Dunia Pendidikan sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Siti Asiyah
Karya Siti Asiyah Kategori Motivasi
dipublikasikan 11 Mei 2016
Dunia Pendidikan sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Berbicara tentang dunia pendidikan tantangannya pun akan semakin besar seiring dengan derasnya tantangan global terutama dalam menghadapi MEA. Pendidikan memang diperlukan bagi generasi di negara ini untuk pembentukan sebuah karakter. Pembentukan karakter mempunyai peranan yang sangat penting bagi generasi penerus Indonesia dan hal itu harus dilakukan sejak dini sebagai pondasi bagi mereka. Oleh karena itu diperlukan sebuah wadah yang bisa menampung semua itu yaitu sekolah.

Sekolah merupakan wadah yang terlibat penuh dalam pendidikan formal bagi generasi di Indonesia. Selain sebagai tempat pembentukan karakter sejak dini, sekolah juga berperan penting untuk mendorong generasi Indonesia mendapatkan sebuah prestasi yang mengharumkan nama negaranya. Dengan demikian, dunia pendidikan harus benar-benar terarah sehingga mampu menelorkan generasi Indonesia yang berkualitas baik dari segi IPTEK dan IMTAQ serta mampu bersaing menghadapi berbagai tantangan diantaranya tantangan MEA yang terjadi mulai akhir 2015.

Selain di sekolah, keluarga terutama orang tua juga mempunyai peranan penting untuk mendidik putra putrinya secara informal. Pendidikan dari orang tua diharapkan mampu menjadi pendukung bagi anak setelah mendapatkan pendidikan di sekolah. Pendidikan secara informal yang dilakukan oleh orang tua dapat dikatakan sebagai kemampuan softskill bagi anak sedangkan pendidikan formal yang dilakukan di sekolah dapat menjadi hardskill bagi mereka. Dengan adanya softskill dan hardskill maka akan mudah bagi mereka dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Begitu pentingnya pendidikan secara formal dan informal bagi generasi Indonesia karena apabila kita menilik dunia pendidikan di Indonesia saat ini, banyak sekali kendala-kendala yang dialami diantaranya keterbatasan akses pendidikan terutama akses teknologi di daerah-daerah terpencil, jumlah guru yang tidak merata di seluruh Indonesia, kualitas guru yang berbeda di setiap sekolah, kelengkapan sarana dan prasarana yang berbeda di setiap sekolah serta adanya perbedaan dalam hal pembiayaan di setiap sekolah di masing-masing daerah. Oleh karena itu diperlukan sebuah solusi untuk menyelesaikan terkait masalah ini.

Beberapa langkah antisipatif yang harus dilakukan oleh penggiat pendidikan antara lain adanya perbaikan manajemen di setiap jenjang pendidikan baik mulai dari TK sampai pendidikan tertinggi yakni S3, adanya partisipasi masyarakat yang mendukung dunia pendidikan, peningkatan kualitas guru dan kualitas materi yang diberikan, meningkatkan sarana dan prasana yang sangat menunjang bagi dunia pendidikan tanpa membeda-bedakan daerah, daerah terpencil maupun daerah yang dekat dengan ibukota harapannya fasilitas yang diberikan negara ini sama serta memperhatikan biaya pendidikan di setiap daerah di Indonesia sesuai dengan UMR masing-masing.

Adanya pengaruh luar juga menjadi faktor penentu bagi maju atau mundurnya pendidikan di Indonesia, misalnya kehadiran gadget dan televisi. Kehadiran gadget dan televisi adakalanya menjadi faktor yang menjadikan gagalnya dunia pendidikan dan adakalanya menjadi faktor pendukung berhasilnya pendidikan. Hal ini tergantung dari bagaimana user menggunakan benda tersebut. Sebaiknya ada pengawasan khusus baik dari orang tua maupun dari sekolah perihal penggunaan gagdet bagi siswa karena hal itu akan berpengaruh terhadap psikologi mereka.

Facebook, Twitter, Instagram, Line, dan aplikasi yang lain merupakan faktor pengganggu dalam proses belajar meengajar. Sebaiknya ada tindakan dari pemerintah yang bekerjasama dengan CEO aplikasi tersebut untuk melakukan pembatasan usia kepemilikan akun aplikasi tersebut. Begitu juga dengan Televisi pun sekarang menjadi musuh nyata bagi siswa. Banyak tontonan yang tidak layak yang harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan KPI. Misalnya serial anak jalanan yang sedikit sekali nilai moral yang dapat kita ambil. Seharusnya televisi di Indonesia menanyangkan berbagai kekayaan alam, kebudayaan, adat istiadat, serta sejarah Indonesia yang sarat makna bagi generasi muda, bukan tontonan yang malah dapat merusak moral mereka secara perlahan.

Menurut hemat saya, pendidikan di Indonesia itu hanya mengerti sedikit dari banyak hal bukan mengerti banyak dari sedikit hal, oleh karena itu harus difokuskan mulai sejak dini. Mendidik anak berfikir secara logis, sistematis, rinci, beranalisis, dan berkesinambungan dapat meningkatkan memori mereka. Selain itu, penting juga mengetahui minat dan bakat anak sejak dini serta membuat anak tersebut ahli dalam bidang yang diminatinya. Misalnya jika terdapat anak yang berbakat di bidang seni sebaiknya dia masuk di bidang seni mulai sejak dini tanpa melirik bidang lain. Maka kelak dia akan menjadi ahli seni yang mampu membanggakan Indonesia. Akan tetapi untuk mewujudkan hal ini harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah, penggiat pendidikan serta orang tua dengan memberikan pendidikan dasar yang dibutuhkan untuk mengembangkan minat dan bakat anak serta jangan lupa untuk selalu menerapkan empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together dalam mendidik mereka.  

 Sumber gambar : www.abwaba.com

  • view 167