Senyum Simpul Lantai Tujuh

Siti Asiyah
Karya Siti Asiyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Mei 2016
Senyum Simpul Lantai Tujuh

Masih teringat sebuah senyuman seorang lelaki berjaket hitam di sebuah Lembaga Pembinaan untuk Santri. Dia seolah-olah sudah mengenal kami begitu dekat padahal baru bertemu untuk pertama kalinya bulan Febuari 2015. Dengan gaya bicara yang luwes dan bersahabat, dia sengaja memperkenalkan diri dan mengaku angkatan 2010 kepada kami. Kami pun mempercayainya karena mukanya memang masih tampak muda dan perawakannya kecil tinggi.  Kami pun bercakap lama dengannya. Sejak saat itulah aku mengaguminya dengan segala  kecerdasan, kelemah lembutan serta  cara menghargai lawan bicaranya tampak terpancar dari dalam dirinya.

Acara pun selesai dan pertemuan kami juga selesai. Dia pun kembali bersama rombongannya dan aku juga pergi bersama temanku. Aku menyesal hanya mengetahui namanya sebagian tanpa tau nama lengkapnya, dimana dia kuliah, angkatan berapa. Arghh... seakan aku kehilangan semangat yang baru saja ku temukan. Waktu berlalu sangat cepat, saat itu aku mencoba mencari informasi tentang dia tapi tak kudapatkan. Entah siapa dia sebenarnya? Batinku masih penasaran sampai hari itu.

******

Bulan berlalu begitu cepat, dan September  2015 telah datang. Waktu itu aku dipanggil ke sebuah kantor di daerah Jakarta Pusat atas perintah dari salah satu Direktur disana. Aku pun kesana bersama temanku, kemudian kami menunggu di sebuah ruangan yang berada di lantai 7. Tak lama kemudian, datanglah seorang yang mengajak kami untuk turun ke lantai 6. Sebut saja namanya Zafran. Pada saat perjalanan menuju lift ke lantai 6, kami memasuki sebuah lorong panjang, dan tiba-tiba orang itu memperkenalkan kami berdua kepada temannya yang memakai kemeja putih.

“Hai, perkenalkan bro ini Asya dan ini Fina” kata Zafran dengan gaya yang sok cool, tapi emang gayanya cool.

“hai, aku Faiz” Kata dia dengan lemah lembut dan senyuman simpul di wajahnya.

“Yauda iz, jangan lama-lama ngobrol sama mereka ntar malah mereka kepincut lagi sama kamu” kata Zafran sambil mengajak kami berlalu.

Arghh... aku seakan tak percaya bisa bertemu dengan dia, iya dia yang aku kagumi dari bulan Febuari lalu. Ternyata dia adalah salah satu staff di kantor itu. Betapa nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Dalam perjalanan aku terus memikirkannya. Sudah menikah belum ya? Dan tanpa sadar Zafran memberi tau kami bahwa dia angkatan tahun 2008 sama seangkatan dengan Zafran tapi beda universitas. Aku pun senang bukan kepalang. Kini sudah ku kantongi mulai dari nama, angkatan, dan universitasnya. Dia adalah salah satu alumni universitas Islam di Jawa Tengah. 

******

Sesampainya di Bogor, aku pun langsung berselancar lewat dunia maya mencari informasi tentang dia dan berhasil ku temukan. Rasanya ingin melayang ke udara. Aku pun mencari informasi apakah dia sudah menikah atau belum. Kalaupun belum apakah dia sedang dekat dengan seorang wanita atau tidak. Tapi aku tidak berhasil mendapatkannya. Aku terus berandai-andai dia belum punya pasangan, tapi batinku mengatakan “bagaimana bisa orang seperti dia belum punya pasangan? Seakan mustahil. Pasti banyak yang kagum sama dia.”

Tanpa sengaja saat aku asyik jadi seorang stalker, aku menemukan ternyata dia belum menikah tapi dia sudah menyukai seorang gadis pujaan. Entah itu masih ada sampai sekarang atau tidak, aku kurang tau kebenarannya. Betapa kecewanya aku melihat hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku baru mengenalnya dan mungkin aku datang terlambat. Aku pun hanya tertunduk lesu. Entah mengapa sejak aku bertemu Febuari 2015 lalu seakan ada chemistry dengannya. Ini benar adanya, karena aku orangnya sulit untuk menyukai (dalam artian hubungan lawan jenis) dengan seseorang. Paling suka cuma kagum habis itu selesai. Tapi dengan Faiz tidak demikian.

*************

Bulan Oktober aku kembali ke kantor itu untuk memenuhi undangan Bapak Kepala bagian. Dan aku kembali bertemu dengannya saat melewati lorong di lantai tujuh. Kali ini dia mengenakan kemeja biru polos dan sangat bersahaja. Dia lagi asyik dengan pekerjaannya sehingga tidak mengetahui saat aku lewat di depannya. Dalam hati aku merasa berbunga-bunga dan terasa lega saat bisa melihatnya. Tetapi hatiku sadar bahwa dia sudah punya gadis pujaan. Saat kembali dari ruang Bapak aku lewat lorong itu kembali dan melihatnya tersenyum ke arahku, masih dengan senyum simpulnya. Arghhh... aku seakan melayang di udara, dan ingin mengatakan kepada dunia betapa manisnya senyuman itu. Hatiku berkecamuk tak menentu, antara bahagia atau terluka. 

“Asya, itu hanya senyuman biasa jangan lebai memaknainya”. batinku berkata

Dalam perjalanan di kereta, aku masih membayangkan senyumnya, dan sampai sekarang pun aku masih mengingatnya. Sebenarnya setelah pulang dari kantor itu, selang 1 bulan aku bertemu dengannya kembali, masih di lembaga pembinaan santri tapi dalam acara yang berbeda. Malam itu, dia memakai sarung dan kemeja abu-abu tanpa peci dan berdiri di depanku. Aku merasa diri ini kaku, tidak bisa bicara dan hanya mendengarkan pembicaraannya dengan temanku. Pagi harinya, tanpa sengaja aku menghampiri temannya yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya dan dia menyambutku dengan senyuman manis, iya senyum simpulnya. Mungkin aku terlalu berlebihan memaknai senyumannya, padahal dia memang murah senyum. Tapi tak apalah, karena sebenarnya aku sedang berurusan dengan temannya, tapi bisa bertemu dengannya itu adalah bonus terindah. 

Arghh... Entah kapan kita bisa  dipertemukan kembali, tentu nuansanya tak akan sama lagi. 

"Semoga saat dipertemukan kamu masih sendiri, Mas. Disini aku masih menunggu datangmu yang tak pasti. Kalaupun kamu sudah punya pasangan, semoga dia adalah pilihan terbaikmu selama ini."  harapku selalu dalam doa

10 Mei 2016

Sumber gambar : http://pora-valit.livejournal.com/3595157.html

  • view 346