Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 3 Oktober 2017   20:39 WIB
Apakah harus WAH untuk menuju SAH?

Bulan September dan Oktober adalah puncak undangan pernikahan disebar oleh teman-teman sebayaku. Bulan September saja dapat 20 undangan nikah dan bulan Oktober dapat 12 undangan nikah. Luar biasa sih, sampai diri ini kebingungan dan memutuskan untuk datang di beberapa teman yang jaraknya masih bisa dijangkau oleh sandal swallow kids jaman now. Hehe..

********************************************

Grup di whatsapp pun sering rame kirim foto saat ada teman yang melangsungkan pernikahan pada hari itu. Beberapa kali saya tertegun dengan acara resepsi pernikahan mereka, ada yang sangat mewah, ada pula yang sederhana. “Saya hanya berfikir, berapa ratus juta yang dihabiskan untuk melangsungkan acara tersebut dan apakah uang tersebut murni uang pribadi atau uang hutang? Berapa persen anaknya kasih sumbangan untuk orang tuanya?” pertanyaan yang bertubi tubi itu selalu mengisi lamunanku saat melihat kebahagiaan mereka lewat foto, dan semua itu sebenarnya hanya untuk mendapatkan kata “SAH” dari penghulu.

*******************************************

Tiba-tiba saya ingat salah satu teman. Teman yang baru kenal sekitar setahun yang lalu. Dia tinggal di dekat pusat kota kecil di Jawa Tengah. Dia anak satu-satunya. Dia anak yatim dari lama dan ibunya sudah tidak bekerja.  Setiap harinya untuk makan dan mencukupi kebutuhan bergantung kepada anaknya. Terkadang dia mengeluh karena gajinya tidak mencukupi untuk keperluan ini dan itu, tapi ini sudah takdir jadi tidak ada yang bisa dikeluhkan lagi. Bersyukur adalah solusi terbaik baginya karena Allah akan menambah nikmat kepada orang-orang yang bersyukur.

*******************************************

Bulan September kemarin, saya mendapat kabar dia akan melangsungkan pernikahan. Jujur saya salut sama dia dikarenakan semua biaya pernikahannya  dari uang hasil tabungan kerjanya selama setahun lebih. Dia memang pernah cerita bahwa setiap bulannya harus ada tabungan untuk nikah. Mulai dari sewa dekorasi, catering, photo, dan tetek bengeknya semua berasal dari uangnya sendiri. H-10 hari dia pernah mengeluh belum bayar siomay yang dipesan untuk prasmanan dan lagi-lagi Allah menunjukkan kuasanya dan akhirnya siomay terbayar juga. Hidangan untuk di meja pun semua dipikirkan sendiri, sampai toples dan tempat tisu pun dia yang beli sendiri. Kebayang kan bagaimana rasanya jadi dia?  

*******************************************

Hati ini selalu terenyuh melihat dia yang begitu giat dan semangat setiap harinya.  Dia yang hidup sederhana tapi ingin membuat sebuah pesta. Dia wanita seorang diri yang ingin menjadi ratu di hari pernikahannya walaupun harus banting tulang sekian lamanya. Kini dia sudah halal dan kembali lagi mengumpulkan pundi-pundi untuk kehidupan anaknya kelak bersama suaminya. Semoga suaminya selalu membuatnya bahagia. Aamiin...

******************************************

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, nikah itu bukan untuk mencari kata “WAH” tapi kata “SAH”. Jadi jangan khawatir jika tidak membuat pesta besar, yang penting mah ada mempelai pria dan wanita yang siap diijab qobul oleh penghulu. Jangan khawatir jika orang tua atau pun kamu tidak ada tabungan untuk pesta, yang penting sudah ada kesiapan untuk membina rumah tangga  dan kesepakatan berdua untuk menuju KUA yang notabene 500 ribu mah bisa. ^_^

Walimatul 'ursy itu bertujuan untuk mengumumkan pernikahan bukan bermewah-mewah dalam pernikahan. Bukankah Rosul menganjurkan untuk mengadakan pesta sesederhana mungkin? 


#Salam kopi hitam :)

Sumber foto : http://www.tribunnews.com/seleb/2017/09/03/seperti-ini-kemewahan-lokasi-pesta-pernikahan-raisa-dan-hamish-daud-malam-ini


Karya : Siti Asiyah