Gulita yang Bercerita (2)

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Gulita yang Bercerita (2)

Lanjutan cerita sebelumnya ....

 

“Kakak! Kak! Kak Darin!”

            Darin terlonjak saat Dino tiba-tiba berlari ke arahnya. Memeluknya erat. Hingga perlahan, bahu pemuda itu gemetar. Getaran yang kemudian berubah menjadi guncangan. Dino terisak hebat di balik punggung Darin.

            Dira yang tengah mengiris bawang buru-buru mencuci tangan. “Lo kenapa, No?”

            Sedetik setelahnya, Deva keluar dari kamar mandi. “Ada apa?”

            Darin mengusap-usap punggung Dino. Ia menuntun adiknya itu untuk duduk di kursi meja makan. Dira dan Deva mengekori. Cukup lama mereka menunggu sebelum akhirnya suara serak Dino berkata, “Aku takut gelap, Kak.”

            Ubun-ubun Darin dihujani kerikil. Lalu menembus ke dadanya. Kemudian melesat ke dasar hatinya. Menyakiti luka lama yang belum sempat kering. Pun dengan Dira dan Deva. Ucapan Dino sama-sama telah menendang mereka dengan sangat keras.

            Efek kalimat itu luar biasa. Tapi mereka bertiga lebih luar biasa. Bersikeras menjadi penipu meski sadar bahwa satu sama lain juga tengah ditipu.

            “Bicara yang jelas dong, No.” Darin memuji suara gemetarnya yang bisa dengan mudah diredam.

            Deva mengangsurkan segelas air mineral. Deru napas Dino tak lagi memburu setelah meneguknya. Perlahan namun pasti, Dino menceritakannya. Mimpi yang menguak kilas balik yang mencabik hatinya. Begitu bangun dan mendapati kamarnya gelap gulita karena jendela yang belum dibuka, lantas ia tergugu.

            Darin meneguk ludah. Bibirnya bergerak tak kentara. Susah payah ia mencari dan menyeleksi kata. “Mau minum lagi?” Desah berat terdengar di ujung kalimatnya.

            “Aku nggak mau di sini. Aku nggak bisa lihat setiap sudut di rumah ini. Aku mau ... pulang.”

            “Deva ke kamar, Kak.”

            “Itu akibat tidur tanpa baca doa.” Sebentar kemudian Dira kaget sendiri. Sejak kapan ia memvonis kenangan itu menjadi mimpi yang datang karena tidur tanpa baca doa? Dalam artian lain, ia menyebut kenangan itu sebagai mimpi buruk. Dira tak ingin ambil pusing. Ia bangkit untuk meneruskan irisan bawangnya.

            “Dari dulu, rumah ini adalah tempat kita pulang kan, No?”

            “Tapi rumah ini berubah, Kak.”

            Darin terpekur cukup lama sebelum kemudian dengan lirih berkata, “Bahkan Kakak belum bisa memastikan, yang berubah itu rumah ini, atau malah kita?”

 

 

 

 

Gambar di sini.

  • view 326

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya agak kurang konsen lantaran nama-nama tokoh yang hampir sama.
    tapi seperti biasa, diksinya selalu keren

    • Lihat 1 Respon