Tanda Tangan

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Mei 2016
Tanda Tangan

“Tanda tangan macam apa ini? Parah! Kamu nggak mungkin bisa jadi pengusaha kalau begini!”

            Kalimat yang meluncur dari sana, bagai kerikil yang menghujani ubun-ubun. Lalu menembus dan satu per satu tertohok di ulu hatinya. Kedua tangannya terkepal. Pria itu telah melukai harga dirinya. Sangat dalam. Hingga ia benar-benar ingin menghabisi perut gempal itu dengan sekali tinjuan.

            “Di perkuliahan selanjutnya, saya ingin kalian berubah. Dimulai dari tanda tangan.”

            Sepeninggal Bambang, ruangan menjadi riuh. Bahasan akan tanda tangan menjadi perbincangan. Terdengar seruan girang dari mereka yang tanda tangannya mendapat pujian. Tak sedikit pula cibiran sebal serta tawa dari mereka yang bernasib sebaliknya.

            Bambang menuturkan bahwa kesuksesan berawal dari hal-hal kecil dalam hidup. Termasuk tanda tangan. Tanda tangan yang baik menurutnya, adalah yang dimulai dari bawah kemudian melesat ke atas dengan tingkat kemiringan yang curam, hingga berhenti di titik teratas dengan bentuk garis lurus yang stabil. Nilai filosofinya sudah jelas. Bahwa kesuksesan dititi dari bawah. Terus digapai tanpa kenal lelah yang singgah. Akhirnya, akan tiba di titik teratas yang merupakan analogi dari kesuksesan itu sendiri, tentunya, untuk menggapai kehidupan yang stabil.

            Sampai sana memang tak ada masalah. Ravi pun sepakat. Namun amarahnya tersulut saat dosen manajemen pemasaran itu memaki tanda tangannya dengan gamblang.

            “Tak berkarakter. Seadanya. Tak berorientasi. Mau jadi apa kamu? Benar-benar bermental pegawai.”

            Suara bariton itu mendenging di telinganya. Ravi tak berkutik. Percampuran antara kaget sekaligus mencoba mencerna cercaan itu bulat-bulat.

            “Lo mau ganti tanda tangan juga, Rav?”

Suara Hiban memecah lamunannya. Ravi melirik temannya itu sekilas seraya menimpali, “Harus?”

            “Katanya kalau tanda tangannya nggak bernilai filosofis yang dia jabarkan tadi, nggak bakalan jadi pengusaha kayak dia. Nggak bakalan sukses.”

            Ravi sukses melongo. Tangannya refleks menjitak Hiban dan berkata, “Hati-hati lo, Ban. Bisa-bisa lo nggak sukses karena kesimpulan sesat lo itu. Lo kudu inget juga kalau ketetapan Allah berada dalam prasangka hamba-Nya.”

            Hiban mengusap-usap pelipis yang menjadi korban tangan nakal Ravi. Ia mendengus saat Ravi hanya memamerkan gigi yang berderet rapi padanya. Cengiran kuda itu membuatnya sebal. “Tapi tadi Pak Bambang seperti menggiring kita ke pemahaman itu, Rav.”

            “Itu karena pikiran lo menyetujuinya.”

            “Sok cool lo. Kayak yang gue nggak lihat aja. Tadi di depan kelas, tinju lo udah gatel banget, kan?”

            Perkataan Hiban mengembalikan Ravi pada lamunan yang terputus. Bayangan masa silam berkelebat di benaknya. Titik-titik amarah naik lagi ke permukaan. “Bukan gara-gara itu.”

            “Lah alesan. Palingan nanti juga lo bakal ganti tanda tangan.”

***

“Sesuai kesepakatan dengan saya minggu kemarin.”

            Bambang menandang tanpa basa-basi. Ia meletakkan sebatang spidol di meja depan. Sambil mengelilingi ruangan ia berkata dengan gaya khasnya yang berapi-api, “Ayo. Saya ingin melihat perubahan kalian untuk menjadi pengusaha. Untuk menjadi sukses.”

