"Jangan Lama, Pak." (End)

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Mei 2016

(Cerita sebelumnya)

 

“Sepulang dari kantor tadi, saya sama Pak Rahman ke toko mainan.”

Pelayat terus berdatangan. Tak sedikit dari mereka tiba dengan ekspresi kaget. Wajah itu kemudian berubah menjadi raut merenung setelah kronologis diceritakan. Satu demi satu dari mereka turut membacakan ayat suci Al-Quran untuk almarhum Rahman. Mereka juga bergantian memeluk Lia yang sedari tadi tenang dalam dekapan Naufal.

 Tikaman mendadak itu jelas membuat Naufal limbung. Namun tangisan Lia membuatnya mau tak mau meredam semuanya. Ia harus membebat air matanya agar dapat merengkuh Lia ke dalam dekapan. Ia harus mengubur wajah terlukanya agar dapat mengusap lembut punggung Lia yang terus berguncang.

“Kak, mobillannya lussak lagi.”

Saat Naufal menoleh, rundungan luka semakin dalam menelusupi dirinya. Hatinya semakin berkecamuk kala mata bulat itu memandangnya lugu. Hatinya sukses remuk ketika Fayad mengangsurkan benda mungil itu padanya. Naufal mendesah frustrasi. Ia mengeratkan dekapan pada tubuh Lia. Si kecil itu telah berhasil meruntuhkan pertahanannya. Dan akhirnya, Naufal memilih untuk tergugu di bahu ibunya.

Naufal terjaga di balik matanya yang terpejam. Memutar detik demi detik adegan. Membuka lembar demi lembar kenangan. Hingga kemudian, serangan jantung mendarat dan memungkas semuanya. Keadaan macam apa ini? Bukankah sedetik sebelumya ia tengah membicarakan rancangan masa depan dengan sang Bapak? Lalu bagaimana dengan Fayad? Masih banyak sekali waktu yang belum Fayad lewatkan dengan Rahman.

Fayad dipangku oleh seseorang. Didudukkan dengan nyaman di sofa dekat kursi kerja Rahman. Setiap orang yang melaluinya pasti memeluk tubuh mungil itu dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Sementara, Fayad hanya membalas mereka dengan wajah polos. Mata bulat yang berbinar itu berhasil membuat mereka tak kuasa menahan isak.

            Beberapa kerabat mencoba mengajak Fayad bermain atau sekadar berbincang. Namun Fayad yang biasanya bersemangat bahkan tak memberi reaksi berarti. Ia bertahan di posisinya. Terus berkutat dengan mobil-mobilan hitamnya. Tangan mungilnya bergerak-gerak lentik memperbaiki ban yang kembali lepas. “Mau minum.” Fayad berujar tanpa menggerakkan pandangannya.

            Satu dari kerabat yang mengerumuninya langsung bangkit. Tak berselang lama, gadis itu kembali dengan segelas air. “Ini, De Fay.”

            Kini Fayad mendongak dan meneguk air sampai habis. Saat hendak kembali pada mobil-mobilannya, gerakan kepalanya tiba-tiba berhenti. Tertancap dan tertahan oleh kursi kerja Rahman. Cukup lama mata Fayad tertanam di sana. Detik berikutnya, secercah senyum cerah terbit di sana. Namun dalam hitungan singkat, lekuk itu berubah menjadi renggutan kecewa. “Bapak mau kemana?” Tapi di hitungan berikutnya, senyum terulas lagi di wajahnya. Mainan di tangannya ia angkat tinggi-tinggi, dan seraya mengangguk ia berkata, “Jangan lama, Pak.”

***

“Bebek merahnya ada kok.”

            Hari ini, untuk ke sekian kali Fayad meneliti motor itu dengan kernyitan dalam. Anak itu heran. Motor itu terparkir manis di garasi. Namun sama sekali ia tak merasakan kehadiran sosok jangkung yang selalu dengan cepat menghampiri. Berkali-kali pula ia mendengar deru yang sama. Namun irama suaranya tak beralun seperti biasa. Sebab gemuruh itu tak pernah berhenti di tempatnya, melainkan sering kali berjalan menjauh dan menghilang.

            Akhirnya, Fayad hanya bisa mematung di ambang pintu. Menanti si bebek merah menghentikan gaungan lembutnya. Menanti pelukan dari sang bapak, terkadang dilengkapi kejutan yang harus dipecahkan dengan teka-teki yang selalu ia nikmati.

            Sekali waktu, Naufal mencoba melakukan hal serupa. Ia menyengajakan pergi ke sekolah bersama motor bapaknya. Sepulangnya, saat memarkirkan motor di garasi, terdengar langkah rusuh Fayad. Berlari kecil namun dengan ritme cepat ke arahnya. Seakan tak ingin kalah, jantung Naufal turut bertalu-talu rusuh. Dan jantung itu sukses jatuh menghantam lantai begitu Fayad muncul dan berteriak, “Bapaaakkk!”

            Fayad menghentikan langkah. Mendongak dan termangu ke arah kakaknya. Kernyitan khas di wajah lugu itu seakan menuntut penjelasan.

            Naufal meneguk ludah. Perlahan ia menghampiri adiknya itu. Tak lupa, kedua tangan tersembunyi di balik punggung seraya berucap lirih, “Tebak, Kakak bawa apa buat Fayad?”

            Masih dengan gulungan di kening, Fayad memperhatikan Naufal yang bersimpuh di hadapannya. “Apa?”

            Naufal memberenggut kecewa. “Tebak, dong.”

            Fayad menggeleng cepat dan menegaskan, “Nggak mauuu.”

            “Nggak mau?”

            Fayad mengangguk yakin.

            Naufal menghela napas. Meredam kecewa yang menyeruak. “Kakak bawa ini buat Fayad.” Kedua tangan ia keluarkan dari persembunyian dan ia ulurkan pada adiknya itu.

            “Mobill?”

            Naufal mengangguk senang. “Kamu suka, kan?” Ia menunggu raut serupa turut terbit di wajah Fayad.

            Kini Fayad menggeleng.

            “Kenapa?” Perlahan, senyum Naufal luruh tak bersisa. Kecewa yang sedari tadi mendesak, akhirnya terbit menggurat di wajahnya.

            “Fayad sukanya mobillan dari Bapak. Kemallin Bapak billang mau beli mobillan tapi lama padahall Fayad bilang jangan lama.” Setelah mengatakannya, Fayad berbalik meninggalkan Naufal dengan mainan baru itu begitu saja.

            Kata-kata itu bertolak dari suara mungil adiknya. Tiap huruf serupa kerikil yang menghujani ubun-ubunnya. Lalu menembus ke dadanya. Kemudian melesat berbenturan di dasar hatinya. Dan semua itu berhasil melukai Naufal yang kini tergugu di tempatnya.

 

Fayad. Anak berusia empat tahun itu bukan menunggu mobil-mobilan baru datang.

Melainkan:

Menunggu bebek merah berhenti menderu saat ke garasi mininya harus pulang. Menunggu sosok jangkung datang dengan pelukan, kejutan, hingga tebakan yang lengkap dengan mainan. Menunggu momen bapak dan anak yang penuh keceriaan.

 

 

Gambar diambil di sini.