Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 30 Desember 2017   06:30 WIB
Pelangi yang Tercederai


'Yaa, itu akibat sudah tak seimbang lagi. Alamnya udah ada banyak kesalahannya. kita hidup ini memang perlu ada yang namanya keseimbangan'

Beliau sama sekali tak menyebutkan perihal putusan MK yang tengah hangat di putuskan Kamis kemarin, yang esoknya disusul bencana gempa yang menimpa di sebagian besar pulau jawa. Ya, saya paham, sebagai dosen yang  banyak sekali pengalamannya di ranah hukum - yang pernah di percaya menjadi moderator debat  berpesertakan pengacara-pengacara se-Indonesia. Tentu mengerti, bahwa jika MK sudah memutuskan, sudah. Terima saja. Setidaknya begitu jika kau menjadi ‘orang’ hukum. Itu pesan yang sering beliau sampaikan, bahwa kita tak boleh asal men-jadge jika tak tahu apa-apa, pasti  ada alasan-alasan tertentu sehingga MK memutuskan untuk menolak permohonan itu.

Ah sebenarnya aku kesal, kenapa bisa-bisanya MK memutuskan hal itu, tentu tak ada ruginya, bukan? Maksudku, Tentu jika itu dicantumkan sebagai 'pelengkap' Kitab Undang-undang Hukum Pidana akan lebih banyak menyelesaikan masalah sosial yang marak di masyarakat dewasa ini. Kenapa? Ah, aku kesal pun pada diriku sendiri yang sebagai mahasiswa hukum kerap ketinggalan berita. Berita terkait putusan MK saja baru tahu saat ada temanku yang menyinggung.

Aku mengingat-ngingat perihal permohonan yang diajukan, yang mereka anggap ada beberapa poin yang dirasa kurang, ada yang perlu lagi ditegaskan. Karena teman-teman, jika seseorang melakukan sesuatu yang salah, namun nyatanya tak ada aturan yang jelas dalam undang-undang, orang tersebut akan bebas dari jerat hukuman, inilah yang kita kenal sebagai asas legalitas (Nullum delictum noela poena sine praevia lege poenali, tiada kesalahan dapat dipidana sebelum ada undang-undang yang mengaturnya ) ya, begitulah hukum negara.

Mengenai apa permohonan yang dimohonkan, mungkin kita semua sudah tahu, baik dari berita di televisi maupun dari rumpi-rumpi kecil di kantin. Ada satu poin yang begitu banyak mencuri perhatian, yakni permohonan tentang manusia yang berprilaku tak sesuai kodrat agar diatur juga dalam Undang-Undang, agar kelak bisa dikenai pidana. Namun bersama dengan poin-poin lainnya, MK tetap menolak permohonannya.

Menanggapi gejala alam yang beliau katakan sudah tak seimbang, barangkali ada kaitannya dengan putusan-putusan yang kemarin terjadi. Tetiba hal ini membawaku pada pelajaran di beberapa tahun kebelakang. Saat itu, guru yang tengah mengajar pelajaran hadits berkata, “Allah menimpakan azab ke kaum nabi yang dzolim itu pasti sesuai, kalau kita mau tahu, lihat saja dosa apa yang dilakukan umat nabi tersebut.”

Kau tahu kisah Nabi Luth? Tentang bagaimana kaumnya? Mereka melegalkan pernikahan sesama jenis. Azabnya? Dunia dibalikkan!

Aku merinding. Kok mirip-mirip ya dengan situasi saat ini? Apa karena peristiwa kaum Luth akan terulang lagi?

Nauzubillahi min dzalik.

Sebagai pembelajar, aku mencoba bertanya kepada seorang yang cukup kompeten. “Baca aja ringkasan putusan MK,” Katanya. Akupun memanfaatkan jaringan internet, googling mencari laman yang dicari. Siip, dapat! Aku menekan laman berhuruf biru itu, menunggu sebentar hingga muncullah tampilan PDF,

Tiba-tiba,

What? Kau bercanda? Ada 470’an halaman? Dan harus kubaca semua? Ahh yang benar saja? Aku hanya mau intinya! Inti dari alasan mengapa MK menolak keputusan itu! Aku gatal ingin bertanya, lantas meminta untuk dijelaskan intinya saja.

