"Jangan Lama, Pak." (2)

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Mei 2016

(Cerita sebelumnya)

 

Mobil-mobil berjejeran. Bukan hanya jenisnya yang beragam, pun ukuran yang bervarian. Ruangan itu semakin indah dibalut warna-warninya mainan. Si mungil berwarna hitam seolah menempati posisi teristimewa di sana. Kotak kaca yang membalutnya, paling mengkilap dibanding yang lain. Pun, kotak itu diletakkan di tempat yang menjadi pucuk bagi yang lain.

Fayad mengitari ruangan. Meneliti satu demi satu dari sekian banyak benda kesayangannya di sana. Mengerahkan seluruh tenaga untuk mendapat setitik gambaran. Sedalam mungkin menggali butiran memori yang berceceran. Namun, nihil. Sebab tak ada sekelebat pun yang berkenan untuk membayang di pelupuk mata. Dan untuk hari ini, tak terhitung berapa kali ia menghela napas berat.

           “De,” Naufal tiba-tiba melangkah ke dalam ruangan. Memecah lamunan Fayad yang menggelembung di sana.

            Fayad sempat terkesiap. Ia melirik seadanya. Seakan tak peduli, ia kembali bergelung dengan mainannya.

            Naufal berdiri di samping Fayad. Turut meneliti puluhan mobil mainan itu dengan tatapan mata. Bedanya, Naufal bisa melihat dengan jelas kenangan yang terpantul di sana. Nyeri menyeruak tatkala desah berat Fayad berkali-kali menelusupi rongga telinganya.

            “Kak, sosok Bapak itu gimana, sih?”

            Naufal meneguk ludah. Sesak, ia turut menghela napas berat. “Dia itu bijak, ceria, dan selalu menebar kebahagiaan di rumah ini.”

            Fayad tak bereaksi. Pandangannya tertancap kuat pada mobil hitam itu. Jangankan sosok Bapak, kejadian hari itu saja ia tak ingat. Yang ia tahu hanyalah kenyataan bahwa mobil hitam itu adalah satu-satunya mainan yang tak pernah lepas dari genggamannya.

            “Setelah ada kamu, bertambahlah satu hal yang menjadi kesukaan Bapak.”

            Fayad mengangguk. Terlampau hapal akan lanjutan kalimat yang pasti diucapkan Naufal. Secercah pun ia tak bisa mengingat binar bahagia yang menyemburat di wajah lugunya dulu. Binar bahagia yang sangat disukai sang bapak. Dan ia dibuat tergugu karenanya.

            Fayad meremas bahu Fayad. Bibirnya bergerak tak kentara. Namun kata yang ingin ia kecap menguap dengan cepat.

            “Aku kangen Bapak. Cuma itu yang aku tahu.”

            “Ibu udah bilang berkali-kali, kan? Kalau sosok Bapak ada dalam dirimu, Fay.”

            Naufal dan Fayad serta-merta berbalik. Mereka lantas menghampiri dan menuntun sang ibu.

            Tingkah kedua pemuda itu membuatnya tersenyum geli. “Kalian ini. Berlebihan sekali.”

            Naufal melipat kedua tangannya di dada. Berlagak kesal akan ucapan ibunya. Lalu dengan tegas ia berujar, “Seberlebihan apapun, tetap nggak akan bisa membalas semuanya. Jadi, Bu, biarin aku dan Fayad berlebihan sama Ibu.” Ia langsung meringis begitu cubitan ringan dari Lia mendarat di pinggangnya. Dan dengan nada jahil ia memelas, “Sakit, Bu. Obatin dong, Bu.”

“Kak! Resepsi tinggal seminggu lagi, masih kayak begitu juga?” Kali ini giliran Fayad yang dibuat sebal oleh tingkah manja sang Kakak. “Gimana dong, Bu? Apa pernikahannya dibatalin aja?” Fayad beralih menatap Lia. Memasang ekspresi wajah yang sama memelasnya dengan Naufal.

Lia menoleh pada Naufal dan Fayad bergantian. Detik berikutnya, ia termangu di tempat. Tingkah manja mereka selalu menggemaskan. Namun, menjadi tidak, jika berbicara soal usia. Lia jadi bingung untuk bereaksi. Haruskah ia marah, atau tertawa saja? “Ibu mau ajak kalian ke makam Bapak. Kalian mau---“

Kalimat Lia terpotong oleh Fayad dan Naufal yang dengan kompaknya menukas.

