Cinta adalah Kuatmu untuk Membuktikan

Asminarti
Karya Asminarti   Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 16 Februari 2016
Cinta adalah Kuatmu untuk Membuktikan

?Nanti kamu gak laku! nanti lelaki tidak ada yang mau mendekatimu, nanti kalau lanjut S2 kapan nikahnya????

Omelan ibuku saat pertama kali meminta ijin beliau untuk melanjutkan studi magister.

Padahal aku sudah menentukan timing yang pas untuk berbicara hal serius seperti itu, namun tetap saja dapat tanggapan negatif. Sekali lagi aku pastikan dengan cara penyampaianku yang lembut, menjelaskan secara detail apa yang aku rencanakan.

?Bu, justru kebalikannya bu..jika lelaki takut mendekatiku karena pendidikanku lebih tinggi darinya bukankah itu menunjukkan bahwa mereka tidak benar-benar menginginkanku bu??

Ibuku terdiam dengan wajah gelisahnya.

?Dan siapa tahu kelak yang sederajat pula yang akan datang padaku bu, bukankah jodoh adalah rahasia Allah yang tak bisa kita perkirakan siapa dan kapan akan datang bahkan aku sendiri yang dalam proses pencarian??

Aku lontarkan kembali pertanyaan kepada beliau sekedar untuk memberi celah agar pikirannya sedikit terbuka atas keinginanku.

?Lagi pula Bu, Narti akan berusaha mendapatkan beasiswa jika Bapak dan Ibu keberatan untuk masalah biaya.?

Aku coba yakinkan lagi dengan pernyataan tersebut.

Bersifat memaksa memang, dan kusadari saat sekarang jika mengingat perbincangan kami saat itu. Aku yakin betul apa yang ada di pikiran Ibu dan Bapakku waktu itu. Tepat satu tahun yang lalu. Tahun yang begitu berat aku lewati, bagaimana tidak? Banyak sekali masalah-masalah yang aku hadapi mulai dari percintaan yang kandas, penghinaan, diremehkan oleh orang-orang yang justru hampir aku sayangi juga saat itu. Tapi aku yakin itu semua cara Allah untuk menjadikan aku lebih dewasa, menguji kesabaranku, menguji keimanan aku, dan pada akhirnya membentuk pribadi yang kuat dan tangguh walaupun terkadang bisa dikalahkan oleh masalah perasaan.

Aku tahu pasti apa yang menjadi pertimbangan mereka berdua untuk mengijinkan aku melanjutkan studi ke magister. Diantaranya masalah masa depanku setelah S2 baik untuk prospek pekerjaan maupun pendamping hidup aku. Apalagi bagi seorang anak perempuan menjadi perhatian besar bagi kedua orangtua atas masalah akan segera dinikahkan, dan tak perlu sekolah tinggi-tinggi toh ujung-ujungnya akan ngurus suami dan anak di rumah. Masalah biaya, karena kedua saudaraku yang lain masih sekolah juga. Namun masalah yang ini justru tak aku khawatirkan karena aku percaya pada Sang Pengatur rejeki, bukankah Dia yang mencukupkan?.

Sebelum aku memutuskan untuk lanjut S2, aku pun tak luput dari berbagai macam pertimbangan yang kupikirkan dengan keras seorang diri. Karena dari pihak keluargaku sama sekali tidak ada yang mendukungku, entah apalagi sebab lainnya aku tak pernah mengerti sampai sekarang.

Yang aku pikirkan adalah tentu saja perhitungan usiaku yang makin bertambah, pekerjaan yang kurasa belum memuaskan batinku dan aku tak menyukai untuk menjalaninya. Mengajar yang bukan keahlianku adalah tantangan yang cukup berat dan harus dipertanggungjawabkan ke akhirat jika salah dalam penyampaiannya. Honor yang bahkan tidak cukup untuk membeli 2 liter bensin, karena kebetulan tempatku mengajar lumayan jauh dari rumah.

Satu tahun semenjak kepulanganku dari perantauan. Sebut saja merantau part I. Memang kutemukan kenyaman yang luar biasa ketika berada disamping Bapak, Ibu, Kakak dan adikku. Namun aku pun harus berpikir untuk kehidupan aku kelak, setidaknya berencana untuk mendapatkan pekerjaan yang layak atau bahkan menikah. Sebenarnya yang aku utamakan adalah memikirkan karirku, percuma aku kuliah jauh-jauh dan mendapat nilai yang kurasa baik toh ujung-ujungnya aku hanya mengajar sukarela pada salah satu sekolah negeri di daerah tempat tinggal. Aku bahkan tidak memikirkan gengsi, hanya saja aku memikirkan bahwa aku tak ingin membuang waktuku untuk hal yang kecil sedangkan didepan sana banyak hal besar yang menunggu untuk aku perjuangkan habis-habisan.

Tiga bulan menganggur dan tiga bulan mengajar aku rasa sudah cukup aku membuang waktu dan kesempatan dalam beberapa bulan itu, apa yang aku dapatkan? Tidak ada.

