Jangan Lupa Bersyukur

Asma Azifah
Karya Asma Azifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 November 2017
Jangan Lupa Bersyukur

Kau percaya kekuatan kata? Aku percaya. Tentu saja! Kata yang tak sampai sedetik diucapkan itu mampu mengubah wajah seorang yang bermuram durja seketika berubah sumringah.

Malam itu usai mata kuliah terakhir, aku bergegas keluar kelas sambil mencermati notifikasi handphone, sesekali bergurau dengan teman tentang mata kuliah terakhir tadi. Mengomentari dosen mengajar tentang penjelasannya yang kadang tak sesuai dengan penilaian nyata di masyarakat--dengan segala polemik yang berkecamuk di masing-masing hati manusia yang tak teradili. Maklum, belajar diranah hukum seperti ini menuntutmu mengerti keadaan negara yang luar biasa pelik. Tak jarang, kunci berpolitik pun dijelaskan. aku heran, mengapa tak berani saja mengungkap pendapat langsung tentang argumen yang tadi dosen jelaskan? Malah sibuk membicarakannya dibelakang. Beginilah kurasa sikap buruk sebagian penuntut ilmu, meski tak banyak. So, tolong maafkanlah kami ya, bapak ibu dosen :)

Aku melangkahkan kaki menuju area parkir, menyalakan motor, keluar perlahan dari parkiran setelah berpamitan dengan teman, menyusuri sekitaran kampus yang masih penuh dengan mahasiswa kelas malam. Ada yang nangkring depan perpustakaan demi berburu WiFi, jajan di persimpangan dekat gerbang, bahkan menunggu jemputan depan ATM.

Lho?? Kok goyang, tetiba aku panik, merasa motorku tak baik seperti biasanya. Akupun berhenti sebentar setelah menaiki jalan tanjakan. Turun, untuk memeriksa ban belakang. Hah,, Kempes? Aduh gimana ini? Aku yang masih adaptasi dengan kendaraan roda dua ini harus menerima konsekuensi. Yaa apalah daya bagi aku yang terpaksa belajar motor karena tuntutan kampus yang jauh jaraknya dari jalan raya. Bermodalkan nekat, sehari dua hari belajar, aku langsung berani membawanya ke jalan luar, berbaur dengan kendaraan lain untuk ikut berlalu lalang.

Aku menarik napas. Oke, tenang. Aku ingat kalau didepan ada tambal ban. Segera kukayuh motor, harap-harap cemas semoga mang tambal bannya belum tutup, dan syukur lah, masih buka. "Bannya kempes, mbak.." diagnosa si bapak sebelum mendengar keluhanku. Yang sudah memperhatikanku dari kejauhan.

Aku mengangguk. Segera menyerahkan urusan ini kepada ahlinya. Tanpa disuruh, akupun duduk menunggu, menyaksi dengan seksama motorku diperbaiki.Tak lama duduk,

"mbaa.. ini rodanya harus diganti, udah rusak," serunya kemudian

"Oh gitu pak, jawabku sekenanya. "harus sekarang banget ya, pak diganti nya?" kataku lagi yang tetiba cemas mengingat isi dompet.

"Iya, udah parah ini.." Jawabnya serius.

Aku menarik napas,

"Sini, mba nya kesini," katanya meyakinkan, meminta agar aku juga memastikan. Seakan memberi penekanan bahwa saya bukan seperti tukang  tambal ban lain yang seenaknya mengganti ban demi keuntungan dengan berbuat curang.

"Iya mba, itu udah harus diganti," kata pelanggan lain yang baru saja tiba untuk menambah angin di motornya.

"Yaudah pa," kataku pasrah. Doaku selanjutnya, semoga uang yang kupegang setara dengan harga ban.

"Berapa pak?" Tanyaku, gigit bibir.

"25 mba,"

"25ribu?" Aku meyakinkan.

"25.." katanya sekali lagi, aga nyolot. 'yeee, biasa aja, napa pa?' aku merutuk dalam hati, cukup kesal dengan intonasi bicara si bapak yang tinggi. Entah gaya bicaranya memang begitu atau bagaimana. Yang jelas, hal itu membuatku menilai bahwa dia ini tak ramah dengan pelanggan, emosian, dan sederet sifat yang tak boleh dimiliki ketika melayani pembeli.

"250ribu?" Aku menelan ludah. Setelah berpikir aga lama.

"Iya." Jawabnya singkat. "Ada gak mba? Kalau gak ada besok aja bayarnya mba, besok kuliah lewat sini kan." Jawab si bapak yang cukup peka melihat ekspresi kecemasanku.

