Cinta Thalhah

Asma Azifah
Karya Asma Azifah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 21 Mei 2017
Cinta Thalhah

Di beberapa persimpangan waktu, aku masih saja terganggu dengan rentetan fikiran yang kelu; sulit kuutarakan, meragu, hendak sampai kapan ini akan berlalu, tiap detik yang  kulalui masih saja menyisakan nestapa tanpa sketsa. Perasaan itu, laksana bom waku yang bisa meledak kapan saja, menenggelamkanku pada lautan fikiran yang dipenuhi bayang-bayang, kosong, semua hanya lamunan tentang kebahagiaan yang tak akan pernah nyata

Pagi ini,  bertemankan secangkir puisi dan pena hangat, aku siap melangkahi arena baru, dengan perasaan yang baru. Perasaanku selalu lebih baik setelah malamnya memanjatkan doa. Doa  apa saja,mengharapkan kebaikan untuk kedua orangtuaku, teman-temanku juga perasaan itu. Tentu, semua pengharapan selalu menginginkan yang terbaik.

 Aku teringat satu malam, malam yang menakutkan, malam yang hanya ada aku dan benang-benang kusut perasaan. Perasaan yang enggan kujabarkan lagi persisnya, semua menjelma menjadi sebuah bongkahan rindu yang terpendam, hancur seketika menjadi pecahan yang siap melukaiku kapan saja,  prasangka dan bahagia yang begitu menyakitkan, sungguh tak baik jika itu mendera jiwa.

Saat itu disuatu malam, saat gemintang masih berpendar, saat kunang masih menghiasi pesona malam, aku yang tengah pilu  menangis tersedu, terisak karena perasaan itu tak mampu lagi ku tampung, takut karena kini aku pun ketakutan dengan perasaan itu.

Tak banyak yang bisa kulakukan, hanya di hamparan sajadah yang kugelar, aku merendahkan diri,meluapkan segalanya dalam sujud malam, perasaan kalutku mendunia dalam doa,

Aku mengingat semua detail yang kuceritakan pada Rabb, tak banyak, satu tema saja. Yang sungguh mengganggu. perasaan tentangmu. Aku mencurahkan segala tentangmu, bercerita tentang awal kita bertemu juga perasaan itu.  tak tahu  sudah berapa banyak  tetesan air mata  mengenai mukena. Aku tahu, perasaanku saat itu tak seberapa jika dibandingkan dengan berjuta perasaan yang Rabb tumbuhkan dalam setiap jiwa, aku yang  rupanya gagal faham tentang sebuah fitrah bernamakan cinta, aku yang  seharusnya menumpahkan cinta utamaku pada Sang Maha Cinta

Setelahnya aku tersadar, ruang kecewa siap menuntut banyak tanya, 'mengapa begitu?' katanya. Mengapa aku dahulu pernah menangis sebegitunya, tersedan memohon pada Rabb minta dilapangkan hati, sedangkan diri lemah dan terbenam kedalam angan paling perih, paling angin. Entahlah.. aku menyayangkan mengapa aku seperti itu, mengapa aku pernah sebegitunya padamu,

Aku melangkahkan kaki dalam desiran pasir, sungguh menyejukkan menyatakan cinta pada sang Pencipta. Aku jatuh cinta pada lautan ini, jatuh cinta pada ciptaanNya, jatuh cinta padaNya. Dengan beribu syukur aku curahkan pada dzikirku, dengan semua takdir aku bersyukur telah dipertemukan dengan ilmu itu. Ilmu tentang sebuah kisah yang selalu menjadikan semua perasaan cinta lebih baik ketika menyimaknya,

Mari sama-sama simak kisah ini, sebuah kisah tentang cinta yang sederhana, kisah yang  lumrah terjadi bahkan di zaman Rasulullah SAW sekalipun,

 Ialah Thalhah bin Ubaidillah, Pemuda cerdik yang  bertempur luar biasa di medan Uhud, badannya ada 70 luka  berupa sabetan pedang juga tombakan anak panah, tangannya pun potong ia pun pingsan.

Suatu ketika Thalhah sedang berbicara pada Aisyah Ummul mukminin, tak lama Rasulullah SAW datang dan menghampirinya, Rasulullah mengisyaratkan ketidak sukaannya. Thalhah sadar, Rasulullah melarangnya berbicara dengan Aisyah. 'Tunggu saja ketika rasul wafat,' katanya dalam hati, 'maka tak akan kubiarkan orang lain mendahuluiku utk melamar Aisyah'. Thalhah pun menyampaikan hal tersebut pada salah seorang sahabat, namun Allah tahu ucapan Thalhah, lalu turunlah wahhyu "Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah "(al-ahzab 53)

Kali ini bukan adat tradisi, harta atau keturunan yang menjadi pemisah sebuah cinta, kali ini syariatlah yang menjadi pemisahnya, kedudukan syariat selalu diatas perasaan.

Ketika ayat itu dibacakan kepadanya, Thalhah lansung memerdekakan budak-budaknya, menginfakkan unta-unta yang dimilikinya, dan berumrah dengan berjalan kaki menuju mekkah sebagai tanda pertobatannya.

Waktu kian berlalu, didiknya putri kecilnya sehingga menjadi pesona di zamannya, putri kecilnya ia beri nama serupa dengan orang yang dikaguminya, Aisyah.

Sebuah perasaan cinta adalah lumrah dialami pada tiap manusia, jika cinta telah diizinkan tumbuh di dalam hati, rawatlah ia untuk menjadi  lebih berarti.

Laksana puisi yang kukagumi,juga diksi-diksinya yang indah, cintapun begitu, ia telah banyak menyihir jutaan orang. Energinya mampu merubah musibah menjadi anugrah, neraka menjadi surga.

Jatuh cinta tak terlalu sulit, mengkonfirmasikannya jauh lebih sulit,

Mengkonfirmasikan cinta adalah menyatu bersama dalam pelaminan, konfirmasi laainnya adalah dengan mengalihkan energi cinta pada objek atau hal lain jika cinta tak mungkin bersama. Pada keduanya butuh keberanian. Butuh keberanian untuak mengajak orang hidup bersama sepanjang usia, tapia juga butuh keberanian untuk menyatakan cinta kita tak bisa lagi dilanjutkan dan harus di alihkan, serupa pengalihan cinta Thalhah kepada Aisyah, cintanya tak mati, ia hanya bermertamorfosa pada objek yang lain,Thalhah mengalihkan perhatiannya pada anak perempuan, keluarga dan agamanya, dia pemilik hati yang kuat, yang mengerti, tak selamanya kenginan dapat terwujud, tak selamanya rasa bertemu muara,

 tak selamanya rasa bertemu muara,

Aku faham bahwa sebenarnya semesta tak ingin kita patah hati, ia hanya ingin memberi pengajaran yang sampai ke hati, agar kita selalu disadarkan tentang takdir tertulis, takdir yang membawa kita ke suatu yang entah, membawa kita menjadi insan bahagia dengan takwa.

  • view 73