?Mana ada tetangga sekitar sini yang menyekolahkan anaknya sampai S2??

?Tidak ada yang ribut untuk berlomba-lomba mencari beasiswa sepertimu.?

Ibu ku selalu saja membandingkan dengan orang lain disekitarnya.
?Bisa jadi mereka tidak tahu bu, atau mungkin tak berminat untuk sekolah lagi setelah keenakan dengan pekerjaannya.?

Aku terus mencoba memberikan jawaban yang tepat setiap pertanyaan ibu yang bersifat mematahkan semangatku. Setelah dua bulan aku meyakinkan ibu dan bapakku dengan berbagai cara termasuk ngambek dan tak mau makan. Kekanakkan sekali. Dan yang aku tunggu pada keputusan terakhir adalah diadakannya rapat antara kami. Rapat keluarga tepatnya. Bapakku tidak terlalu banyak bicara, sepenuhnya diserahkan pada ibuku. Ya begitulah Bapak.

Siang itu, begitu hening. Aku tepat duduk di pojokan kursi panjang ruang keluarga, aku menunggu siapa yang akan memulai untuk berbicara. Sedangkan aku gugup untuk memulai duluan, aku menutupi kegugupan itu dengan menatap laptop sampai leher ku sakit karena menunduk.

?Narti maunya dibelikan motor apa??

Ibu ku memulai pembicaraan yang kaku itu dengan sebuah pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan keinginanku.

?Narti gak mau motor bu, narti maunya lanjut S2?

?Aku maunya akhir tahun ini bu, pembukaan beasiswa untuk daerah 3T untuk tahap kedua dimulai november tepat bulan depan sampai maret tahun depan. Aku gak mau melewatkan kesempatan itu bu. Cukup waktuku terbuang untuk mengajar yang bukan basic aku.?

Aku menjelaskan yang mengganjal dalam hatiku kenapa ingin sekali keluar dari sekolah sambil menangis, sampai susah mengeluarkan kata-kata sebab emosiku memuncak dan tak mungkin ku marahi beliau saat menjelaskan semuanya. Aku lampiaskan kemarahanku dengan menangis. Dosa besar lah aku jika memarahi mereka.

Ocehanku tentunya membuat Ibu sedikit tersinggung, karena ibu dan bapak yang memperjuangkan aku untuk bisa masuk mengajar ke sekolah negeri. Maafkan aku bu, aku sungguh tak bermaksud membuatmu kecewa.

?Bagaimana Andi?

?Yasudah bagus juga kalau ikut yang beasiswa ini Bu.?

Mas Andi adalah kakak ipar aku. Beliau juga termasuk seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk terus mencari ilmu. Jadi samasekali tak keberatan dengan permintaan aku yang ingin lanjut kuliah dengan memburu beasiswa. Mas andi merupakan salah satu mahasiswa alumni yang telah mengambil studi S1 dan S2 di Universitas Brawijaya. Setelah aku promosikan tentang beasiswa yang ingin aku ikuti justru tergiur lagi untuk melanjutkan studi S3 ke Australia. Tapi masih sekedar keinginan karena pertimbangan lainnya terutama masalah ijin dari sang istri.

Hatiku lega sekali saat itu, kenapa tidak? Ibu selalu menitik beratkan apapun yang kami inginkan untuk dimintai persetujuan pada kakak iparku. Dan akhir dari diskusi tersebut Ibu dan Bapak menyetujui keinginanku. Ditentukanlah tanggal keberangkatanku. Semua yang aku rencanakan tersusun rapi di kepala. Apa yang harus didahulukan dalam menyiapkan berkas termasuk mengikuti kursus toefl ke Pare, Kediri Jawa Timur.

Sebelum keberangkatanku, cobaan yang kudapat tak berhenti disitu saja. Aku berdebat dengan adikku juga. Ibuku ternyata diam-diam curhat pada adikku tentang keinginanku tersebut.

?Apa maksud kakak? Kenapa buat mama jadi kepikiran lagi??

?Iyaa.. aku memang membuat kisruh akhir-akhir ini.?

?Tak usah minta yang macam-macam, diam saja dirumah!?

?Tau apa kamu tentang cita-cita? Tentang bahagiakan orangtua??

Aku tak habis pikir kenapa bisa dia berbicara seperti itu padaku. Tapi aku selalu bisa mengontrol emosiku agar tidak terjadi konflik yang bermakna antara aku dan saudaraku.

?Suatu saat kamu pasti akan mengerti akan tujuan aku, memang tak aku jelaskan secara detail bagaimana isi hatiku sebenarnya kenapa aku berkeinginan keras untuk benar-benar fokus pada masa depan karirku. Pasti kamu akan mengerti sendiri kelak. Bersungguh-sungguhlah membahagiakan Ibu dan Bapak!?

Kalimat panjang yang kusampaikan ke adikku untuk mengakhiri perdebatan kami. Mungkin dia mengerti atau mungkin dia lelah berdebat lagi denganku entahlah. Yang jelas aku punya keputusan yang tepat, pikirku.

