Anak Teknik tidak Selamanya Lupa Kata Sosial

Siti Asiyah
Karya Siti Asiyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Mei 2016
Anak Teknik tidak Selamanya Lupa Kata Sosial

Duduk di belakang himat adalah kebiasaan kami para jombloan sejati yang sedang sibuk mencari cinta. Berbagi keluh kesah baik itu tentang hidup, tentang mata kuliah, bahkan tentang dunia perpolitikan pun jadi. Kami selalu menghabiskan waktu hanya untuk sekedar nongkrong, bercanda dengan teman, atau main remi maupun karambol. Saling menghina karena kejombloan yang tidak berakhir pun sering terjadi. Maklum mayoritas cowok jadi terlihat kering.  Yang sabar yaa ...

Beberapa mahasiswa dari Jurusan tetangga pun merasa aneh melihat tingkah kami. Kami yang masih bisa bercanda bersama dibalik setumpuk tugas yang selalu ada setiap hari. Apalagi setiap jam makan siang  kami jarang makan di kantin yang telah disediakan, tapi malah makan lesehan di belakang himat tanpa alas kardus alias hanya duduk di lantai itu pun jadi. Justru rasanya lebih nikmat. Karena ada kamu yang menemani, iya kamu... kok jadi baper sih?

Kebersamaan kami inilah yang sulit untuk dilupakan. Kami memang dituntut oleh kakak kelas untuk kenal setiap nama teman kami mulai dari awal masuk Jurusan. Tapi banyak manfaatnya lho, terima kasih SAPA yang telah mengenalkan kami arti sebuah kebersamaan. Lebih dari 100 orang kami mengenalnya satu sama lain, mulai dari yang rajin, tomboi, suka tidur di kelas, maupun yang sering isengin teman. Tidak hanya itu adik angkatan dibawah kami 2  tahun pun harus mengenalnya minimal wajah dan namanya. Luar biasa kan jiwa sosial anak tmb? Sedikit lebai gpp lah...

Biarpun kami anaknya badung-badung tapi kami yang paling kreatif lho di Fakultas. Tanpa kalian sadari pendiri batalyon merah adalah salah satu teman kami, juara umum FAC pun dari jurusan kami. Anak teknik tapi berjiwa seni, keren kan? Tapi ilmu keteknikannya masih bersemayam kok pada masing-masing individu. Jadi jangan khawatir kami akan berubah jadi seniman. Bisa sih seniman engineer, dari luar tampak keras tapi jiwanya tetap lembut selembut kapas. Waah jangan pada melayang ya?

********

Hari demi hari terlewati sampai kami meninggalkan diri satu sama lain, tapi jiwa kami tetap selalu bersama. Bahkan pernah suatu ketika ada yang sudah lulus lama tapi dia sengaja main ke belakang himat hanya untuk nongkrong karena kangen dengan suasana semasa kuliah. Untungnya masih ada teman dan adik kelasnya yang di kampus jadi dia tak merasa asing.  

Aku sangat beruntung bisa menjadi bagian dari kalian, dan yang aku salut sampai saat ini pada kalian selain ilmu terdapat jiwa sosial yang masih melekat untuk membantu sesama.  Kalian yang masih selalu menegur sapa satu sama lain, biarpun itu hanya say hai atau meramaikan grup yang tidak karuan juntrungnya. Terkadang sih,  tidak selalu. Hal itulah yang mempersatukan sampai akhir nanti.

Tetaplah menjadi apa adanya dalam bersikap tanpa membeda-bedakan, gapailah mimpi-mimpi kalian selagi ada waktu dan kesempatan, bantulah sesama yang kesulitan dimanapun kalian berada, dan tetaplah menjadi bagian dari keluarga ANTARES. Semoga suatu saat kami akan dipertemukan kembali masih dengan gaya kalian yang sama seperti dulu. 

 

 

  • view 192