Gapapa dapat nilai C

Asma Azifah
Karya Asma Azifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Januari 2018
Gapapa dapat nilai C

“Gapapa dapat nilai C juga, yang penting masuk syurga.”

Seru dosen pengawas, kami tertawa terpingkal-pingkal, merasa tersindir mengingat apa maksud sebenarnya beliau berkata demikian.

UAS adalah hal yang sangat tidak ditunggu. Setidaknya bagi sebagian mahasiswa, karena takut dengan ujian, -ralat karena takut tidak bisa menjawab dengan benar. Meskipun sebenarnya Allah melihat usaha, bukan hasil yang ada. Percuma toh hasil bagus tapi nyontek? Ah sering sekali aku mendengar ini. Sudah sedari SD, Sudah bosan rasanya! Wejangan yang kerap muncul saat masa-masa UAS tengah marak. Karena menurutku, Allah selalu memberi yang terbaik jika benar hambanya berusaha dengan baik. Jarangkali aku melihat orang yang sudah mati-matian berusaha, namun hasilnya tidak memuaskan. Jarang. Hampir tidak pernah malah.

Nilai bukan segalanya, begitu yang sering mereka sampaikan, yang penting akhlak dan sikap yang mempesona sejagat raya – maaf aku mulai melebih-lebihkan. Namun nyatanya, mengapa orang-orang selalu melihat nilai akademis dulu, dan cenderung menomorduakan prilaku. Ah tentu  menilai prilaku baik seseorang itu butuh waktu, bukan? Tentu di dunia kerjapun, yang dilihat nilai pendidikan calon karyawannya terlebih dahulu. Itusebabnya manusia berani mencontek, sebagiannya merasa tak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Termasuk aku yang pernah tercyduk berdiskusi dengan teman saat ujian, beruntung pengawas hanya menegur, tak menyuruhku keluar dan berhenti mengerjakan soal. Benar-benar beruntung, setidaknya hargadiriku terselamatkan – setelah aga luntur karena ditegur. Sungguh Rabb, maafkan aku yang kemarin. Yang pernah tak jujur dengan diri sendiri, yang pernah tak percaya diri.

So, jangan terlalu heran dengan masa yang tak seperti dulu lagi. Yang kini, banyak orang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya – mencapai kepuasan terhadap dunia. Sekalipun caranya kelak membuat sebagian tersakiti

Maka, itu mungkin sebab korupsi merajalela, kasus penipuan terjadi dimana-mana. Semua berawal dari satu. Ketidak jujuran. Rakyat yang sering disuguhkan berita korupsi pejabat negaranya, klien yang terkena tipu suatu perusahaan. termasuk juga mungkin perasaanmu yang selalu jadi korban karena ketidakjujuran. Sakit, bukan? ; setelah banyak luka dihati teratasi, lhaa ini malah nambah lagi. (hehe)

Lalu kapan ini akan berakhir? Sampai manusia mau berubah. Bukankah Allah takan mengubah nasib hambanya jika hambanya diam saja,

So, ayo mulai berubah..  mulai menjalani proses menjadi baik, 

Pun berakhlak dan bersikap yang tak membuat orang rugi – dengan menjadi pribadi manfaat, menjadi pribadi yang percaya diri, dan bersikap hanya karena mengharap Ridha dari Ilahi

  • view 120