Kelakar di Selasar

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Agustus 2016
Kelakar di Selasar

 

“Halo, La?”

            Suara bariton terdengar di seberang sana. Seulas senyum tanpa sadar menggurat di kedua sudut bibir Laras. “Ada apa?”

            Uap ragu menjeda kata sejenak. Dua detik kemudian terdengar embusan napas panjang yang disusul nada bicara khas Remi. “Tolong kirimin alamat lengkap rumah kamu ya.”

            Laras kontan mengernyit. Tak mengerti arah pembicaraan yang dilempar tanpa tedeng aling-aling itu. “Maksud kamu?” Meski belum sempurna mencerna, pertanyaan itu terlontar begitu saja.

            “Buku kamu yang aku pinjam mau aku kembalikan lewat paket, La.”

            Pernyataan itu sukses membuatnya terbelalak. Kalimat itu bukannya memperjelas, melainkan malah makin menggiring Laras ke dalam sekubang ketidakmengertian. “Maksud kamu? Maksud aku ... kenapa harus lewat paket segala? Kamu kan bisa---“

            “Aku nggak bisa ketemu kamu lagi.”

            Lidah Laras mengelu. “Maksud kamu?” Perbendaharaan kata dalam kotak memorinya seakan menyusut. Dihisap suara bariton yang dihantarkan ponsel yang terasa panas di telinga kanannya.

            “Lebih tepatnya nggak mau.”

            Palu jatuh dan menimpa pundak. Seketika Laras tersedak karenanya. “Ng ... gak mau?” Sial. Laras memaki suaranya yang malah ikut-ikutan terseret lenyap.

            “Aku mau undur diri dari kehidupan kamu, La.”

            Palu tadi sukses menembus ubun-ubun. Mengagetkan ulu hati yang kini jatuh dan berdebam di lantai. Sesuatu yang dinamakan tanda tanya mulai menganak di benak. Namun Laras masih bungkam. Terlampau kaget, bahkan sekadar untuk mengecap kata kenapa.

            “Aku pamit ya, La.”

            Hanya dari mendengar suaranya, Laras tahu kalau Remi sedang tersenyum. Cepat-cepat Laras menampar selengkung bibir yang membayang di pelupuk mata itu. Ia menghela napas sebelum kemudian menimpali dengan nada bergurau, “Undur diri? Pamit? Memangnya sejak kapan, sih, kamu datang? Aku nggak ingat tuh pernah bukain pintu buat kamu.”

            “Iya sih, La. Tapi---“

            “Remi-Remi-Remi, dengarkan aku ya.” Laras berdeham sebentar. Mengusir ludah yang mengental di tenggorokan. “Kamu kenapa jadi awkward gini, sih? Kaku banget tahu, Mas.” Laras mencoba tertawa di ujung kalimat yang sayangnya, terasa sangat garing.

            “Aku sering menggiring kamu ke obrolan yang riskan. Aku takut ke depannya akan ada yang mematahkan dan dipatahkan ... hati.”

            “Begitu?” Laras mengucapkannya dengan nada seolah sedang berpikir. “Ingatanmu payah ternyata Mi.”

            “Mm?”

            Mau tak mau, Laras tersenyum jeri mendengar gumaman pendek di sana. Pertanda bahwa Remi tak mengerti dan sedang menunggu jawab. Remi yang tanpa basa-basi. Setidakbasabasi beberapa bulan lalu. Saat tanpa ragu, pemuda itu menyapanya yang seketika menggagu.

            “La?”

            Suara bariton itu membuyarkan lamunan Laras. Sama seperti sekarang. Telepon tiba-tiba dari Remi seakan memecah gelembung lamunan yang mengawang di kepala. Seketika Laras sangsi. Mungkinkah setiap jengkal yang berlalu selama beberapa bulan ini hanya ilusinya semata?

Bisa saja Laras sebenarnya sedang terpekur di meja kerja. Larut dalam selaksa lamunan yang terasa lama dan nyata. Menciptakan adegan pertemuan Remi dan Laras. Membuat dua orang yang sempat berjauhan itu kembali dekat. Sampai akhirnya, jerit nyaring ponsel akan menguraikan setiap titik lamunannya. Kesadarannya kembali. Laras lalu akan mengangkat telepon. Meneruskan pekerjaan yang sempat terjeda. Semua akan berjalan seperti biasa dan baik-baik saja, seharusnya. Tak ada Remi yang kembali. Pun, tak akan pernah ada Remi yang pamit undur diri. Lagi.

            “Kamu oke kan, La?”

            “Kamu pernah bilang agar aku nggak pernah menganggap serius setiap obrolan kita. Perbincangan seru dengan teman lama. Semua hanya kelakar, bukan?” Lidah Laras terasa pahit tatkala mengeja kalimat terakhir.

