"Jangan Lama, Pak." (1)

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Mei 2016

Bebek merah itu berhenti menderu. Fayad lantas menghambur ke ambang pintu. Dengan ekspresi lugu, menyambut sosok yang baru saja turun dari motor itu.

            Rahman tersenyum menyadari kehadiran Fayad di sana. Ia menghampiri putra bungsunya itu dan bersimpuh. “Tebak, Bapak bawa apa buat Fayad?” Ia mengedikkan kepalanya ke belakang, seolah menunjuk kedua tangan yang tersembunyi di sana.

            Kening Fayad mengenyit dalam. Meski sudah tahu dan akan selalu tahu jawaban atas pertanyaan itu, ia menatap bapaknya dengan ekspresi berpikir. Menikmati teka-teki yang diajukan Rahman. “Sekallang mobil-mobillannya wallna apa, Pak?”

            Tawa Rahman berderai saat Fayad langsung mendorongnya ke inti pembicaraan. Gaya bicara Fayad yang sedikit terbata membuatnya semakin merasa geli. Dengan nada jahil ia balik bertanya, “Fayad yakin Bapak bawa mobil-mobilan?”

            Fayad mengangguk mantap.

            “Bapak kalah lagi, deh.” Rahman mengacak-acak rambut Fayad gemas.

            Wajah Fayad kontan berbinar begitu mobil yang sedari tadi terparkir di persembunyiannya, melaju, dan berhenti tepat di depan matanya. Dalam sepersekian detik mobil baru itu beralih ke dalam dekapannya. “Waaah, merah, Pak.” Fayad berjingkrak girang. Senang menerima kejutan yang ke sekian-sekian-sekian kalinya dari Rahman. “Warnanya sama kayak motor Bapak.”

            “Eh, Bapak udah di sini aja.”

            Ia melirik sekilas ke arah Lia. Mengulurkan tangan pada istrinya yang hendak mencium tangan. Namun matanya tetap berfokus pada pemandangan indah di sana.

            Lia mengikuti arah pandang Rahman dan menggeleng setelahnya. “Ya ampun, Pak. Mobil-mobilan lagi. Sebulan ini Bapak udah beli lima, lho.”

            Masih tanpa menatap Lia, Rahman menggeleng seraya berujar, “Nggak apa-apa. Bapak suka sekali lihat wajah senang Fayad kayak begitu.”

            Sebentar, Lia mendecak kesal. Ia lalu menggandeng lengan suaminya seraya berujar, “Kalau begitu kita makan siang dulu. Menu masakan hari ini, semuanya kesukaan Bapak. Ada---“ Kalimatnya terhenti karena Rahman tiba-tiba menghentikan langkah.

            “Hari ini luar biasa.”

            Tak mengerti arah pembicaraan, kening Lia berkerut. Bertanya tanpa berucap

            “Setelah lihat pemandangan indah di wajah Fayad, sekarang dijamu sama chef favorit dengan menu favorit pula.”

            Tak ada reaksi berarti dari Lia. Ia hanya mengangkat bahu dan berkilah, “Jangan berlebihan deh, Pak. Itu adalah mobil-mobilan ke sekian puluh yang Bapak kasih buat Fayad. Dan bukan pertama kalinya juga Ibu masak buat Bapak.”

            Rahman tidak menanggapi. Ia malah menghampiri Fayad dan menggendongnya. “Ayo, kita makan dulu.”

            “Fayad nggak lapal.”

Rahman memberenggut kecewa. Ia lalu memasang raut berpikir. Mencari alternatif lain untuk membujuk si bungsu. Sebentar kemudian ia berujar, “Kalau begitu, Fayad mau nggak, nganterin Bapak sama Ibu ke meja makan?”

            Mata bulat Fayad bergerak, bergantian dari wajah Rahman ke mainan barunya. “Pake mobil mellah ini?”

            Rahman cepat-cepat mengangguk.

            Kepala Fayad ikut turun naik mengerti. Seketika itu juga ia mengacungkan mobil di tangan kanannya tinggi-tinggi. Menggerak-gerakkannya seakan mobil itu tengah diparkirkan. “Brummm ....”

            “Lho, bukannya itu suara mobil yang warna hitam?” Lia yang sedari tadi menjadi penonton, tak kuasa menahan gemas. Saat hendak menghampiri dua lelaki itu, Rahman buru-buru mencegah dengan isyarat mata. Akhirnya, Lia hanya terpaku di tempat dengan perasaan dongkol sekaligus heran.

            “Mobillan hitam yang itu lussak. Keinjek sama motollnya Kak Opall.”

            “Ooohhh.” Rahman dan Lia menyahut bersamaan. “Jadi suaranya dikasih ke mobil yang baru aja, begitu?”

            “Motor Kak Naufal hebat juga ya, Bu. Bisa nginjek mobil. Sampai rusak pula.”

