Semengagumkan Dirimu

Asma Azifah
Karya Asma Azifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Semengagumkan Dirimu

Jika  tiap mata dapat melihat hal yang tak kasat, akan seperti apa jadinya?  tunggu!  ini bukan bahasan menakutkan seperti  yang kau bayangkan, ini mengenai hal yang tak terlihat seperti perkara pikiran dan rasa.  Cinta misalnya. .  Wajah  bersemu merah juga senyuman senang yang nyaris tenggelam karena tertutupi rasa malu.  Semua akan dapat ditebak dengan mudah oleh siapapun yang melihatnya, ditambah sorakan memalukan terdengar disana sini, Mungkin aku bisa saja mati karena malu dibuatnya.  Beruntunglah ini tak nyata.

 Soal cinta.. Aku punya begitu banyak cerita tentangmu, mengenai sosok mengagumkan sepertimu

Tentang langit yang selalu kita perbincangkan,tentang filosofi yang berhasil kau ciptakan, tentang aku dan kamu yang terus berpacu pada waktu, tentang  perasaan-perasaan itu..

Waktu memakuku saat kau ada dihadapanku. Tercekat, tak bisa melewati rasa itu dengan cepat. Harus bagaimana aku melaluinya? Detik seakan melambat, malas menggerakan jarum panjangnya, bagaimana aku dapat meminta solusimu, duhai kamu yang selalu bisa menjawab! Jika nyatanya  kamulah masalah dari semua sebab.

Petang membungkus semua perasaan yang masih abadi hingga saat ini. Angin dari jendela tertiup kencang,  dedaunan disebrang sana beterbangan, segera kukemas semua yang berantakan di meja perpustakaan. Baru selesai dari tugas yang menumpuk sejak pekan lalu, beberapa ilmu yang tak kuketahui berhasil kucuri. Ah tentu bukan seperti yang kau fikirkan! Aku diam-diam belajar dari seorang yang sangat mengagumkan, 

Selesai mengemasnya, aku segera turun menuju lantai dasar, bergegas pulang,  cuaca akan tidak bersahabat jika aku berlama-lama disini. Rupanya hujan sudah mendahului sebelum aku sampai didepan pintu, hal yang menyebalkan sekaligus menyenangkan terjadi. Selain basah, bersama hujan aku dapat tersenyum, titik airnya seakan membawa kabar gembira menjamah sampai ke jiwa

Kubuka payung bergegas melintasi hujan kecil, bersiap sebelum akhirnya menderas.  Aku mulai melangkah keluar. Selangkah, dua langkah.. Menuju gerbang menunggu angkutan umum. Lima menit berlalu, sepuluh menit, masih belum ada yang melintas satupun, hujannya sudah cukup deras, aku memutuskan untuk  kembali ke perpus,  berteduh sebentar di  cafenya. Aku membalik badan, berlari kecil melintasi air yang menggenang, tangan kanan memegang payung, yang kiri memegang rok , sebagiannya telah basah dengan becek ditempatku berpijak tadi.

"Neng  yang tadi?" Sapa satpam dipintu masuk, sudah kuduga, adegan bodoh ini akan terjadl. Aku  tersenyum tipis, mengangguk pelan.

Setelah memesan minuman hangat, aku duduk meja dipaling luar, diluar angin  cukup kencang, hembusannya  mampu mengibaskan kain kerudung, aku menahannya dengan tanganku yang basah bekas payung tadi.

Jalan jalan kota masih basah, awan dan angin sedang senang rupanya, berkali-kali menggoyahkan spanduk papan iklan di pinggir jalan, lampu-lampu taman sudah mulai dihidupkan, suasana hampir kelam karena hujan ini.  Minuman pesananku datang bersamaan dengan datangnya seseorang ke mejaku, pelayannya. Tentu saja!

Di selang waktu seperti ini, aku memikirkan beberapa filosofi tentang hujan, seseorang yang mengajarkannya. Menuntutku peka pada setiap yang terjadi didepan. kini banyak mobil berbaris rapi di parkiran, barangkali orang-orang  ikut berteduh disini juga, aku memegangi cangkir, minumannya sudah aga dingin,  tiba-tiba korneaku menangkap  seseorang  yang ada diujung sana, seperti yang kukenal! 30 detik berlalu, ternyata benar itu dia!

Enggan dianggap sombong, aku menghampiri mejanya lantas berkata,

"Rafid? Sedang apa disini?" . Tanyaku basa basi.

Yang dipanggil menoleh, kemudian menatapku datar, tak ada ekspresi terkejut disapa tiba-tiba

"Oh hai, Fat.. Lagi menyelesaikan tugas," jawabnya singkat. Lantas kembali menatap layar didepannya, sibuk mengetikan sesuatu disana. Aku yang sedari tadi terpaku, langsung duduk tanpa disuruh, duduk berhadapan dengan punggung laptopnya.  Dibangku ini aku berniat menemani dan memulai obrolan ringan sambil menunggu huja. Lima menit beralu, ahh rupanya aku belum juga memulai. Aku terlalu sibuk mengatur nafas, mengusahakan agar degupan kencangnya tak menyebalkan seperti biasa.

