Tentang Rindu, Spasi, dan Harapan

Asti Nurhayati
Karya Asti Nurhayati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 April 2016
Tentang Rindu, Spasi, dan Harapan

“Aku bosan.”

Kalimat itu bagai meteorit yang jatuh ke dasar bumi. Membelai atmosfer dengan gesekannya yang menyembilu. Hingga berdebam menghantam tanah. Dan dalam sekejap meluluhlantakkannya menjadi partikel-partikel debu.

Omong-omong soal debu, aku jadi teringat lirik lagu yang berkata, “Aku tanpamu, butiran debu~”

Terlalu gila memang. Namun akankah perumpamaan dalam lagu itu menjadi kenyataan yang harus kuhadapi?

Setelah pernyataan tak diduga itu terlontar dari mulutmu. Yang dengan susah payah, kucerna mereka. Sebab dua kata memekakkan itu terus melesak-lesak memaksa masuk menelusupi rongga telinga.

Pada akhirnya, aku memang tidak menjadi debu. Sebab sepeninggalmu, dengan mereka aku menjelma. Memungut detik demi detik yang berceceran. Untuk kemudian kugubah dalam kumpulan klausa.

Meski kamu telah bertolak membelakangiku, tak ada hal mutlak yang melarangku untuk tetap berada di tempat yang sama, kan? Lagipula, tak ada yang mendaftarkan hak paten untuk namamu, kan? Sehingga aku bisa dengan leluasa mengukirnya. Mencelotehkan kembali banyak hal yang kuyakin –kamu menganggapnya angin lalu.

Jarum jam tak pernah berhenti berputar. Hari terus berganti. Minggu berganti bulan. Dan bulan terus berjalan.

Mungkin sudah saatnya kuutarakan bahwa, aku lelah.

Dibelenggu cinta yang membuat hati ini semakin tak kenal rasa. Dikungkung rindu yang membuat hati ini semakin membiru.

Rindu.

Menyoal rindu, Fahd Pahdepie bilang, bahwa katanya:

Ada dua jenis kerinduan. Kerinduan pertama karena kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua karena kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”

            Adalah kerinduan jenis pertama yang berpuluh bulan ini mendera. Tak kalah banyak kucoba sudahi. Tak kalah kuat pula rindu ini menolak pergi. Rindu ini tetap di sini. Bertransformasi menjadi mimpi. Memang, adalah ketidakmungkinan untuk kembali. Namun, bukankah masih ada satu jenis rindu lagi?

            Mungkinkah?

            Mungkinkah ketidakmungkinan atas rindu jenis pertama akan terjawab oleh rindu yang kedua? Dan akankah kamu hadir sebagai jawabnya? Iyakah kau tengah bereksperimen dengan perkataan Dee dalam Spasi-nya? Dengan cara terlebih dahulu membentang jarak, ke arahku?

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?

            Namun itu tidak benar, sayangnya.

            Lalu, tentangmu, pantaskah masih kusimpan harap? Sebab, bukankah tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan? Seperti yang dituturkan Putri Al-Fatih dalam Secangkir Kopi-nya bahwa:

Pengharapan itu tidak salah, yang salah adalah ketika mengharap pada manusia itu sendiri. Karena hati kita, perasaan kita seluruhnya milik Tuhan.

            Ya.

            Tanpa terus-menerus menjadi pungguk yang tetap nekat merindukan bulan, harap ini akan selalu ada. Sebab, pada-Nyalah harap ini dirapal dan dipanjatkan.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar di sini.

 

  • view 222