            Satu per satu maju ke depan. Whiteboard mulai dipenuhi goresan tanda tangan. Tak sedikit tanda tangan baru yang diberi acungan jempol sebagai tanggapan. Tak sedikit pula tanda tangan berwujud baru yang masih dipermasalahkan.

            Pada gilirannya, Ravi maju dengan langkah mantap. Tangannya bergerak pasti. Menggoreskan sebentuk tanda tangan yang sama. Sementara di kursinya, Hiban menatap sobatnya itu heran.

Kening Bambang mengernyit dalam. Matanya memperhatikan tanda tangan Ravi. Kemudian beralih meneliti Ravi yang masih di posisi. “Anda tidak mengganti tanda tangan?” Akhirnya Bambang bertanya. Sepertinya ia masih dengan betul mengingat Ravi. “Kenapa?” Tanyanya lagi setelah melihat anggukan dari pemuda jangkung itu.

“Karena saya merasa tidak konsisten kalau harus mengganti tanda tangan. Mungkin Bapak berbeda. Tanda tangan bagi Bapak adalah jalan untuk mengekspresikan semangat hidup. Tapi bagi saya, tanda tangan adalah sebuah komitmen. Dan saya harus menjaganya sampai akhir. Apalagi, ada cerita berharga yang tersimpan di balik tanda tangan saya, yang menurut Bapak tak berkarakter, seadanya, dan tak berorientasi ini.”

Semua mahasiswa terperangah. Mereka menegakkan posisi duduk. Siap mendengar terusan dari Ravi. Pun Bambang. Tatapan takjub terpancar dari mata tajamnya. “Cerita berharga?” Tukas Bambang sambil menempati sebuah kursi.

“Iya.”

“Bagaimana?”

***

“Kenapa harus ada tanda tangan sih?”

            Pidi yang baru pulang dari kantor langsung menghampiri Ravi. Serta-merta ia menggenggam telapak tangan Ravi yang sedari tadi mengacak-acak rambutnya sendiri. “Anak ayah kenapa?” Tubuh Ravi yang tak lagi mungil ia pindahkan ke pangkuan.

            “Ayah mau nggak, bantuin Ravi bikin tanda tangan? Ravi bingung ini.”

            Kening Pidi mengernyit. “Tanda tangan buat apa?”

            Ravi mengangsurkan secarik kertas pada ayahnya. “Ini. Di lembar jawaban ujian harus ngisi tanda tangan.”

            “Wah, anak ayah bener-bener udah gede. Sebentar lagi malah mau ujian nasional.” Pidi menerima lembar jawaban itu. Kolom tanda tangan di sana nyaris kusut karena berkali-kali dijadikan lahan tryal and error oleh Ravi. Dan Pidi tersenyum geli karenanya. “Jadi kamu lagi latihan ngisi lembar jawaban?” Ia lantas mencubit gemas pipi Ravi yang hanya menjawab dengan anggukan. “Ayah bantu tapi dengan satu syarat.”

            Ravi menoleh pada ayahnya dengan gerakan malas.

            “Nah, itu yang ayah nggak mau.”

            Kini Ravi menatap Pidi tak mengerti.

            “Senyum dong. Biar belajarnya juga menyenangkan.”

            Bukannya mengiyakan, Ravi malah memberenggut manja.

            “Ayah gelitikin aja biar sekalian kamu ketawa.”

            Belum sempat Ravi menghindar, jemari Pidi sudah mendarat di perutnya. Membuat anak lelaki itu tergelak di pelukan ayahnya. Berkali-kali Ravi mengangkat tangan, karena pada akhirnya, Ravilah yang harus menyerah. Dan harus memamerkan deretan gigi yang gigi serinya baru saja tanggal.

            “Yah, tanda tangan itu buat apa sih? Buat ngisi lembar jawaban di ujian?”

            Sejenak Pidi terdiam. Menyusun jawaban agar bisa dengan mudah dicerna Ravi. “Banyak. Bukan hanya untuk ujian. Tapi yang jelas, tanda tangan itu untuk segala sesuatu yang penting dan berharga buat kamu. Dan kamu harus menjaganya.” Pidi meringis melihat Ravi yang masih termangu. Diusapnya puncak kepala Ravi seraya berujar, “Nanti juga kamu mengerti.”