"Ini tugas yang harus kuselesaikan sore ini juga, penting sekali. Tak bisa kutunda." Dia mulai bercerita tanpa kuminta. Nafas yang tadi tertahan sudah mulai lega.

 ' ohh..' hanya itu komentarku

"Daan selesai,, Alhamdulillah." Katanya kemudian, lantas membunyikan jari tangannya yang terasa lelah.

"Coba kamu lihat ini, Fat.. Kata-katanya pas tidak?" Pintanya, seraya membalikan laptopnya ke arahku, aku membacanya, rupanya dia sedang mengerjakan laporan kegiatan yang diadakan minggu lalu,

"Gaada, Fid.. Udah pas tuh," kataku seusai membaca seluruhnya. Lantas menyerahkan kembali laptop didepanku,

"Ok, thanks.."

Aku mengangguk. Tak masalah,

'Kamu sadar ga? Kalo dia minta pendapatmu, apalagi pendapat mengenai pekerjaan harian atau masalah dirinya, tandanya kamu diandalkan sama dia.." tiba-tiba  saja aku teringat perkataan Tias siang tadi.

Hujan mulai mereda, tiupan angin sudah tampak lelah setelah menemani hujan di 30 menit lalu, sayangnya tidak baik jika memutuskan untuk pulang sekarang, masih terlalu deras bagi pejalan kaki. Baiklah, aku akan menunggunya beberapa menit lagi. dia masih disana. Mengenai sikapnya yang meminta pendapat tadi, bukan pertama kali dia melakukannya, kami sering terlibat beberapa obrolan penting, seperti diskusi atau merenungkan banyak hal  menarik. dia yang jenius memang tak mudah dikalahkan. Meski begitu, aku juga pernah mengalahkannya. Sosoknya yang seperti itu memang menjadi andalan tiap orang untuk meminta belajar bersama. Sayangnya, tak ada satupun teman perempuan  yang diperlakukan dengan ramah, rata-rata datar. Jangan tanya kenapa untuk hal ini, akupun tak tahu jawabannya.

Menit berlalu begitu lambat, aku memutuskan untuk pulang saja. Kugendong tas, lantas menyiapkan uang untuk membayar minuman hangat.

"Fid, duluan yaa.." Kataku menutup perjumpaan. Ia menoleh, melihat didepan yang masih hujan

"Sekarang? Masih hujan, Fat.."  Ada ekspresi yang mulai ia tampakkan,  aku tak tahu itu ekspresi apa, tak mau mengada ngada dengan semua perasaan yang masih sibuk kurangkai

"Bentar lagi juga berhenti, aku bawa payung koq, seenggaknya hujannya udah lebih mending dibanding yang tadi." Timpalku

"Ohh, yaudah.."

Aku langsung membalik badan, pergi dengan langkah besar-besar, menjauhi dengan cepat tempat itu. Membelakanginya dengan wajah yang mulai memerah

"Hati-hati.." Suaranya terdengar lagi dilangkah kaki yang ke tujuh. Aku tak membalik, pura-pura tak mendengar, terlanjur melayang pada semua kenyataan yang sudah terjadi, jantungku pun berdetak tak karuan setelahnya..

Seturun dari angkutan umum, aku jalan menuju rumah, hujannya sudah reda, pelangi indah terlihat di depan taman sana, lamunanku masih saja mengarah tentangmu. Ah payah, soal memikirkan, kamu yang selalu paling depan ku khawatirkan..

Entah kapan ini semua bermula. Aku yang sekarang menjadi pribadi seperti ini,  pribadi yang mulai berani pada hal yang dulu kutakuti, mulai berani menjajakan mimpi mimpi dengan pasti, aku malas mengaku kalau ini karenamu, walau mungkin faktanya iya, fat, jika kamu punya tekad tentang mimpi-mimpimu, mulailah aksi nyata untuk mewujudkannya, aku ingat kata kata itu, kata yang ia ucapkan satu tahun lalu, kata yang begitu dalam,   energinya seakan mendorongku untuk melakukannya. Kau tahu?  Setiap yang kulakukan mencontoh darimu, aku mencuri. Mencuri sikap baikmu untuk menjadikannya ilmu. Cara kau mengambil sikap saat masalah datang, cara kau mengerjakan tugas dengan cermat, cara kau berfikir akan suatu hal,, aku mencuri! Mencontohnya padamu.

Kapan ini berakhir? Aku sendiri tak tahu, 

Kelam sudah sempurna di bingkai jendela, kelipan bintang melengkapi istimewa setiap malam, bertemankan dengan ini, aku masih berkutik pada pertanyaan yang belum kujumpa jawabannya. bagaimana aku bisa berhenti? Mencegah hadirnya hati karena sebuah kekaguman, mencegah tumbuhnya ilmu yang bermuasal dari sebuah rasa, ah bagaimana mungkin? Aku  berhenti mengagumi.  Berhenti untuk mengagumi sosok yang semengagumkan dirimu.

 

Duhai Rabb yang Maha melihat segalanya, untuk semua yang Kau tahu tentang diriku, untuk semua yang Kau tahu tentang perasaanku. Aku pasrah apapun kehendak-Mu, aku mohon bimbinganMu  membersamaiku dalam perjalanan  menapaki  takdirMu

  • view 260