Laras sadar betul bahwa dari awal, Remi tak pernah memiliki maksud. Satu fakta yang kemudian memaku Laras agar sekuat tenaga tak meraih daun pintu, mempersilakan pemuda itu menunggunya di ruang tamu, untuk sekadar meneguk secangkir teh di sofanya yang berwarna biru.

Mana mungkin ia akan dengan lancang mengajak Remi mampir ke ruang tamu? Sementara pemuda itu sudah jelas-jelas mendeklamasikannya dari awal. Memasang ancang-ancang bahwa ia hanya akan menjejak di selasar.

“Tapi obrolan kita akhir-akhir ini berlebihan.”

Berlebihan?

            Semilir angin berlalu lalang. Membelai kata demi kata. Kelakar di selasar pun lambat laun bertransformasi. Mewujud menjadi bincang beratmosferkan ruang tamu. Cicit burung-burung gereja riuh bersahutan. Mendesau dari dahan pohon ke tanah lalu menampar sudut dengar. Menyeret cakapan agar kembali ke titik awal. Sekadar cakapan penuh kelakar di selasar. Bukan bincang yang melenakan di ruang tamu. Apalagi ruang keluarga.

            Jantung Laras mencelos. Membenarkan ucapan Remi. Sekaligus menyesalkan keputusan pemuda itu. Eh, atau bahkan keputusan Laras sendirilah yang sepatutnya dipersalahkan?

            “Oke, Mi. Nanti aku kirim ke WhatsApp aja, ya.”

            Tak ada sahutan dari seberang sana. Selama beberapa detik, hening menguap dalam jarak. Merembeti jaringan yang mempertemukan suara mereka.

            “Oke, La. Aku tunggu ya. Aku kirim besok deh.”

            Laras meneguk ludah. Melesakkan napas sebelum kemudian berkata, “Tapi, Mi, satu hal yang harus kamu tahu. Seperti permintaanmu, aku nggak pernah menganggap serius obrolan yang memang biasanya serius. So, be calm. Adapun kalau kamu memang mau pamit, pergi aja. Seperti kataku tadi, aku nggak pernah merasa mempersilakan kamu masuk. Selama ini kamu hanya mampir di selasar, kan?”

            Nada serupa tertendang di sana. Remi turut mendesah. Memberai benang yang mengusut di ruang kepala. “Iya, La. Dan akhir-akhir ini aku lupa batas itu. Padahal aku sendiri yang memasangnya.”

            Sebenarnya, tak akan jadi masalah jika tak ada sekat yang Remi retas. Pun sesungguhnya, tak akan jadi soal jikalau sapaan dulu hanya Laras anggap angin lalu.

            Bagaimanalah ini?

            “La?

            “Mm?”

            “Bye.” 

            Sebentar setelahnya, panggilan terputus. Bahkan sebelum Laras sempat membalas salam perpisahan itu. Pada akhirnya, Laras hanya bisa menunduk. Nanar menatap layar ponsel yang telah kembali menampilkan wallpaper-nya.

            Jerit ponsel malam itu bukan hanya menarik Remi dari hari. Alunan Crush-nya David Archuletta kala itu, turut menampar kesadaran Laras. Bahwa mengunci pintu utama saja tidak cukup. Laras harus bersiap untuk menggembok gerbang depan. Agar selasar tak sembarang dijejak bincang kelakar.

 

 

 

Garut, hari ke sembilan di bulan Agustus.

Di jam makan siang.

 

 

 

Gambar diambil di sini.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Bukan cerpen bertemakan galau biasa. Kisah yang ingin disampaikan memang seputar romansa anak muda yang tarik ulur hingga akhirnya salah satu memutuskan untuk mundur bahkan saat rajutan asmara belum juga sempat terjalin. Topik yang sederhana dan sangat umum terjadi saat ini. Tetapi gaya penulisan yang banyak memainkan unsur metafora, kalimat demi kalimat yang tersusun indah lah poin pembeda cerpen ini dari tulisan dengan usungan topik sejenis. Tidak ada klimaks hebat di ujung kisah. Sisi luar biasa tulisan ini adalah sanggup menghanyutkan pembaca ke dalam emosi Laras dan Remi dengan cara yang asyik.

    • Lihat 1 Respon

  • pixiearmour 
    pixiearmour 
    1 tahun yang lalu.
    Baguss kak...

  • fika dianti
    fika dianti
    1 tahun yang lalu.
    Woww.. keren..

  • Nadia Munisa
    Nadia Munisa
    1 tahun yang lalu.
    Bahasa nya bagus, apik..

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Keren..

    • Lihat 1 Respon