Merefleksikan Kisah Cinta

Asma Azifah
Karya Asma Azifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Oktober 2017
Merefleksikan Kisah Cinta

Aku sungguh heran dengan kisah sepasang insan di zaman nabi, kisah cinta yang begitu dikenal sejagat, begitu didamba siapa saja yang tengah di mabuk asmara, siapa saja yang sedang memendam cinta.I

Ialahsahabat sekaligus saudara, yang beliau nikahkan dengan putri semata wayangnya.

Pemuda pemberani Ali dan perempuan terjaga Fathimah.

Memang terlihat mudah jika kau baca sendiri kisahnya. Sang pemuda hanya cukup menyimpan rasa hingga akhirnya semua penantian terjawab oleh kehendak Nya. Pun sang pujaan, yang ternyata merasakan hal serupa, rasa cinta yang ia pendam tak kalah lama.

Entah siapa yang merasakannya kali pertama. Bisa Ali, bisa juga Fatimah. Tak ada yang berani mengungkap saat merasa belum siap. Sambil bersiap, mereka hanya menunggu. Yap, satu pekerjaan sederhana namun berliku, pekerjaan yang sungguh menguji kesabaran hati dan kualitas iman. Dan menunggupun bukan berarti diam, tapi dengan terus memperbaru kualitas diri. Memantaskan bahwa diri layak mendapat dia yang terbaik.

Namun nyatanya, sangatlah sulit dilakukan, bagaimana mungkin menahan hati yang menggebu-gebu? Terbakar asmara karena gejolak rindu? Bagaimana cara agar perasaan tetap terjaga selama masa penantian? Bagaimana cara menahan hingga tak ada celah untuk syetan menggoda kita?
.
Aku, sebagai sosok yang merasa seperti itu. Bukan, bukan karena tengah jatuh cinta, bukan juga sedang memendam rasa.
Hanya, akhir-akhir ini aku banyak sekali mendengar dan dimintai pendapat mengenai kisah cinta idaman orang-orang. Mungkin efek dari begitu banyak pecinta "akad"nya payung teduh yang berserakan di media massa, -- satu, dua mengcover dengan versi masing masing, membuat telingaku cepat akrab dan akhirnya jatuh cinta juga. Belum lagi maraknya postingan nikah muda di linimasa. Membuat kita jadi gampang baper. Jadi pengen cepet-cepet berkeluarga. *Ehh

Baru seminggu lalu aku diberi kesempatan untuk menjadi pembicara. Terjadwal untuk mengisi acara ringan di organisasi kampus. Tak mewah, hanya sharing-sharing kecil bersama mahasiswa yang tak lain teman-temanku sendiri. Sebagai pengamat kehidupan, akupun mengutarakan kebingungan saat acara berlangsung. "Ada apa dengannya?" Kataku kala itu, meminta pendapat mengapa semua orang mengidamkan kisah cinta serupa Ali Fathimah. Suka aja. Seperti itu garis besar jawaban mereka. Aku tersenyum, sebagian besar pendengar disini tengah di mabuk cinta rupanya.

Akupun mempersilakan salah satu teman membawakan kisah singkat mereka berdua. Semua seksama mendengarkan, termasuk aku. Sampai kisah usai.

"Btw, siapa yang mau jadi Fatimah?"  aku mengawali dengan pertanyaan yang cukup klise setelah kisah selesai. Aku tahu, mungkin terkesan buang-buang waktu, bukan? Tenang, ini hanya pemanasan berbicara sebelum aku manas-manasin mereka. Ancang-ancang sebelum aku memancing mereka dengan beberapa argumen andalan.

Mereka senyum, mulai kebingungan dengan pertanyaan sia-sia ke manusia tingkat mahasiswa. 'Macam nanya ke anak SD saja!' mungkin itu yang saat ini mereka  pikirkan

Aku senyum, melihat mereka hanya menjawab dengan senyum. Aku tahu ini akan terjadi.
"berarti mau dong ya melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Menahan perasaan dengan kesabaran sebelum Allah mempersatukan. Menjaga rasa dalam ketaatan kepadaNya" kataku
"Mau sih mau, tapi gayakin sanggup.." Celutuk salah seorang teman diiringi tawa pendengar lainnya.
"Emm iyaa juga sih.." responku, mensejajarkan perasaan yang tengah dipikirkan mereka.
"Iya tuh, gimana caranya yaa.. kita tuh pengen, tapi da gimana, " celetuk temanku yang lain. Materi kali ini lebih kepada sesi curhat sepertinya.

Waktu terus berlalu, aku masih merespon keluh-kesah mereka dengan menjawab seadanya, menampung keresahan dan gelisah mereka saat tengah menjalani proses maha bosan 'menunggu'

"Yuk ah sekarang mah komitmen sama-sama. Kita jangan jadi perempuan baper. Jangan sampe kalau ada laki-laki baik dikit, kita baper, dibantuin dikit sama dia, baper. ayo ah bangkit dari keterpurukan rasa baper! Asli, gak enak jadi orang baper mah." Aku menawarkan beberapa komitmen yang disambut baik oleh mereka, yang sebenarnya, komitmen itupun aku pegang sejak pekan lalu. Karena aku sadar, aku juga baperan. Hehe

"Oke ya? No baper! Gaakan membiarkan sikap bahkan hati memikirkannya. Karena yang di hati, cukup Allahurabbi. Jika nanti pikiran memikirkan dia, segera tebas dengan istighfar. Siap?"

