Gulita yang Bercerita (1)

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Gulita yang Bercerita (1)

“Waaah, mati lampu. Asyiiikkk!”

            Tinggal di wilayah yang sering menjadi sasaran pemadaman listrik bergilir. Bagi tak sedikit orang, menyebalkan memang. Saat aliran listrik terputus, keluhan bahkan umpatan pasti terlontar.

            Tapi tidak dengan rumah Bagas.

            Lampu padam tanpa aba-aba. Hitung saja satu-dua-tiga. Teriakan girang akan terdengar dari empat suara yang berbeda. Mereka lalu akan berkumpul melingkari meja di ruang keluarga. Tentu saja ditemani benda mungil yang menyala. Mereka menyebutnya lilin cerita. Enam gulungan kertas dalam wadah pun tak boleh lupa. Kali ini Bagas yang mendapat giliran mengundi satu nama.

            Dira.

            “Kok aku sih, Pak? Waktu mati listrik kemarin juga aku.”

            “Jangan salahin Bapak. Ini kertasnya aja yang ngeyel.”

            Dira memberenggut seraya berkata, “Sebelumnya aku mau berdoa, mudah-mudahan mati lampunya sebentar.”

            “Nggak-nggak-nggak. Semoga lama. Aamiin!”

            Serta-merta Dira menatap Darin dengan wajah protes. “Aku harus belajar buat ulangan besok.”

            “Makanya, belajar jangan pas mau ulangan doang.”

            “Ayo dong. Bang Dira mau cerita apa ini?”

           “Abang mau cerita tentang Pasukan Pilik yang ada di novel Perahu Kertas. Tugas baca dari Bapak bulan ini. Hobi banget kayaknya ngasih tugas baca buku tebel begitu.”

            “Semakin tebal justru semakin menantang kan, Pak?”

            Lewat penerangan yang hanya berasal dari lilin, Dira melihat Darin dan Bagas tertawa menyebalkan. Meski dalam hati ia membenarkan. Pasalnya, ‘tugas’ membaca satu buku satu bulan dari Bagas sering dijalaninya dengan keterpaksaan. Apalagi jika tebal bukunya melebihi rata-rata, setidaknya dalam ukuran Dira. Namun begitu sampai di halaman akhir, rasa terpaksa itu selalu terkikis habis oleh setiap bacaan yang dilahapnya.

            “Oke-oke aku mulai ceritanya.”

            “Kalian yakin nggak mau ditemani camilan biar ceritanya lebih seru?”

            Mata Dira seketika berbinar. Ia lalu beralih pada Wirda seraya berkata, “Nah! Aku kayaknya mending bantuin Ibu---”

            “Nggak ada.” Bagas cepat-cepat memotong sambil beranjak dari posisi. “Urusan Ibu, biar Bapak yang handle. Kamu mulai cerita.”

            Bagas dan Wirda berlalu menuju dapur. Sepeninggal mereka, gelak tawa mulai terdengar. Meski pencerita adalah Dira, bukan berarti Darin, Dino, dan Deva hanya menjadi pendengar yang pasif. Empat anak itu tumbuh dengan keunikannya masing-masing. Senyum kerap kali melengkung di wajah Bagas dan Wirda karenanya.

            “Alhamdulillah, Bu.”

            Wirda mengangguk.

Di balik cahaya temaram, mereka semburatkan bahagia. Saat gelap menjadi hal yang menakutkan bagi tak sedikit orang, tak berlaku bagi mereka. Karena dalam gelap pun, ada kebahagiaan yang bisa dicipta.

            Setiap orang hidup dengan kebahagiaannya masing-masing. Pun, Bagas, Wirda, dan keempat buah hati mereka.

 

 

 

 

 

 

Gambar di sini.

 

Cerita selanjutnya

  • view 508