Buru-buru aku tarik penilaian tentang bapa ini. Oke, baik juga gening si bapak.

"Saya lihat dulu ya pa," kataku. "kira-kira ini lama ga, pa?" Satu lagi kecemasan bertambah. Udah malem, mau pulang jam berapa aku kalau proses ganti bannya lama.

"Engga, sebentar aja. Tunggu aja situ mba."

Aku kembali duduk. Membuka tas memeriksa isi dompet, Alhamdulillah, pass banget..

Kekhawatiran satu sudah terselesaikan. Selanjutnya menunggu, semoga sebentar versi bapak nya sama seperti versiku.

Aku mengeluarkan handphone, mengabarkan bahwa aku sepertinya pulang aga lambat, ban bocor, dan harus diganti. Menchat teman yang sering kuhubungi, curhat tentang kejadian yang kini kualami. Selanjutnya membuka sosmed, memeriksa timeline-timelinenya, menyalakan musik sambil memperhatikan orang lalu lalang dengan motornya, cahaya dijalan masih menyala.

"Sudah mba," kata si bapak yang tengah membereskan alat perangnya.

"oh iya," jawabku lega. Sudah 30 menit berlalu, Yaa, lumayanlah ga terlalu lama. Segera kuserahkan uang yang sedari  tadi kusiapkan

"Ini pak, Alhamdulillah ada."

"Oh iya," katanya sambil senyum. Oh ya ampun sepertinya itu senyum pertamanya sejak aku berada disini.

"Ini kembaliannya mba. Itu bannya gara-gara udah kempes ga diisi angin mba, jadi nanti lagi kalau kempes, isi angin langsung. Nanti kalau kelamaan malah jadi rusak bannya." Jelas si bapak sambil menyerahkan kembalian.

"Oh gitu ya pak," kataku berlagak mengerti. Padahal tanda-tanda ban kempes aja gatau kaya gimana rasanya. Maklum, baru sebulan menjalankan motor, belum ada kepekaan jika motor sedang butuh perhatian. Yo wess, gapapa lah, nambah ilmu biar gak parno.

"Makasih ya pak," kataku dengan senyum. Sambil mengenakan helm dengan cepat karena jam sudah menunjukkan pukul 10 tepat. Sudah semakin malam.

"Iya mba sama-sama, lain kali langsung diisi aja disini” Bapak tadi mengulang nasihatnya, seakan mewanti-wanti diriku agar kejadian ini jangan terulang lagi.

"Oh iyaa pak,, makasih ya pak.." kataku lagi. Mengulang terimakasih

"Iya mba, hati hati. Jawabnya dengan senyum." Aku pergi menyisakan gema, irama yang menyenangkan di dalam hati seorang jiwa. Disanalah aku menyaksi kekuatan kata-kata, betapa seorang yang awalnya bermuram durja, cukup dengan berterima kasih atas jasanya, kita bak mencipta taman bunga dihatinya. Bahagia karena merasa dihargai jasanya

Berterima kasihlah, atas kebaikan yang telah mereka berikan. entah kebaikannya karena mengambilkan pensilmu yang jatuh. Kebaikannya karena memberimu kesempatan agar kau dapat masuk duluan ke kamar mandi, padahal dia telah lebih awal mengantri. Atau barangkali berterimakasih karena kebaikannya memberikan informasi bahwa hari ini dosen tengah absen. Berterima kasihlah. Sekecil apapun kebaikan yang kita dapatkan

Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, dia belum bersyukur kepada Allah ( HR Tirmidzi)

Dan sekarang, bagaimana caramu berterimakasih kepada Dia yang telah memberimu banyak sekali nikmat?

Mari kita ubah semboyan "jangan lupa bahagia" menjadi "jangan lupa bersyukur" Yapp, kata lain berterima kasih pada Rabb adalah "bersyukur". Bersyukur artinya, menggunakan semua nikmat yang sudah diberikan, agar digunakan untuk sesuatu yang diridhai-Nya. Bukan bersyukur namanya kalau harta kita yang banyak itu dipakai foya-foya, dan bukan juga bersyukur namanya kalau tubuh kita yang sehat ini malah disakit-sakitin, malah oplos sana oplos sini.

Ayoo bersyukur, atas detik yang masih Dia anugerahkan, atas kesempatan memiliki orangtua yang sangat menyayangi kita, atas nikmat Iman serta Islam, atas sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Ayo bersyukur. So, sudah bersyukur hari ini? :)

  • view 58