Tibalah keberangkatanku pada 3 Januari 2015. Semua yang aku butuhkan telah siap dalam satu koper berukuran sedang. Malam perpisahan yang kesekian kalinya bagi aku, namun tak pernah kurasakan sesedih ini. Seperti awal kepergianku untuk merantau pertama kalinya.

Bisa di bilang saat itu adalah merantau part II. Aku kembali ke Jawa Timur yang dimuali dari kota Kediri untuk kursus toefl saja dan tetap berlabuh di Malang. Di mulainya banyak kisah yang penuh perjuangan. Enam bulan yang tidak pernah kulewatkan setiap momentnya untuk selalu ku ingat sampe akhir hayat dan pasti akan aku ceritakan pada anak-anak dan cucuku kelak. Enam bulan waktu yang diberikan Allah buat aku untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan erat dengan keinginan dan cita-citaku.

Yang aku tahu Ibu menyetujui permintaanku dengan segala keridhoannya. Aku yakin itu. Namun pada kenyataannya, ibu menyampaikan isi hatinya pada adikku dengan kalimat yang membuat hatiku hancur. Bagaimana tidak? Aku berhasil membuat ibu menangis. Membuatnya sedih adalah hal terburuk yang aku lakukan yang tak bisa aku maafkan diriku sendiri. Hatiku remuk ketika tahu jauh di hati ibu menyimpan kesedihan seperti itu.

?Ibu baru saja merasakan kebahagiaan dan kesenangan beberapa bulan ini. Merasakan kembali kepulangan anakku yang kupikir tak akan meninggalkan kami berdua lagi. Ibu tak menyangka dia akan pergi lagi, dan harapku cukup bersama kami saja sebelum dia harus hidup bersama pasangan hidupnya kelak.?

Hatiku benar-benar hancur dan terluka mendengar pernyataan ibu yang disampaikannya lewat adikku. Menjadi anak yang paling durhaka karena meninggalkan mereka saat itu atas keegoisanku. Maafkan aku sekali lagi Bu.

Kesehatan ibu mulai menurun. Aku juga mendapat kabar pagi itu, bapak kecelakaan dan harus mendapat pertolongan medis. Pikiranku menjadi tidak fokus dan terpecah. Tiga macam pekerjaan yang aku emban sembari mengurus berkas untuk lanjut kuliah pun ikut kacau. Kutinggalkan satu persatu sampai akhirnya kuputuskan untuk pulang dan merawat beliau beberapa bulan.

Aku lakukan semua itu demi mereka. Aku lalui saja seperti kutemukan tembok besar yang menghalangi langkahku, yaa kulewati dengan mengahancurkannya. Aku tak boleh putus asa atas kondisi apapun. Sebelum akhirnya aku mendapat panggilan untuk melakukan verifikasi dokumen dan panggilan wawancara dari pihak pebeasiswa. Bahagiaku tak terhingga. Kesehatan ibu mulai jauh lebih baik itu adalah utama dari bahagiaku. Luka jahitan pada tangan bapak juga sudah mengering. Semua menjadi normal kembali. Ibu dan bapak dengan terang-terangan meridhoi aku untuk melanjtukan S2. Mungkin melihat kesungguhan aku atau do?a-do?aku diijabah sang Maha Kuasa, entahlah. Yang jelas aku sangat bersyukur.

Aku yakin atas kekuatan do?a, kesabaran, dan ikhtiarku yang menjadikan aku seperti saat ini. Semua yang kuharapkan terbayar semua walaupun dalam prosesnya penuh perjuangan dan tantangan. Tak dipungkiri adanya airmata.

Setelah kulewati semua proses itu, pada akhirnya aku menyadari satu hal. Bisa jadi Allah membuat skenario yang rumit itu untuk menarikku kembali dan berbakti pada mereka sebentar. Allah ingin melihat kesungguhan hatiku mencintai mereka berdua. Diberi ujian sampai dimana ketaatan aku pada orangtuaku. Bahwa apapun yang aku inginkan tidak akan diridhoi oleh Allah sebelum aku mendapatkan ridho dari Ibu dan Bapakku.

Sekarang, Aku berhasil menggapai inginku untuk lanjut kuliah. Aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki peringkat terbaik ke-3 se Indonesia. Ini adalah bulan ke enam aku merantau di Bogor, 16 Februari 2016. Sekarang mulai memasuki semester 2.

Pak, Bu. Tapi jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam dan niatku karena Allah. Aku lakukan ini semua karena prioritasku untuk membahagiakan ibu dan bapak. Biarkanlah dengan caraku sendiri. Semoga ini cara terhebatku agar bisa membuat kalian bangga. Kumohon ridhoilah segala yang ingin kucapai sampai aku menghembus nafas terakhir. Semua demi kalian Bu, hanya saja aku tak mengatakannya. Dan aku tak akan bisa mengatakannya. Seperti aku mencintai kalian, tidak dengan kukatakan ?cinta? tapi kujelaskan dengan ?pembuktian?.

?

?

?

?

  • view 283