‘Kalau mau ilmu, jangan langsung memperkosanya.’ Nasihat dari temanku, yang sungguh membuatku merasa tertampar saat itu. Bahwa kalau kita ingin mengetahui sesuatu, apapun itu. Ikuti prosesnya, jangan langsung minta inti dan kesimpulan. Baiklah, akan kulakukan.

Setidaknya aku memulai membaca ringkasannya di 30 halaman terakhir.

Tak terlalu lama menghabiskan waktu, aku pun selesai di menit ke 20. Dan setelah membacanya, izinkan saya menyampaikan, teman-teman. Tentang mengapa MK menolak permohonan yang dimohonkan itu.

Karena ternyata Permohonan yang diajukan oleh pihak pemohon sudah masuk ke ranah 'mengubah' KUHP, yang seharusnya wewenang itu dilakukan oleh DPR bersama presiden, sedangkan DPR dan presiden pun mungkin membutuhkan suatu 'proses' yang cukup dalam membuat Undang-undang .  Karena wewenang MK  hanya sebatas menguji Undang-Undang, pun yang memutuskan apakah Undang-Undang buatan DPR bersama presiden itu 'layak diterbitkan' atau tidak.

Karena sebenarnya, jika hal itu (permintaan pemohon) dijadikan di dalam KUHP, akan adanya 'anggapan' mengenai pembatasan hak dan kemerdekaan, yang menyebabkan hadirnya hukum itu sebagai sebuah ancaman. Padahal kan, kita tahu sebenarnya hukum hanya sebagai upaya terakhir dalam menyelesaikan masalah yang ada (ultimatum remedium) karena sebelum menyelesaikannya ke ranah hukum, ada kaidah keagamaan, kaidah kesopanan dan kaidah kesusilaan. yang semua itu mestinya wajib dipenuhi terlebih dahulu.

Setidaknya itu yang kusimpulkan setelah membaca ringkasan putusan MK.

Sebagai manusia yang beragama, terlebih kita seorang muslim. Menahan untuk tidak melakukan perbuatan yang kurang baik itu emang karena tahu aturan, emang hanya karena mengharapkan ridhoNya saja. Bukan karena diancam sama yang namanya hukum negara.

So, kencengin dakwahnya yuk, kaum muda..

Karena kelak kalian yang akan menempati kursi-kursi itu, kalian yang mewarisi jejak-jejak kebaikannya.

Teladan dari panglima besar revolusi Islam. Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Berdakwah, itulah jawabannya. Satu-satunya jalan mensosialisasikan kepada sesama manusia bahwa hal 'itu' tidak baik, bahwa hal 'itu' sudah jauh keluar dari jalur fithrah.

Berdakwah yang dari hati, yang pelan tapi pasti, bukan dengan emosi. mengingat bahwa hidayah bukan kuasa kita, tapi kuasanya Allah saja.

Dan langkah lain jika di lingkungan kita ada yang seperti itu, kita bisa mendukungnya ‘berubah’ dengan mulai memanggil sesuai kodratnya. Tidak lantas dia laki-laki tapi kita panggil dengan sebutan kebalikannya. Jika begitu, sama aja kita mendukung dia, bukan? mendukung sikapnya yang sudah keluar dari fithrah.

Menanggapi fenomena ini memang membuat bergidik, betapa maksiat sudah merajalela di muka dunia. Belum lagi lambang-lambang yang sudah akrab mereka kampanyekan, agar cepat beradaptasi, agar masyarakat sudah tak merasa asing lagi. Ah entahlah, sejak warna warni itu mereka jadikan sebagai lambang, aku sudah tak lagi suka dengan warna pelangi.

Barangkali dipenghujung 2017 ini aku ingin menjelaskan sesuatu yang kuketahui, sesuatu yang benar ingin kuurubah, ingin kita kembalikan sama-sama kepada fithrah. Sesuatu yang biasa kita sebut sebagai kebaikan, untuk meluluhlantakkan kemaksiatan di negara kita tercinta.

Ayo kawan seiman, manusia-manusia penghujung zaman! Siapkan tekad untuk tak sekadar menjadi penerus, namun juga pelurus. untuk mengembalikan warna pelangi agar indahnya tak tercederai , agar tak ada makna lainnya lagi.

Karya : Asma Azifah