Hujan

Asma Azifah
Karya Asma Azifah Kategori Renungan
dipublikasikan 26 November 2016
Hujan

Rinai menemani awan pagi, menyamarkan mentari yang sembunyi. Cukup banyak yang mengutuk kejadian ini diawal pagi, tak tahu kenapa, rindu mentarikah? atau adanya gumpalan semacam kebencian pada rintikan hujan.

Namun, diluar sadarnya, rupanya sudah banyak tindakan serupa yang  dilakukan. Dilain waktu, dilain tuju. Tak mengerti syukur. Mungkin begitu singkatnya.

”Aku tak mengerti mereka” kata hujan pada mentari

“Mereka tak menyukaiku datang diawal pagi, lebih memilih kau yang hadir.” Keluh hujan

“Mereka sama saja,” jawab mentari.

“Saat aku yang di posisimu, mereka pun membenciku, kemudian mengutuki panasku lantas mengeluh setiap waktu.” 

‘Bagaimana mengingatkan mereka bahwa aku baik-baik saja, aku bukan bencana atau sesuatu yang dikeluhkan. tapi rahmat yang mesti disyukuri.. Rahmat yang membuktikan betapa sayangnya Rabb pada mereka. Sangat ingin aku melantangkan firman-Nya, bahwa aku satu diantara rizki yang Allah karuniakan untuk mereka. Lupakah mereka pada tanaman dan buah buahan? Pada minuman ternak dan sumber air mereka? Aku memenuhi titah Rabbku untuk itu, untuk memenuhi nikmat mereka di dunia.’

Mungkin itu sekilas percakapan mereka dalam anganku, walau kutahu mereka takan pernah bertemu.

Inilah pagi, dengan butiran hujan, dengan sejuknya angin pagi.. meski kutahu banyak orang yang tak menginginimu hadir membersamai pagi mereka. Sungguh kasihan kamu hujan.. Tak tahu sehebat apa sakit yang kau terima karena makian mereka. Kau redam kesakitan dengan derasan rahmat-Nya yang meruah, yang menumbuhkan kemanfaatan bagi mereka.

Kusiap dengan payungku, melangkahi genangan yang mengingatkanku pada kenangan. Kata orang, hujan sangat disukai para  perindu. Bagaimana bisa? Akupun tak tahu.

Pada butir air yang mengenai kulit, ingin aku sampaikan pesan pada langit. Tentang semua kenangan yang tertinggal dalam ingat dan benak.  Bagaimana bisa aku melumpuhkanmu? Sudah kadung aku merasakannya..

Detak menjelma detik terus bergerak menghantui dalam dada, merindumu tak selalu sederhana.. Matakupun  sembab, saat tahu ada banyak sekali pertanyaan tak terjawab.. memang  bukan tentang jarak, pun jauh.  tapi beberapa perca perasaan yang semakin riuh… menyekatku pada kebahagiaan yang kusebut  kamu..

Duhai Kita yang kerap kali beriringan dibeberapa detik dan pendapat. 

“Kau baik saja?” Tanya panas mentari pada dinginnya hujan.

“Aku ikhlas, walau mereka mengutuku terus menerus, semoga mereka dapat lebih memahami dan membaca semesta. Agar lebih mengerti mengapa aku dan kamu diciptakan, pun mengerti untuk tak lagi mengutuki semua yang terjadi, karena semua patutnya disyukuri . Mungkin mereka akan sadar jika kita menghilang dan tak kembali.

Aku baik saja, setelah semua yang mereka katakan padaku, dan aku bangga, mencintai titah Rabbku dengan menurunkan hujan.”

Sekali lagi, percakapan mereka dalam anganku.  walau kutahu mereka takan pernah bertemu.  Tunggu, tak tahukah engkau seberapa rindunya sang hujan pada panas mentari? mengingat mereka yang tak pernah bertemu.

  • view 138