            Cukup lama ayah dan anak itu larut dalam ‘perjalanan menentukan tanda tangan Ravi’. Sudah bermacam-macam tanda tangan mewujud dari pena yang digoreskan Pidi. Berkali-kali Ravi menggeleng karena tak bisa mengikuti liukkan Pidi, sebanyak itu pula Pidi mencoretnya.

            “Jadi kamu mau yang mana? Padahal yang ini gampang, bagus juga. Daripada ini.” Tangan Pidi berpindah menunjuk dari satu titik ke titik yang lain.

            Ravi masih menggeleng. “Bikin yang lebih gampang dong, Yah.”

            Beberapa detik Pidi terdiam. Bingung menemukan gaya yang baru karena sudah cukup banyak yang ia coba.

            “Nah itu, Yah.” Putus Ravi cepat dan mantap begitu bolpoin hitam itu mendarat sempurna di atas kertas.

            Kening Pidi mengernyit. Matanya bergerak mengamati semua tanda tangan yang dibuatnya. Lalu tatapannya berakhir di mata Ravi yang berbinar senang. “Padahal ini semua lebih bagus menurut ayah.”

            “Tapi Ravi suka yang ini.” Tukasnya tanpa balas menatap Pidi. Anak lelaki itu kini asyik dengan pensil dan kertasnya. Berkali-kali berseru girang karena berhasil menggambar tanda tangannya dengan sempurna. Tanpa kesulitan pula.

            Pidi menghela napas. Mau tak mau, secercah senyum turut terbit di wajahnya.

Keesokan harinya ....

“Lho, Yah. Ini apa?” Tanya Alya sambil meraba bagian saku kemeja Pidi.

Pidi menunduk. Ia kontan tertawa begitu melihatnya. “Tanda tangan Ravi.”

            Alya mengernyit. Tak sepenuhnya paham maksud suaminya itu.

            “Ayo berangkat, Yah.”

            Pidi dan Alya menoleh bersamaan. Ravi sudah lengkap dengan seragam merah-putih rapi dan tas di pundaknya. Tali sepatu pun sudah saling merapat di simpulnya. Alya bersimpuh lalu bertanya, “Ravi, kamu kenapa curat-coret di baju ayah?”

            “Ravi bukan nyurat-nyoret, Bu. Tapi kemarin ayah bilang kalau tanda tangan itu untuk segala sesuatu yang penting buat Ravi.”

            Pidi dan Alya berpandangan. Pidi ikut bersimpuh di samping Alya. Dengan ekspresi berpikir ia menimpali, “Jadi maksudnya, ayah penting buat Ravi?”

            Ravi mengangguk cepat-cepat. “Di baju Ibu juga ada, kok. Tapi bukan baju yang ini.”

            Sekarang Pidi dan Alya sama-sama tergelak. Tak menyangka sekaligus takjub dengan tingkah anak sulung mereka.

            “Kalau begitu, ayo kita berangkat!” Pidi menggendong Ravi. Mendudukkannya di jok motor. Sementara Alya mengikuti dan duduk di belakangnya.

***

“Setelah itu, saya nggak lagi melihat sosok ayah secara utuh. Karena sore harinya, ibu mendapat telepon kalau ayah mengalami kecelakaan lalu lintas. Kemeja ayah pulang dalam keadaan bersimbah darah. Tapi bagian sakunya nggak. Orang-orang menemukan ayah dalam keadaan memegangi dada bagian kirinya. Meski mereka mengira ayah melindungi dompetnya, tapi saya yakin, tanda tangan saya yang ayah lindungi.”

            Ravi bersimpuh di depan ruangan. Meredam lutut yang bergemeletuk dan kaki yang bergetaran. Dihelanya napas berat. Sekaligus memendat air mata yang siap mendarat. “Makanya Pak, kemarin saya sempat kesal sekali sama Bapak. Bukan karena Bapak mengatai tanda tangan saya yang menurut Bapak tidak memenuhi kriteria buat jadi seorang pengusaha. Tapi karena saya punya cerita di balik tanda tangan itu.”

