Menikah, sebuah keinginan atau kebutuhan?

Siti Asiyah
Karya Siti Asiyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Juli 2017
Menikah, sebuah keinginan atau kebutuhan?

Akhir-akhir ini banyak yang mengirimkan undangan pernikahan ke saya baik via WA, BBM, maupun dalam bentuk hardcopy. Memang tidak bisa dipungkiri di usia sekarang (red_kelahiran 1990-1996) sudah waktunya untuk menikah. Ibarat mangga sudah layak petik (tidak kemampoh dan tidak busuk). Akan tetapi untuk menuju ke jenjang tersebut tentunya kita sudah memperhatikan banyak faktor. Faktor pertama tentu dari diri kita sendiri, faktor kedua dari keluarga, dan faktor ketiga dari lingkungan.

Disini saya akan bahas faktor pertama terlebih dahulu yaitu diri sendiri. Jika kamu ingin menikah karena teman-teman kamu banyak yang sudah menikah, menurut saya itu hanya rasa iri dan nafsu. Iri melihat kebahagiaan orang lain (padahal belum tentu bahagia, hehe). Menikah itu tidak seindah yang kita lihat di TV, bulan madu di Bali, shopping sesuka hati kalau suami sudah gajian dsb. Menikah itu tentang sebuah komitmen, sebuah kesiapan. Komitmen untuk menjadi seorang istri dengan resiko pagi sampai pagi lagi sampai akhir hayat benar-benar harus siap sedia untuk melayani suami. Kesiapan untuk bisa mengerti dan menemani suami baik itu saat dia diberi Allah banyak rezeki maupun saat dia jatuh. Kesiapan untuk mengandung keturunan yang diidam idamkan setiap pasangan yang melangsungkan pernikahan. Kesiapan untuk melahirkan anak tersebut dengan resiko hidup dan mati. Kesiapan untuk merawat dan mendidik bayi kecil mungil sampai dia tumbuh dewasa sehingga bisa menjadi anak yang sholih sholihah dan anak yang yaritsuni (anak yang bisa mewarisi estafet perjuangan). Kesiapan untuk mejaga anak2 kita dari segala yang bertentangan dengan agama. Kesiapan untuk melepas mereka apabila kelak sudah dewasa untuk menikah tanpa kita ikut campur lagi di dalamnya tentang hubungan anak kita dan istri atau suaminya. Apakah kalian sudah terbesit pemikiran sampai kesitu? Mungkin bagi sebagian orang hal itu bisa dipelajari seiring dengan waktu tapi dipelajari saja tidak cukup tanpa latihan mulai dari sekarang. Belajar untuk bisa mandiri saja masih sulit. Sekarang cobalah tanyakan pada diri sendiri, apakah menikah itu sudah menjadi kebutuhan atau hanya sekedar keinginan?

Faktor kedua adalah keluarga. Keluarga juga berperan penting dalam pernikahan anaknya, karena pernikahan bisa sah atas persetujuan dua keluarga. Jika keluarga wanita setuju tapi keluarga laki-laki tidak setuju maka pernikahan itu tidak jadi sah. Sebagai orang tua juga harus mengerti perasaan anaknya. Bukan hanya karena kurang cantiklah, kurang tajirlah, kurang itulah menjadi penghambat pernikahan anaknya. Kalau pilihan anak sudah baik lantas kenapa orang tua menolak? Pasti seorang anak tidak asal memilih, mereka pasti punya pertimbangan tersendiri dalam menemukan jodoh. Perlu diingat jika pada masanya anak kalian menikah, maka mereka sudah tidak 100% milikmu, melainkan milik menantumu juga. Apabila anak kalian wanita maka ikhlaskanlah mereka karena sudah menjadi tanggung jawab suaminya untuk mendidik anakmu, asalkan didikannya tidak membawa mereka untuk menyekutukan Allah, apabila didikan suaminya mengajak anakmu menyekutukan Allah maka ambil kembali mereka ke pangkuan kalian. Apabila anak kalian laki-laki, ikhlaskan mereka untuk menjadi suami anak orang lain. Jangan tetap beri beban anakmu dengan segala keluh kesahmu. Yakinlah bahwa anakmu tidak akan pernah lupa dengan orang tuanya tapi bukan berarti dia 100% masih menanggung orang tuanya karena dia sudah memulai menanggung kehidupan yang baru. Lantas sebagai seorang menantu, apakah kita sudah siap menerima dan memperlakukan mertua kita seperti kita menerima orang tua kita sendiri? Pengalaman di sinetron, katanya mertua lebih kejam lho dari orang tua, padahal tidak semuanya seperti itu. Doakan saja anak kalian senantiasa berada di jalan yang benar dalam mendidik istri dan anaknya ataupun anak perempuan kalian taat sama suaminya tanpa melupakan orang tuanya. Apakah orang tua kalian sudah siap akan hal itu? Apakah kalian nantinya juga bisa seperti itu? Tanyakanlah pada diri masing-masing.

Faktor ketiga adalah lingkungan. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap pola berfikir kalian nantinya. Jika lingkungan kalian selalu berfikir positif, maka kalian pun senantiasa berfikir positif. Beda hal nya jika lingkungan kalian negatif, maka kalian kemungkinan juga bisa berfikir negatif. Dalam hidup bertetangga, bermasyarakat berdoalah untuk dijauhkan dari rasa iri, dengki, riya dan turunannya karena hal itu bisa saja mengkontaminasi keturunan kita nantinya. Sudah siapkah? Tanyakan pada diri sendiri.

Tulisan ini hanya pendapat saya saja, mungkin ada yang berpendapat lain bisa comment. Mungkin kita bisa saling berbagi untuk menuju kebaikan ^_^

Kura-kura begitu :)

Sumber foto http://lifestyle.liputan6.com/read/2866737/8-tanda-anda-tidak-siap-menikah

  • view 138