Secercah Kisah (Memoar)

Asma Azifah
Karya Asma Azifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Januari 2018
Secercah Kisah (Memoar)

Panorama menawan mentari terbit di tanah ciamis Jumat itu. Aku ingat bagaimana jalanan berbatu yang mesti kita tempuh jauh tanpa kendaraan. Sandal lusuh dipertigaan jalanan kuburan yang kita temukan usai mengisi pengajian. (gawatt, aku mulai berpikir yang tidak-tidak. :D)

Aku ingat bagaimana pernah diamanahi untuk bertanggung jawab di bidang dakwah dalam suatu kelompok. Dan barangkali, inilah cerita tentang perjalanan si pembelajar – yang cukup panjang – dimulai.

Aku mulai menyusun persiapan, hal seperti mewawancarai kakak kelas bagaimana karakter masyarakat disana, pun menanyai sejumlah teman mengenai beberapa tanggapan. Aku ketar-ketir mempersiapkan segalanya, meminjam banyak buku referensi untuk dibaca, yang kemudian kutelan bulat bulat sampai tamat – meski kesimpulan saja yang sempat kulahap

Tulisan dalam buku-buku tebal  itu sudah berjejer minta dihafalkan. Katanya, buat  pegangan kalau ‘dilapangan’ ada yang bertanya. Tentu kita harus menjawab sesuai dalil yang ada, bukan? Jangan disimpang siurkan. Gabisa kalau menjawab berdasarkan  perasaan. nafsu belaka. Asal. Gak bersumber.

Agar kau siap. Untuk apa? Untuk jadi teladan.

Aku merinding, beuhh berat beut yak?

Ah jadi wajar saja kurasa mempersiapkan sebegininya.

Wajar saja karena Kita akan terjun ke masyarakat dengan ber-almamaterkan sekolah. Hati-hati, karena jika sampai ada yang salah, sekolah juga kena! Hal ini barangkali yang membuat kita banyak melakukan persiapan sebegininya. Semacam usaha agar tak kecewa – dan mengecewakan.

Namun nyatanya semua kekhawatiran itu sama sekali tak ada yang berwujud. Di titik ini, justru banyak pelajaran yang kita ambil.

 Tanggung jawab, pun setia menjalankan amanah. Ah benar, tanggung jawab menuntutmu untuk bisa menyelesaikan masalah dengan dewasa, tanpa mengeluh, tanpa menuduh siapa yang salah. Tanggung jawab menuntutmu untuk bisa mengatasi segalanya.

Aku tersenyum menatap satu koper yang penuh dengan buku-buku, yang penuh dengan ketakutan-ketakutan kita menghadapi pertanyaan yang tak khatam kita pelajari. Kembali kusinggung, nyatanya semua ketakutan itu tak nyata. Nyatanya jika kau sudah menjadi bagian masyarakat , kau sudah harus siap. Siap dengan dirimu sendiri, dengan ilmu yang sudah terukir dalam hati. Bukan dalam buku, pun dalam hafalan yang malam tadi kau lafalkan cepat-cepat.

Aku tertawa kecil saat semuanya telah selesai, saat kita bersiap pulang. Buku satu koper yang telah kita siapkan jauh-jauh hari, ternyata tidak terlalu dibutuhkan.

Di masyarakat itu arena kita mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah didapat. Bukan masalah seberapa banyak kau menghafalkan hadits dan ayat, tapi jika tak ada satupun yang diamalkan. Semuanya nihil, kan?

Dan, tugas kita hanyalah bertanggung jawab. Tentang amal-amal yang sudah diperbuat. Tentang apakah amal tersebut sudah sesuai dengan syariat. Jika sudah, bersetialah melakukannya, ber-istiqamah. InsyaAllah amalnya jadi bekal di akhirat, jadi saksi atas umur yang dihabiskan dalam kebaikan.

Bismillah, dengan menyebut namaMu, Ya Allah.. tuntun hamba menuju kebaikan. Tuntun hamba agar memiliki keteguhan Iman

Barangkali inilah secercah kisah yang kudapat diantara episode kehidupan yang sempat terlalui. Semoga selalu jadi pengingat, saat ini hingga kelak. Aamiin.

  • view 121