“Oke, Bu. Aku siapin mobil sekarang.”

“Kalau gitu, Fay bantu Ibu siap-siap.”

            Begitu mereka beranjak untuk menjalankan tugasnya masing-masing, Lia lantas mencegat, “Kalian mau kemana?”

            Langkah Fayad dan Naufal terhenti. Kening Fayad mengernyit. Menjawab tanpa mengucap.

            Lia menggeleng. Senyum puas terbit di wajahnya yang mulai dihiasi kerutan. “Mobil udah siap. Ibu juga udah siap-siap. Jadi---“

            “Berangkaaattt!”

            Dua tangan Lia sudah digamit erat oleh keduanya. Pada akhirnya, Naufal dan Fayad memaksa Lia untuk memilih tertawa. Tak ada reaksi lain yang lebih tepat atas sikap menggemaskan anak-anak, bukan?

***

“Seminggu lagi aku nikah, Pak.” Naufal menghela napas sejenak. Menyeka bulir bening yang menganak di ekor matanya. “Mudah-mudahan aku bisa jadi sosok suami seperti Bapak.” Hangat yang tiba-tiba menyergap membuat Naufal menoleh. Senyum yakin menular ke wajahnya saat mendapati Lia menatapnya. Perempuan itu berbisik lembut di telinganya. Naufal mengangguk dan balas menggenggam tangan Lia yang tertanam di pundaknya.

            “Pasti bisa, Nak.”

            Fayad bersimpuh di sisi lain pusara. Mata bulatnya tertancap kuat pada batu nisan. Varian rasa terpancar kentara dari tatapan itu. Bibirnya gemetar. Menyeleksi banyak kata yang berjejalan ingin keluar. “Bentar lagi seragam Fay juga putih-abu, Pak.” Setelah dengan paraunya kalimat itu meluncur, Fayad tertunduk lesu. Rindu yang mengungkung membuat hatinya semakin lebam membiru. Rindu yang mendera kerap kali membuat hatinya mati rasa.

            “Iya, Pak. Putra bungsu kita sekarang udah gede, lho. Ganteng pula. Kayak Bapak.”

            Mau tak mau, Fayad mendongak. Memperhatikan Lia yang ternyata berbicara menyahuti ucapannya. Setiap perkataan Lia membuatnya semakin termangu dan membisu.

            “Dari mulai marah sampai banyol, pokoknya Fayad itu Bapak banget. Tapi dia sering banget sedih, katanya mau tahu sosok Bapak itu kayak gimana. Padahal Ibu sama Kakak udah bilang beratus-kali, kalau jawaban itu ada dalam dirinya sendiri.”

            “Maafin Fayad kalau dia sering nangis, Pak. Maklum lah, dia kan ade kecil aku. Tapi sebagai Kakak, aku pasti bisa tenangin dia.”

            Dari Lia, Fayad menggeser mata pada Naufal. Ia tahu, kalau dua orang di hadapannya tengah berpura-pura fokus pada bunga yang menggunduk di sana. Dan Fayad memberenggut kesal karenanya. “Aku kangen Bapak. Tapi nggak kayak Kak Nopal, aku nggak tahu ....”

            Naufal akhirnya menatap Fayad. Pemuda berwajah oval itu mengangguk dan tersenyum maklum pada sang adik. “Jadi ke SMA itu, kan?” Tanyanya kemudian, sekaligus berusaha mengalihkan obrolan.

            Fayad turut mengangguk. Ia menceritakan beberapa prosedur pendaftaran yang belum selesai.

            Naufal termangu sejenak. Percakapan yang sama seketika bersahutan di telinga. Ia meneguk ludah lalu berujar, “Pasti lulus lah.”

            “Ibu pasti bantu Fay, kok.”

Sahutan dari Lia  membuat Naufal sekali lagi menelan ludah. Kali ini, ada pahit yang menyeruak ke permukaan.

***

“Sepulang dari kantor tadi, saya sama Pak Rahman ke toko mainan.”

 

 

(Bersambung ....)

 

 

Gambar diambi di sini.

  • view 80