Kali ini sebagian diam. Mungkin merasa ragu untuk sanggup. Masih tak yakin untuk bisa. Aku suka kejujuran sikap mereka, tapi apa salahnya mencoba. Mengikhtiarkan. Setidaknya untuk kebaikan perasaan yang kelak dipertanggungjawabkan

Pertemuan materipun berakhir, penasaran ku belum. Penasaran tentang mengapa orang menyukai kisah cinta Ali dan Fathimah?

Aku menumpas penasaranku dengan berbagai cara, seperti mulai menyidik kisahnya lewat serumpun aksara --bak sejarawan ternama.  Membaca, bahkan searching mengenai kisah mereka. Bukannya tak pernah tahu mengenai kisah mereka, sering dengar bahkan, hanya, rasanya belum terasa lengkap jika aku tak membaca sendiri. Baik di beberapa artikel dan buku yang sengaja ku beli.

Setelah usahaku berbuah hasil, setelah semua tanya terjawab kan, kini aku tahu, dan sepertinya aku jatuh cinta juga dengan kisahnya. Tidak, ini tidak sama seperti aku menyukai dan jatuh cinta dengan lagu payung teduh-- yang karena sering mendengar jadi suka. Aku sungguh menyukainya sejak kali pertama membaca. Hingga berandai bisa mengalami hal serupa. Satu yang terbersit. Yang menjadi kunci betapa spesialnya cinta mereka. Doa. Lewat doa mereka saling bersitatap. Dengan berdoa kepada tuhannya, mereka menyerahkan percaya apapun nanti takdirnya. Termasuk mengutarakan semua rindu. Karena doa, dialog rindu paling syahdu.

Bagaimana jika tak berwujud? Bagaimana keinginan ku memiliki kisah cinta serupa Ali Fathimah tidak nyata, bahkan sebaliknya. Sia-sia doaku selama ini. Sia-sia dialog rinduku. Usang dimakan waktu. Berdebu.

Tak. Tak apa. Itu sudah menjadi jalan takdir terbaik yang telah Allah pilihkan. Serupa dengan perjalan cinta Ali dan Fatimah. Cerita sahabat lainnya yang tak kalah hebat pun bisa kita baca sebagai teladan, bahkan pengobat jiwa. Mengenai kasih tak sampai misalnya, kisah dari sahabat Thalhah. Dalam kisahnya Ia memberi bukti, bahwa tak selamanya rasa bertemu muara.

Thalhah, yang cintanya pupus pada Aisyah -- istri Rasul, tak bisa tergapai karena terhalang syariat. Ia pun mengalihkan energi cintanya pada objek lain, Ia tumpahkan energi cinta dan kasih sayangnya untuk keluarga, anak anaknya, serta umat. Bahkan anaknya sendiri beliau beri nama serupa dengan nama perempuan yang ia kagumi. Aisyah.

Aku jadi lucu sendiri, kenapa malah membanding bandingkan kisah cinta Ali Fathimah dengan kisah cinta lain yang lebih mendunia. Romeo Juliet, atau Layla Majnun mungkin? Tentu saja! Memangnya siapa yang mau punya kisah cinta 'tragis' seperti mereka? Romeo Juliet yang karena cinta bahkan sampai meregang nyawa, dan Layla majnun malah membuat yang satunya gila. Aku tertawa..

Maka tak heran, di undangan yang kupegang ini ada sebuah tulisan di akhir doanya "doa Rasulullah saat pernikahan Ali dan Fatimah". Barangkali memang banyak para orang tua yang menginginkan pernikahan anaknya seperti Ali dan Fatimah. Pernikahan yang benar Lillah, bukan musibah -- karena hamil duluan. Pernikahan yang syahdu, karena semua rindunya dulu diutarakan lewat doa, bukan kangen kangenan di status sosial media. Dan dibalik dari mati-matiannya seseorang menahan dan memendam perasaan, menunggu waktu yang tepat untuk diutarakan --lewat akad. Inilah hadiah istimewa bagi sang penunggu. Pernikahan yang indah, yang bahagia sampai Jannah.

Dan untukmu yang tengah menunggu dalam kesendirian. Jangan sedih, karena Fatimah pun dulu begitu. Terus aja kencengin doa, deketin Dia. Semoga kita dipasangkan dengan manusia pilihan terbaik. Dan tentu hal itu jadi kodenya Allah untuk kita, bahwa dipasangkan dengan 'pasangan sholeh' itu agar bisa sama-sama jadi partner yang solid, yang terbaik. Partner dalam kebaikan, partner sampai Syurga. Aamiin.

  • view 74