tak beraturan, gadis itu rupanya mulai terganggu. Ia mengangkat kepala. Melirik seseorang di sampingnya dan menukas dengan sebal, “Kenapa tidak cari tempat lain saja? Kamu menggangguku.”

Pemuda itu terbelalak. Ia beralih dari gitarnya untuk menegakkan posisi tubuh. “Bangku dan pohon ini punyaku.”

Pernyataan itu berhasil membuat gadis itu menoleh sempurna. Tanpa berucap, ia melempar tatapan protes pada orang asing itu.

“Lihat ini.”

Mau tak mau, gadis itu turut beringsut. Mengikuti pemuda itu yang memperlihatkan kalimat singkat yang terukir di batang pohon.

Reserved. By Joe.

            Gadis itu membekap mulut menahan kekeh geli. Wajah kesalnya perlahan pudar saat senyum tersungging di sudut bibirnya. “Evelyn.”

            Joe tertegun melihat jemari ramping itu terulur ke arahnya. Namun akhirnya ia membalas jabatan tangan itu bersamaan dengan gelak yang lepas begitu saja. “Evelyn Blossom?” Lanjut Joe di ujung tawanya.

            “Kamu tahu nama panjangku?”

            Joe mengedikkan bahu seraya dengan ringan menimpali, “Siapa yang tidak tahu salah satu murid terbaik di kelas melukis di sekolah kita?” Di luar dugaan, detik berikutnya Joe malah melihat raut Evelyn yang kembali muram seperti sebelumnya. “Ada yang salah dengan ucapanku?” Evelyn yang tak menyahut membuat Joe semakin merasa tak nyaman. Untuk mencairkan suasana, ia lalu mengangsurkan beberapa carik kertas yang bertebaran tadi. “Punyamu, kan?”

            Evelyn mengangguk dan menerima kertas itu. Saat tatapannya berpindah pada gitar di pangkuan Joe, ia bertanya, “Kamu murid di kelas musik?” Ia hanya mendapat jawaban anggukan singkat dari Joe. Kemudian dengan wajah berpikir ia melanjutkan, “Tapi aku tidak pernah melihatmu.” Meski sempat tertegun karena reaksi Joe yang membuatnya merasa mati kutu, ia masih saja meneruskan, “That’s okay. Sekolah kita besar, sih, jadi wajar kalau ada yang tidak saling tahu. Gedung seni lukis dan seni musik juga cukup jauh.” Detik berikutnya, Evelyn benar-benar memberenggut. Sebal karena Joe hanya menanggapinya dengan gerakan tubuh.

            Joe yang juga sedang berkonsentrasi pada gitarnya lantas menoleh begitu gadis di sampingnya tak lagi bersuara. Wajah yang, lagi-lagi, memuram membuat kening Joe berkerut. “Kenapa lagi?”

            “That’s mean you have to sing a song, Joe.”

            Joe benar-benar beringsut agar bisa menatap Evelyn secara penuh. Evelyn, gadis yang baru bertemu dengannya tanpa sengaja beberapa menit lalu, seenaknya menyuruhnya bernyanyi. Joe hendak mengatakan sesuatu, namun daun yang jatuh dan tersangkut di rambut hitam Evelyn  mengurungkannya.

            Evelyn terkesiap ketika tangan Joe tiba-tiba bergerak ke arah kepalanya. Bersamaan dengan upayanya untuk menghindar, pemuda itu telah menarik kembali tangannya. Hanya saja, ada selembar daun di sana.

            “Autumn comes.” Ucap Joe sambil mendongak menatap dedaunan yang mulai meranggas.

            Lagi-lagi, Evelyn mengikuti arah pandang pemuda itu. Tepian daun yang merangkak menguning menerbitkan raut takjub di wajah oval-nya.

            Di balik alisnya yang bertaut, sedikit banyak Joe merekam semuanya. Air muka Evelyn yang terus berganti dengan mudah dan cepat. So expressive. Cepat-cepat ia mencercap sambil berkata, “Ini.”

Evelyn menggerakkan bola mata. Bergantian dari daun yang dijulurkan padanya lalu beralih pada Joe yang menatapnya tanpa ekspresi. Keningnya berkerut dalam. Bertanya tanpa berucap.

“Anggap ini adalah tiket. Kalau kamu datang ke sini lagi dengan wujud daun ini yang masih utuh, aku kabulkan permintaanmu.”

Mata biru Evelyn serta-merta membulat. Ia mengangguk tanpa ragu dan dengan gerak tak sabar mencoba menyambar daun yang malah terjerembab ke dalam paper bag milik Joe. “Kopi panas? Ah, tidak, sudah menghangat. Untukku satu, ya, Joe?”

Lagi, Joe tak mampu menahan gelak.

***

 

 

Next chapter ....

Autumn comes.”

            Dua kata itu mencegat gerakan tangan Evelyn. Penasaran, ia meletakkan bolpoinnya di meja lalu menghampiri Audrey yang berdiri di ambang jendela. Jantungnya mencelos hebat tatkala menyaksikan panorama di bawah sana.

  • view 135