            Bambang beranjak. Menghampiri dan meminta Ravi agar kembali berdiri. Digandengnya pundak Ravi dalam posisi tegak seraya berkata, “Apa barusan? Laki harus kuat!”

            “Saya ....”

            Bambang mengeratkan pegangannya di pundak Ravi. “Anda menjaga apa yang sudah ayah anda jaga?”

            Ravi mengangguk samar. “Lagi pula, yang saya tangkap dari permintaan Bapak kemarin, tanda tangan hanyalah sebuah analogi. Mengubah diri, menjadi lebih baik tentunya, akan sama sulitnya dengan mengganti tanda tangan. Kalau saja otak seperti roda yang berkarat, maka saat tangan kita bergerak menuliskan tanda tangan baru, otak kita akan berdecit karena gerakan yang di luar jalur. Perlu pembiasaan agar tangan dan otak kita bisa dengan mudah menulis tanda tangan yang baru. Begitu juga dengan berubah menjadi lebih baik. Perlu pembiasaan agar kita menjadi terbiasa dengan perubahan itu sendiri.”

            Penjelasan panjang lebar dari Ravi membuat Bambang termangu sejenak. Sekarang tangannya menepuk-nepuk pundak Ravi. Ia mengedarkan pandang ke seisi ruangan. Beberapa di antara mereka, terutama mahasiswi tampak dengan mata sembab. Bahkan masih ada sisa isak di sana. Larut ke dalam penuturan masa kecil Ravi.

            “Dia benar. Dia tepat. Anda-anda yang sudah mengubah tanda tangan, apakah merasa kesulitan?”

            Mereka yang dimaksud, mengangguk serentak.

            “Iya, Pak, kagok.”

            “Masih sering lupa, Pak.”

            “Tapi dalam beberapa hari saya sudah terbiasa.”

            Ravi melirik ke arah Bambang santun. Mengerti maksud pemuda itu, Bambang mengangguk mengiyakan.

            “Bukan berarti saya mengenyampingkan semua penjelasan dari Bapak kemarin. Saya setuju dengan filosofi Bapak mengenai bentuk sebuah tanda tangan yang menggambarkan fase-fase kehidupan. Yang bisa diubah kapanpun sesuai dengan spirit kita. Tapi setiap orang bebas hidup dengan persepsinya masing-masing, kan?”

            “Jadi, lo nggak akan mengganti tanda tangan?”

            Ravi menoleh pada sahabatnya yang turun bicara. Dan mengangguk.

            “Meskipun menurut Pak Bambang, tanda tangan lo itu tak berkarakter, seadanya, dan tak berorientasi?”

            Ravi mengangguk lagi. “Terserah orang mau mencerca bagaimana. Selama kita tak pernah membenarkannya, cercaan itu tak akan pernah berlaku. Tidak ada yang lebih berhak menentukan sesuatu itu baik atau buruk, selain diri kita sendiri. Seperti halnya Allah yang memberi ketetapan sesuai dengan prasangka setiap hamba-Nya.”

            “Ravi?” Panggil Pak Bambang yang semakin ingat nama pemuda di sampingnya itu.

            Ravi lalu beralih pada Bambang. “Iya, Pak?”

            “Saya hanya ingin memastikan kalau maksudmu menjaga tanda tangan itu, adalah menjaga pribadimu yang konsisten. Bukan hal lain di luar itu.”

            Ravi mengerutkan kening. Bertanya tanpa berucap.

            “Anda tidak sedang meratapi dia yang sudah tiada, kan? Anda sudah berdamai dengan masa lalu, kan?”

            Ravi lantas menggeleng. “Nggak lah, Pak. Saya nggak mau menyulitkan dia di sana, hanya karena kesedihan yang berlebihan.” Seulas senyum yakin mengembang di wajahnya. Bayangan masa silam kembali membayang di pelupuk mata.

Saat Pidi berkutat bersama bolpoin dan kertasnya. Saat Pidi mencoret dari satu titik ke titik yang lain dengan ekspresi berpikirnya. Saat Pidi menemukan tanda tangan yang tepat untuk Ravi. Putranya yang akan mengikuti ujian nasional sekolah dasar.

 

 

 

Gambar diambil di sini

  • view 204