            Dengan polosnya, Fayad memandang Rahman dan Lia bergantian. Ia tak  memahami gurauan kedua orangtuanya itu. “Diantellin ke meja makan sama mobillan ballunya jadi nggak?”

            Rahman lantas beralih pada Fayad seraya berseru, “Berangkaaat!”

            “Brummm ... brummm.”

Mobil merah itu melayang-layang di udara. Dikendalikan oleh Fayad sang driver. Bersama Fayad yang erat dalam gendongannya, Rahman berjalan berkelok-kelok. Pun, mobil melesat di tangan Fayad dengan irama serupa. Hingga kemudian, Rahman menjeda gerakan solid itu di hadapan Lia. “Fayad, ayo kita jemput Ibu duluuu.”

            Lia menggeleng tak habis pikir. Terlampau sering Rahman memancingnya untuk melekuk senyum geli. Sebagai reaksi atas sikap suaminya yang kerap kali tak terduga. Usia kebersamaan mereka bahkan sudah tak lagi muda. Namun Rahman selalu berhasil membuatnya merasa seperti pengantin yang baru selesai menikah kemarin sore.

            “Sampaiii.”

            “Fayad duduknya mau sama Bapak.”

            “Fayad mau makan sama sayul sopp.”

            Serta-merta Lia mencubit pipi bulat Fayad. Gemas karena baru saja anak itu mengatakan bahwa dirinya tidak lapar. Setelah selesai menyendokkan nasi ke beberapa piring di sana, ia berseru, “Makan dulu, Kak.”

             Tak berselang lama, Naufal muncul di balik tangga. Ia menempati kursi di samping Lia setelah sebentar menyapa bapaknya.

            “Ujiannya beres, Kak?” Tanya Rahman, meneruskan percakapan dengan si sulung.

            “Alhamdulillah, Pak. Doain lulus, ya.”

            “Pasti lulus lah. Jadi kan ke SMA itu?”

            Naufal mengangguk. Pemuda berwajah oval itu lalu menceritakan beberapa prosedur pendaftaran yang masih belum selesai.

            Jawaban Naufal membuat Rahman mengangguk puas. Ia menatap Naufal dan tersenyum yakin. “Ke SMA itu juga pasti lulus, Nak.” Rahman lalu beralih pada Lia dan meneruskan, “Bantu Kakak ya, Bu.”

            “Oh ya, Dek. Ini mobil-mobilan yang kemarin. Udah Kakak benerin.”

            Perhatian Fayad kontan teralihkan begitu mendengar mainan favoritnya disebut. Ia mengabaikan sayur sop untuk menyambut mobil berukuran mini itu. “Jadi bagus lagi mobillannya. Lihat nih, Pak.” Fayad memperlihatkannya pada Rahman. Ban depannya yang ringsek telah diperbaiki oleh tangan terampil Naufal.

            “Bilang apa sama Kakak?”

            Fayad mengangkat mobil itu tinggi-tinggi. Namun saking bersemangatnya, saat hendak mengucap terima kasih, mainan itu jatuh tergeletak di lantai. “Yahhh, Pak. Jatuhhh.”

            “Biar Bapak yang ambilin.” Rahman memeluk Fayad yang duduk di pangkuan dengan lengan kirinya. Sementara tubuh bagian kanannya merunduk, mencoba menggapai benda mungil tadi di bawah meja. Sesuatu yang mengejutkan terjadi di detik ketiga.  Saat serangan mendadak tiba-tiba mendarat di jantungnya. “Astaghfirullah! Allah! Jantung Bapak, Bu. Astaghfirullah.” Rahman terus meracau. Sampai kemudian, karena tak mampu menopang beban, tubuhnya melayu dan meluruh di lantai. Lengkap dengan tubuh mungil Fayad yang terbelam dalam dekapan.

***

Mobil-mobil berjejeran. Bukan hanya jenisnya yang beragam, pun ukuran yang bervarian. Ruangan itu semakin indah dibalut warna-warninya mainan. Si mungil berwarna hitam seolah menempati posisi teristimewa di sana. Kotak kaca yang membalutnya, paling mengkilap dibanding yang lain. Pun, kotak itu diletakkan di tempat yang menjadi pucuk bagi yang lain.

Fayad mengitari ruangan. Meneliti satu demi satu dari sekian banyak benda kesayangannya di sana. Mengerahkan seluruh tenaga untuk mendapat setitik gambaran. Sedalam mungkin menggali butiran memori yang berceceran. Namun, nihil. Sebab tak ada sekelebat pun yang berkenan untuk membayang di pelupuk mata. Dan untuk hari ini, tak terhitung berapa kali ia menghela napas berat.

           “De,” Naufal tiba-tiba melangkah ke dalam ruangan. Memecah lamunan Fayad yang menggelembung di sana.

 

(Bersambung ....)

 

 

 

Gambar di ambil di sini.

  • view 97